Ketika Perawat Muslimah Ingin Berjilbab Syar’i (Gamis & Jilbab Lebar) Tapi Kebijakan Rumah Sakit Melarang

Ketika Perawat Muslimah Ingin Berjilbab Syar'i (Gamis & Jilbab Lebar) Tapi Kebijakan Rumah Sakit Melarang

Senyumperawat.com – Menjadi seorang muslimah dituntut untuk menutup aurat dengan sempurna. Istilah jilbab pun bukan sekedar penutup kepala sedangkan aurat lain masih dibiarkan menonjol. Sebagai seorang perawat muslimah, kendati pun mencari kerja itu sulit namun tetap agama harus diprioritaskan. Jangan sampai sebagai seorang perawat muslimah justru terjebak dalam kecintaan terhadap dunia. Akhirnya ia merelakan tubuhnya dibalut pakaian serba ketat dan membentuk lekuk tubuh sedangkan agamanya melarang. Jangan sampai seorang perawat muslimah tidak menerapkan kewajiban menutup aurat hanya karena urusan pekerjaan. Sungguh rejeki dari Allah dan tempat lain yang membolehkan jilbab syar’i sebagai perawat muslimah masih banyak. Termasuk pekerjaan yang tidak perlu sampai meninggalkan kewajiban menutup aurat dengan sempurna.

Bagaimana seharusnya seorang perawat muslimah mempertahankan jilbab syar’inya?

Pertanyaan:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Muat Lebih

afwan ana mau bertanya : saat ini ana belum bekerja, ana lulusan perawat, masi menimbang nimbang pekerjaan yang tidak melanggar syariat dalam islam, terlebih ana sebagai wanita yang mempunyai kewajiban untuk menutup aurat. Ana bingung, di satu sisi orang tua mengharapkan ana bisa bekerja, dan mereka tidak mempermasalahkan tempat kerja nya asal membolehkan berjibab, dan di sisi lain, ana berusaha memegang teguh jilbab syar’i yang ana pakai saat ini. Sementara di rumah sakit khusus nya rumah sakit swasta tidak memperbolehkan perawat memakai jilbab yang syar’i. Mohon berikan ana penjelasan, apakah ana harus menuruti orang tua atau mempertahankan ketentuan jilbab yang telah dituliskan dalam Al Quran, syukron,

جَزَاك اللهُ خَيْرًا

(Dari Nurul D.K di Palembang Anggota Grup WA Bimbingan Islam T06 G-05)

Jawab:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Baarakallaahu fiiki ukhti, semoga Allah memberi anti keistiqomahan dalam menjalankan syariat-Nya di tengah banyaknya fitnah syubhat dan syahwat ini. Banyak-banyaklah berdoa kepada Allah agar memberi hidayah kepada kedua orang tua yang mungkin belum faham tentang hakikat jilbab syar’i dalam islam. Kebetulan saya punya sebuah buku berjudul “Samudera Hikmah di Balik Jilbab Muslimah” yang insya Allah bisa menjadi referensi dalam menasehati orang tua, atau cobalah anti belikan 1 dan hadiahkan kepada orang tua.

Intinya, jelaskan kepada orang tua dengan baik-baik, bahwa kita ini menjalankan agama bukan menurut si anu atau si fulan, namun menurut aturan Allah dan Rasul-Nya. Nah, diantara ajaran agama yang harus diamalkan berdasar aturan Allah dan Rasul-Nya tadi ialah aturan dalam berpakaian. Untuk wanita muslimah, hakikat jilbab syar’i bukan seperti yang sering kita lihat di luar sana.

Dan dalam melaksanakan agama, jangan sampai kita hanya berdasarkan opini/persepsi yang bisa benar dan bisa salah, namun harus berdasarkan ilmu, alias dalil yang bisa dipertanggung jawabkan di hadapan Allah. Kalau tidak seperti ini caranya, kita bakal jadi orang yang menyesal karena boleh jadi apa yang ‘kita anggap benar’ selama ini ternyata adalah ‘kebatilan’, atau apa yang ‘kita anggap ibadah’ ternyata adalah ‘maksiat’ Lantas, apakah yang menjamin bahwa anggapan atau persepsi kita selama ini adalah benar ? Tidak lain dan tidak bukan adalah ilmu yang berdasarkan dalil yang akurat. Ini harus menjadi konsep utama kita dalam beragama.

Bila hal ini sudah bisa diterima oleh orang tua anti, maka jelaskan bahwa ilmu haruslah diambil dari ahlinya. Bukan dari sembarang orang. Sebagaimana kita tidak boleh belajar ilmu kedokteran kecuali dari dokter, maka kita tidak boleh belajar agama kecuali dari ahli agama. Makanya, rujukan kita dalam memahami perintah dan larangan dalam agama adalah para ulama, bukan menurut Si A atau Si B yang belum diakui keilmuannya.

Nah, ketika kita merujuk ke penjelasan para ulama, maka kita dapati bahwa kriteria jilbab syar’i itu seringkali belum terpenuhi oleh mereka yang hari ini dianggap pakai jilbab. Itu semua dapat anti temukan dalam buku yang tadi ana sebutkan.

Dengan demikian, mereka yang pakai jilbab namun pakai celana panjang, atau jilbabnya pendek, atau dibarengi dengan ikhtilat, khalwat, menyingkap wajah, lengan, mata kaki, dan seterusnya atau jilbabnya bermotif dan berhias bordir, dan sebagainya sebenarnya belum berjilbab sesuai syariat. Sehingga masih terancam mendapatkan siksa Allah jika tidak segera bertaubat dan beralih ke jilbab syar’i.

Dan berangkat dari sini, jika orang tua kita menyuruh kita melakukan sesuatu dengan konsekuensi kita harus meninggalkan jilbab syar’i, maka ini termasuk maksiat yang tidak perlu ditaati.

Adapun rezeki maka tidak perlu dirisaukan, karena itu di tangan Allah dan pasti sampai kepada kita selama kita masih hidup. Jadi, janganlah seseorang mempertaruhkan nasibnya di akhirat (yang tidak dijamin oleh Allah apakah pasti selamat ataukah tidak) demi sesuatu yang telah Allah jamin pasti dia dapatkan di dunia ini (yakni rezeki sebagai makhluk hidup). Tidak mungkin Allah menutup semua pintu rezeki bagi orang yang taat menjalankan syariat-Nya sekali lagi itu tidak mungkin bin mustahil. Kalau ada yang punya keyakinan demikian, berarti dia harus istighfar dan segera bertaubat karena imannya sedang kritis.

Justru Allah menjelaskan dalam surat Ath Thalaq ayat 2-3 bahwa barangsiapa bertakwa kepada Allah maka Allah akan beri dia jalan keluar dan rezeki dari arah yang tak terduga.

Justru orang yang banyak bermaksiat lah yang semestinya mengkhawatirkan nasibnya di dunia dan akhirat, karena maksiat itu membawa kesialan dan musibah. Sebagaimana yang Allah sebutkan dalam QS Asy-Syuura: 30.

Pekerjaan halal masih banyak, walaupun mungkin tidak begitu menjanjikan dari segi gaji tapi ingatlah, bahwa besarnya gaji bukanlah jaminan kebahagiaan. Kebahagiaan hakiki ada pada iman dan ketaatan kepada Allah.

Akan tetapi, sudah menjadi aturan Allah dalam hidup ini bahwa iman kita harus diuji terlebih dahulu baru akan diterima oleh Allah bila kita lulus ujian. Di antara ujian tersebut adalah bahwa orang yang hendak menjalankan perintah Allah akan banyak mendapat cibiran, kecaman, dan tekanan dari sana-sini.

Mungkin dia akan mengalami beberapa kesulitan dari segi ekonomi, sosial, dan lain-lain ini semua dalam rangka menguji kesungguhannya dalam menjalankan agama, dan apakah niatnya benar-benar ikhlas demi mencari ridha Allah dan keselamatan di akhirat; ataukah karena tendensi duniawi? Tanpa adanya ujian ini, apa yang menjadi keistimewaan orang yang sungguh-sungguh dengan yang hanya main-main? Mungkinkah seseorang dianggap lulus SD ketika dia sesumbar dan teriak-teriak bahwa dirinya sudah faham semua pelajaran tanpa dites terlebih dahulu?

JELAS TIDAK! Maka demikian pula kita yang setiap hari bolak-balik mengatakan dua kalimat syahadat itu tidak akan serta merta diterima oleh Allah, kecuali setelah kita diuji dan lulus ujian. Yakinlah, bahwa di balik kesulitan yang awal-awalnya kita hadapi dalam rangka menjalankan syariat Allah tersebut, pasti akan diikuti oleh dua kemudahan sekaligus, ini adalah janji Allah dalam surah Al Insyirah. Jadi, ini hanya masalah waktu dan kesabaran kita saja, serta bagaimana kita menyikapi ujian-ujian tersebut. Wallahu a’lam. (Destur/Bimbinganislam.com)

Keterangan:
Ana: kata ganti dalam bahasa Arab yang berarti saya/aku
Anti: kata ganti dalam bahasa Arab untuk orang kedua tunggal wanita yang berarti anda/kamu
Ikhtilat: istilah dalam bahasa Arab yang berarti campur-baur lelaki dan perempuan
Kholwat: istilah dalam bahasa Arab yang berarti berduaan lelaki dan perempuan

Pos terkait