Jutaan Curhat Para Perawat dan Bidan, STR Ini “Membunuhku”

Senyumperawat.com – STR, sebuah sertifikat yang memiliki maksud baik namun belum terasa baik bagi para perawat. Dulu, paradigma yang mengalir di masyarakat adalah sekolah kesehatan itu pasti makmur. Kerja tejamin dan jenjang karirnya jelas. Kini semua itu terbantahkan sudah. Dulu para perawat sebatas mengelus dada terhadap besaran gaji yang belum bisa dibilang sejahtera. Namun dengan STR, bukan hanya mengelus dada tapi juga mungkin mengelus dompet.

Gaji tidak seberapa, harus mencari sertifikat 25 SKP

Kondisi ini semakin menyudutkan perawat. Seminar yang tak murah, mengakibatkan perawat mesti rela memangkas uang makan bulanan. Tentu tidak berimbang antara pendapatan dengan pengeluaran.

Apakah seminar bersertifikat SKP dijadikan bisnis?

Polemik ini juga memunculkan tanda tanya:

  1. Kenapa mayoritas acara seminar dan pelatihan diselenggarakan oleh EO swasta dengan profit?
  2. Kenapa bukan PPNI saja yang mengadakan seminar dan pelatihan?
  3. Bukankah PPNI ada hampir di setiap DPD?
  4. Bukannya jadi lebih mahal jika diselenggarakan oleh EO profit dibandingkan jika PPNI yang mengadakan?
  5. Atau kenapa bukan instansi resmi pemerintah semisal RSUD saja yang menyelenggarakan kegiatan sehingga ada sedikit subsidi jika benar profesi perawat diakui negara?

Itu sekedar pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Semoga ada penjelasan yang bisa menjadi pencerah.

Mari simak curhat para perawat dan bidan terkait STR

Masih banyak lagi curhatan para perawat dan bidan terkait STR. Namun dari sekian banyak, boleh jadi ini sudah mewakili.


Destur Purnama Jati, S.Kep

Perawat sekaligus seorang penulis dan juga suka bergabung dalam event organizer. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan seprofesi dan juga para pembaca.

Related Articles

1 thought on “Jutaan Curhat Para Perawat dan Bidan, STR Ini “Membunuhku””

  1. Nasib perawat yang tertindas. Padahal kita sbg perawat di tuntut bekerja maksimal ( sebagian adalah gerakan hati ) tidak nyaman rasanya kt yg memiliki keterampilan hanya berdiam diri melihat org lain yg sakit membutuhkan kita, tanpa perawat dan tenaga kesehatan lainnya RS itu tdk berharga dan jg sebaliknya, saling memerlukan, sbg tenaga kontrak apakah kt sdh cukup sejahtera ? Apalagi sy ada membaca topik ttng denda STR Rp200jt bukanlah nominal yg sedikit. Namanya jg mau bekerja “uang bkn segalanya tp segalanya terkadang butuh uang” byk pasien atau gak penghasilan yg di dapat yah kurang lebih aja jd terima saja dipaksakan jg mau apa. Mohon maaf jika ada kesalahan (Sekedar share)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker