Sosok Perawat Mujahidah di Negeri Syam

0
perawat mujahidah

Senyumperawat.com – Menjadi seorang perawat memang dituntut untuk mengamalkan ilmunya. Terlebih sebagai seorang muslim, harus diamalkan dengan niat menolong agama Allah. Seperti sosok perawat mujahidah di negeri Syam. Ia adalah seorang ibu-ibu yang profesinya semula adalah seorang perawat. Konflik di negeri itu yang terus berkecamuk, mengetuk hatinya untuk mengamalkan ilmunya sebagai seorang perawat mujahidah. Sang perawat mujahidah tersebut bernama Ummu Yahya.

Ibu yang pada awalnya berkerja sebagai seorang perawat. Kemudian ketika Pasukan rezim mulai menembaki peserta aksi damai di Ghouta timur, dia membantu para pejuang oposisi, meskipun begitu tugasnya sebagai seorang ibu tidak dilupakan.

Dia mengatakan keponakannya memintanya untuk membantu para pejuang oposisi dengan merawat orang-orang yang terluka karena pengalamannya sebagai perawat. Saat itu, ia membuka rumah sakit lapangan kecil di rumahnya dengan bantuan suami dan anak-anaknya.

Suatu hari di tahun 2012 saat dia membawa seorang wanita hamil dari Ghouta Timur ke salah satu rumah sakit di Damaskus, dia ditangkap dengan tuduhan membantu istri seorang “teroris”.

Dia ditahan selama tiga bulan dimana dia mengalami berbagai jenis penyiksaan dan penghinaan sebelum pasukan keamanan rezim melemparkannya, pingsan, di alun-alun al-Abbasiyin.

Dia menjelaskan bahwa setelah sembuh, dia sekali lagi memulai pekerjaan sebagai perawat, seperti yang dikutip oleh laman zamanalwasl.

Dia berhasil mendirikan sebuah rumah sakit lapangan besar di daerah Ein Tirma di Ghouta Timur yang disebut sebagai Rumah Sakit al-Hajja Ummu al-Thawar. Selain di rumah sakit, dia mendirikan beberapa titik medis di distrik Jobar.

Ummu Yahya menjelaskan bahwa dia buru-buru membuat titik darurat medis setiap kali pejuang oposisi menyerbu sebuah kota atau daerah di Ghouta Timur.

Dia berkata,”Pasukan rezim berulang kali menargetkan titik-titik medis tersebut, dan kehilangan banyak anggota staf medisnya karena bombardemen”.

Ummu Yahya menegaskan bahwa pada bulan Juni 2016, pasukan rezim menargetkan salah satu titik medisnya di lingkungan Jobar dan mereka menghancurkannya hingga rata dengan tanah.

”Serangan tersebut menghancurkan titik medis dan ambulan serta membunuh staf medis” ungkap Ibu 4 anak ini. Dan orang-orang yang terluka datang untuk mendapatkan bantuan medis.

Ketika pasukan rezim mulai maju di daerah tersebut dan membunuh lebih banyak warga sipil, Ummu Yahya memutuskan untuk terjun langsung memanggul senjata dan bergabung dengan Brigade Haroon al-Rashid.

Ummu Yahya, bersama beberapa wanita lain yang juga mantan tahanan, bertindak sebagai penyidik dan berkontribusi untuk membeli senjata bagi para pejuang oposisi saat mereka membentuk Brigade Martir Yasin Mahanayet.

Menurut Ummu Yahya, ”Saat ini sedang membentuk brigade bersenjata wanita bernama ‘Pembebasan Ghouta Timur’ yang terdiri dari 50 wanita yang terlatih sebagai penembak jitu hingga menggunakan peluncur roket RPG”.

Ketika ditanya alasan membentuk brigade ini, Ummu Yahya menjelaskan bahwa tujuan utamanya adalah untuk membangunkan manusia dari masa tidur mereka dan membuktikan peran penting yang dimainkan wanita di Ghouta Timur, yang tidak kalah pentingnya dari peran pria. (Destur/voai/lasdipo)

Tinggalkan Komentar