Surat Tanda Registrasi (STR) Dianggap Sebagai “Pembunuh” Oleh Mahasiswa Kesehatan

Senyumperawat.com – Surat Tanda Registrasi (STR) yang menjadi syarat utama lulusan tenaga kesehatan untuk melamar pekerjaan dianggap menjadi ‘pembunuh’ oleh mahasiswa tenaga kesehatan (nakes). Pasalnya, biaya dan proses pengurusan STR tersebut menjadi penghalang mereka bisa segera mendapatkan pekerjaan. Demikian pengakuan beberapa mahasiswa salah satu kampus kesehatan di Mataram pada suarantb.com, Jumat, 9 September 2016.

“Sekarang ijazah kami bisa dikatakan tidak ada gunanya, persyaratan nomor satu kalau mau lamar pekerjaan itu STR. Ijazah itu syarat nomor sekianlah,” jelas salah seorang mahasiswa, Roby Farmadi.

Proses pengurusan STR sendiri bisa dikatakan tidak mudah dan murah. Selain dituntut belajar keras, karena ada tes yang harus dijalani, para calon perawat juga harus menyediakan uang yang tak sedikit untuk mendapatkan STR.

“STR ini sepertinya sudah dijadikan ladang bisnis. Mau daftar tes bayar, ikut tes bayar, setelah lulus mau ambil sertifikat juga bayar. Kalau lulus tes, sertifikatnya juga baru jadi berbulan-bulan kemudian. Ada yang enam bulan, delapan bulan,” keluhnya.

Selain itu, waktu pelaksanaan ujian STR ini juga hanya dua kali dalam setahun. Jadi, jika tes pertama gagal, harus menunggu lagi enam bulan kemudian untuk bisa tes. “Jadinya waktu kami habis buat menunggu STR, jadinya tidak bisa cari kerja juga,” ujarnya.

Setelah mendapatkan STR, tidak serta merta para nakes ini terbebas dari masalah. STR yang sudah diperoleh harus diperpanjang setiap lima tahun sekali. Dengan syarat harus mengumpulkan 25 Satuan Kredit Profesi (SKP) yang diperoleh dari mengikuti seminar-seminar kesehatan.

STR ini sendiri hanya berfungsi sebagai tanda bahwa seorang perawat sudah terdaftar di Persatuan Perawat Indonesia (PPI). Hanya untuk mengabdikan diri, jalan yang ditempuh seorang perawat dinilai sangat rumit. (Destur/Suarantb)

Destur PJ ,S. Kep :Perawat sekaligus seorang penulis dan juga suka bergabung dalam event organizer. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan seprofesi dan juga para pembaca.

This website uses cookies.