20 Tahun Bekerja Melayani Pasien, Tapi Perawat Digaji Tak Layak

0
Perawat dan Direktur RS Herna dan instansi terkait saat sedang mengikuti RDP di Ruang Komisi E DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol, Medan, Selasa (8/8/2017).
Perawat dan Direktur RS Herna dan instansi terkait saat sedang mengikuti RDP di Ruang Komisi E DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol, Medan, Selasa (8/8/2017).

Senyumperawat.com – Puluhan orang yang didominasi kaum wanita mengenakan seragam hijau memadati Ruang Komisi E DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol, Medan, Selasa (8/8/2017).

Mereka adalah perawat yang telah bekerja belasan hingga puluhan tahun di Rumah Sakit Herna Medan. Namun tidak mendapatkan upah layak.

Pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama, Dinas Kesehatan Provinsi Sumut, Dinas Kesehatan Kota Medan, Dinas Sosial Tenaga Kerja Kota Medan, Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi Sumut, terkuak RS Herna tidak membayarkan gaji perawat sesuai Upah Mimimum Kota (UMK). Padahal, mereka telah mengabdi selama belasan hingga puluhan tahun di Rumah Sakit Herna.

“Masa kerja lima tahun sampai dengan 20 tahun tak ada bedanya. Gaji pokok mereka hanya Rp 1,6 juta ini pun baru saja naik. Itu diberlakukan ke semua tingkatan atau berbagai profesi yang ada,” ujar Kuasa Hukum perawat RS Herna, Romy Sirait di hadapan Pimpinan Rapat dan Direktur Rumah Sakit Herna, dr Sahat Simanungkalit.

Menurutnya, karyawan bukanlah menuntut kenaikan gaji. Namun, pihak Manajemen RS Herna sebaiknya membayar gaji mereka sesuai ketentuan yang berlaku atau setara Upah Minimum Kota (UMK).

Dia memaparkan, untuk merealisasikan tuntutan kliennya, mereka sudah pernah mengajukan surat secara reami kepada Dinas Tenaga Kerja Provinsi Sumut pada 6 Maret 2017. Menurutnya, Pihak Disnaker juga mengaku telah mendapatkan fakta di lapangan persis dengan apa yang ia adukan, kalau manajemen RS Herna memang benar tidak mengupah perawat tak sesuai dan melanggar UU ketenagakerjaaan.

“Pada 26 April owner berjanji akan memenuhi tuntutan. Tapi hanya bayar tambahan gaji Rp 100 ribu. Karenanya ini tak ada solusi, maka kami ambil langkah-langkah. Kami ingin menguji kontrol legislatif terhadap eksekutif. Kenapa Disnakernya kecolongan. Padahal sudah puluhan tahun ini terjadi,” tambahnya.

Menjawab persoalan tersebut, Manik, dari Disnaker Provinsi menjelaskan. Katanya, mereka tidak memperlama proses penyelesaian. Bahkan, memberikan kesempatan kepada RS Herna agar persoalan antara pengelola RS dapat diselesaikan dengan Perawat.

“Kami bukan bermaksud melama-lamakan. Tapi di sana disepakati, manajemen akan membuat pertemuan. Dan ketentuannya, dibuat tanggal 25 Juli. Tapi sejak tgl 25 hingga sekarang tak ada hasil yang kami dengar dari kedua belah pihak,” jelasnya.

Satu dari Perawat, Renta Hutapea juga menyampaikan keluhannya. Merasa tidak diperlakukan layak oleh pihak Rumah Sakit, mereka terpaksa menyampaikan berbagai persoalan yang menimpa mereka kepada pimpinannya, pada Maret 2017 lalu, namun hingga kini belum mendapat titik terang.

“Pada 20 Maret lalu, lima orang pertama dipanggil. Jadi kami tak mau kasih keputusan dan kami maunya biar semua karyawan juga diundang. Tgl 29 jadi rapat untuk semua karyawan. Kesimpulannya, kata Direktur, Biar bersatu dulu owner doakanlah supaya seluruh owner bersatu,” sebutnya menirukan ucapan Dr Sahat Simanungkalit pada RDP itu.

Katanya, selama ini mereka selalu kekurangan upah saat penggajian. Bahkan, ia menilai pembayaran upah sesuai masa kerja, prestasi kerja dan jabatan serta hak-hak lainnya sesuai peraturan ketenagakerjaan yang berlaku juga tak mereka dapatkan.

“Kerja lima tahun sampai dengan 20 tahun tak ada bedanya,” ujar wanita bertahi lalat di pipi ini.

Direktur RS Herna, dr Sahat Simanungkalit tidak menepis segala tuntutan yang disampaikan pada RDP itu. Dia juga tak berkata banyak.

“Saya hanya diangkat pejabat sementara sejak 6 februari 2017. Saat saya menerima jabatan ini, kondisi RS memang sudah di bawah titik nadir,” sebutnya. Jadi, memang kita memikirkan apa yang diutarakan para karyawan.

Kata Sahat, saat ini RS Herna tidak bisa memenuhi tuntutan karyawannya. Alasannya, kondisi keuangan RS Herna sedang anjlok.

“Baik itu jumlah pasien yang datang, dan sewaktu saya menerima, jumlah pasien juga anjlok. Bahkan sampai ada 20 orang saja. Kita tak mungkin memenuhi permintaan karyawan. Harus ada dulu peningkatan pendapatan,” ucapnya.

Kepada Tribun, beberapa Perawat yang hadir mengaku terbebani akibat penggajian yang tak sesuai. Perawat yang tak mau disebutkan namanya, berinisial DS yang telah bekerja selama 12 tahun terakhir. Katanya, selain penggajian yang tak sesuai UMK, jadwal bekerja di tanggal merah tidak dihitung dengan lembur.

“Enggak ada dapat lembur, cuma diganti libur,” ujar perempuan berusia 42 tahun ini.

Akibat gaji yang tak memadai, dia terpaksa mencari kerja sampingan seperti berjualan tupperware. Kalau tidak, tak akan dapat menyekolahkan putri semata wayangnya, apalagi dia sudah menjanda selama 13 tahun.

Menurut penuturannya, kalau ada kesalahan karyawan pihak rumah sakit tak mau memecat. Mereka, malah disuruh mengundurkan diri, meskipun usianya sudah tua guna menghindari pesangon PHK sesuai ketentuan.

Dua perawat lainnya, berinisial R dan HS juga membeberkan hal kasus yang tak jauh berbeda.

HS yang telah bekerja 10 tahun ini menjelaskan, ia tidak mendapat hak cuti melahirkan.

Menurut HS yang berusia 30 tahun ini, cuti melahirkan seharusnya berlaku tiga bulan. Satu setengah bulan sebelum dan satu setengah bulan setelah melahirkan.

“Tetapi ini malah dipotong dari cuti tahunan dan hanya diberikan pas melahirkan. Disitulah mulai dihitung sampai 40 hari ke depan,” terangnya.

Tak hanya itu, menurutnya mereka juga tidak memperoleh hak jaminan hari tua serta tunjangan intensif lembur tidak pernah ada. “Terakhir lima tahun yang lalu. Uang makan dan fuding dinas malam sudah dihapuskan sejak dua tahun terakhir,” terang wanita berusia 30 tahun ini.

R, petugas oksigen yang bekerja 20 tahun terakhir tak ketinggalan menuturkan, penggajian yang tak sesuai menurutnya sangat tidak adil. Apalagi, biaya hidup untuk kedua anaknya harus ia nafkahi setiap bulan.

“Dengan gaji segini enggak cukup. Apa yang bisa dikerjakan yah dikerjakanlah. Sedikitnya empat juta untuk biaya rumah tangga,” jelas pria berusia 43 tahun ini. (Destur/Tribun)

Tinggalkan Komentar