Tokoh Muslim Uzbekistan: Dokter Kandungan Seharusnya Wanita Bukan Pria

dokter kandungan wanita dan pria

Senyumperawat.com – Dokter kandungan sudah sangat berkembang saat ini. Atas perkembangan ilmu pengetahuan dibidang kesehatan, sudah banyak ibu dan anak terselamatkan. Namun memang dalam Islam, ada beberapa hal yang memerlukan kajian lebih mendalam. Seperti misalkan banyaknya dokter kandungan pria. Padahal, meskipun dalam kondisi darurat boleh saja berobat lawan jenis, alangkah lebih aman jika diantisipasi sejak awal. Langkah antisipasinya tentu dengan mendorong para dokter wanita untuk mengambil spesialisai obstetri dan ginekologi.

Seorang imam di Uzbekistan dihujani kritik di media sosial setelah dia menyeru seharusnya dokter kandungan pria ditiadakan dan pekerjaan itu seyogyanya hanya dilakoni oleh perempuan.

Muat Lebih

“Sebuah tugas menantang lain, yang harus kita kaji ulang sekarang ini adalah ginekolog pria. Ini harus dihentikan,” kata Rakhmatulloh Saifuddinov, seorang imam di ibukota Tashkent, seperti dilansir RT Kamis (6/4/2017) dari portal berita Mehrob.Video ceramah Saifuddinov itu diunggah di laman Facebook Mehrob.

“Cukup! Kita sudah muak dengan fenomena memalukan ini di era totalitarianisme,” imbuhnya.

Menurut Saifuddinov, di masa ketika Uzbekistan menjadi bagian dari Uni Soviet, banyak nilai bangsa Uzbek “digerus.” Dia menambahkan, kala itu ginekolog pria dianggap sebagai hal biasa dan bahkan banyak perempuan berpikir bahwa dokter kandungan pria lebih baik daripada dokter kandungan wanita.

“Sekarang kita sudah merdeka, bebas, dan seharusnya malu kepada diri kita sendiri. Kita perlu [segera] mencegah hal-hal demikian,” kata Saifuddinov, yang kabarnya juga menjadi pengajar di Al-Bukhari Islamic Institute di Tashkent.

Di era kekinian di mana media sosial menjadi mimbar orang bebas berteriak, pernyataan Saifuddinov itu langsung disambit kritikan bertubi-tubi.

“Apakah kita hidup di zaman batu?” tulis seorang pengguna media sosial, seperti dikutip RT.

“Ketika menyangkut kesehatan seseorang, tidak masalah apakah yang akan merawatnya seorang pria atau wanita,” kata yang lain.

“Seorang spesialis dibedakan dengan sikap profesionalnya, bukan dengan gendernya,” saut seorang lainnya.

Sejumlah orang lainnya mempertanyakan, apakah imam itu selanjutnya akan melarang dokter urologi wanita dan proktologis wanita -yang khusus menangani gangguan kesehatan di bagian rektum dan anus. (Destur/Hidayatullah)

Pos terkait