Perokok Lebih Sulit Dapat Kerja, Baca Jawabannya di Sini!

Senyumperawat.com – Sebuah riset menemukan bahwa para perokok yang tidak memiliki pekerjaan akan lebih sulit dapat kerja. Kalaupun mereka diterima di sebuah perusahaan, maka penghasilan yang mereka terima akan lebih rendah dibandingkan kolega mereka dengan posisi yang sama, yang tidak merokok.

Dalam riset yang diadakan di kawasan pantai San Fransisco, di antara pengangguran yang terdata di wilayah tersebut, sebanyak 30 persen dari mereka mendapatkan pekerjaan dalam waktu satu tahun. Menariknya, angka 30 persen itu adalah para pengangguran yang sama sekali tidak merokok.

Kondisi tersebut, dianggap sama dengan hasil penelitian JAMA Internal Medicine, yang menyebut merokok tak hanya merusak kesehatan fisik, tapi juga bisa menghancurkan kemampuan finansial. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Penelitian Stanford Prevention Research Center di California, Judith Prochaska.

“Bahaya kesehatan dari merokok telah ada sejak lebih dari 50 tahun lalu. Dan kini, banyak bukti yang menunjukkan bahwa merokok juga merusak kesuksesan Anda di lingkungan kerja hingga mengurangi gaji Anda,” ujarnya kepada Reuters.

Riset terkini juga menemukan kaitan antara merokok dan pengangguran. Namun, riset tersebut tidak dapat memastikan apakah perilaku merokok dimulai seseorang sebelum dia menjadi pengangguran, atau merokok sebagai kebiasaan yang dilakukan orang ketika mereka kehilangan pekerjaan.

Hasil riset

Studi yang baru saja dilakukan melibatkan 251 pengangguran yang menjadi responden antara tahun 2013 dan 2015. Di antara ratusan orang tersebut, sebanyak 131 orang adalah perokok aktif dan 120 sisanya sama sekali tidak merokok.

Setelah menghitung faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perekrutan, seperti kepemilikan rumah, transportasi dan catatan kriminal, ternyata masih ada 24 persen selisih antara pekerja perokok dengan tidak merokok yang mudah mendapat pekerjaan.

Lebih jauh lagi, di antara pekerja perokok dan tidak itu, ditemukan bahwa para perokok menerima pendapatan kurang dari US$5 per jam, atau sekitar Rp65ribu, dibandingkan dengan koleganya yang tidak merokok. Prochaska mengatakan, studi ini tidak akan menentukan alasan terjadinya perbedaan yang dialami perokok dan bukan perokok.

Tak sampai di situ, studi yang dilakukan juga menemukan bahwa perokok lebih banyak meminta izin sakit dan lebih mudah terdistraksi saat bekerja.

“Satu hal yang kami temukan dalam sampel ini adalah perokok lebih memprioritaskan pengeluaran mereka pada rokok, dibandingkan dengan aspek yang dapat membantu pencarian kerja mereka, seperti ponsel, pakaian baru ataupun perawatan wajah,” ujarnya. (Destur/CNN)


Destur Purnama Jati, S.Kep

Perawat sekaligus seorang penulis dan juga suka bergabung dalam event organizer. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan seprofesi dan juga para pembaca.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker