Membuka Peluang Kerja Mantan TKI Perawat, Maklum di Indonesia Ijazah Perawat Dihargai Murah

0
mantan tki perawat

Senyumperawat.com – Selesai masa kontrak menjadi TKI perawat di negeri orang, otomatis harusnya sudah membidik profesi apa yang hendak dijalani kemudian. Dengan bermodalkan gaji TKI perawat, tentu tidak sedikit nilainya. Untuk membangun sebuah klinik mandiri rasanya tidaklah sulit. Sobat-sobat seprofesi yang sekiranya berpandangan demikian, tentunya sudah berencana jauh hari sebelum berangkat ke luar negeri. Namun, boleh jadi tidak sedikit pun yang belum merencanakannya. Terlepas dari itu semua, biasanya bagi yang masih sendiri belum punya pasangan ingin segera mengakhiri masa jomblo.

Seorang pemerhati sosial, Ferry Effendi yang berasal dari Universitas Airlangga Surabaya memberikan sedikit wacana. Ia berpendapat bahwa para TKI perawat yang pernah bekerja sebagai juru rawat lansia bisa diberdayakan kembali di dalam negeri. Ia mengatakan bahwa pemerintah dapat mengintegrasikan antara pekerjaan TKI perawat sebagai juru rawat lansia untuk kemudian menjadi pioner pembangungan lingkungan perumahan khusus lansia.

Geriatric nursing menurut Ferry, dapat dijadikan modal guna mengembangkan konsep tersebut.

“Kalau konsep ini sudah jalan, maka mantan-mantan TKI bisa bekerja sesuai keahlian mereka di negeri sendiri. Saat ini pemerintah Indonesia butuh investor asing untuk mengembangkan konsep tersebut,” ujarnya seperti dikutip dari kantor berita Antara di Jakarta, Minggu malam, (20/3/2016).

Menurut data yang disampaikannya, ada sebanyak 235 unit panti sosial Tresna Werdha di Indonesia. Terdapat pula Puskesmas ramah Lansia yang tersebar di 28 propinsi.

Sarana lowongan kerja bagi mantan TKI perawat

Adanya pendayagunaan mantan TKI perawat yang pernah bertugas di panti jompo semisal Jepang, akan sangat potensial jika pemerintah merekrutnya sebagai proyek baru. Proyek tersebut adalah pembaharuan pelayanan kesehatan di panti jompo yang sudah ada di Indonesia. Sekaligus pula menyelamatkan nasib perawat yang masih banyak menganggur di dalam negeri.

Memang benar ketika pulang, mereka sudah banyak mengantongi dollar. Tapi akan lebih baik lagi jika pengalaman kerja yang penuh disiplin semisal di Jepang bisa dimanfaatkan. Peningkatan mutu pelayanan di panti jompo meskipun tidak sama seperti di Jepang, namun setidaknya bisa tertular kedisiplinannya. Di lain sisi memang, jumlah lansia yang masuk panti jompo di Indonesia tak sebanyak di negara-negara itu.

Merencanakan peluang kerja setelah menjadi mantan TKI perawat

Polemik memang, mengingat jumlah lulusan perawat dengan jumlah lowongan kerja di Indonesia tidak seimbang. Bahkan menurut data BNP2TKI, setidaknya puluhan ribu lulusan perawat menjadi pengangguran. Bisa kita lihat sendiri, jumlah kampus kesehatan sangat banyak. Mulai dari yang baru dibangun hingga yang sudah tua. Masing-masing meluluskan mahasiswanya hingga jumlah ratusan. Sedangkan jumlah kampusnya pun ratusan hingga ribuan di seluruh Indonesia.

Di sisi lain, jika pun diterima di sebuah instansi tertentu kadang masih ada yang digaji sangat tidak layak. Akhirnya banyak perawat banting setir. Kondisi ini diperparah dengan regulasi STR yang hingga saat ini masih menjadi polemik.

STR meningkatkan kualitas tapi….

Bagi sebagian besar mahasiswa, STR perawat adalah selembar kertas yang harganya tak sebanding dengan durasi mereka kuliah. Sudah kuliah 3-4 tahun, tapi harus kandas oleh karena STR. Bukan perkara yang sepele, UKOM (Ujian Kompetensi) perawat yang diselenggarakan dalam setahun pun sangat terbatas. Jadi jika belum bisa lulus tahun ini, besar kemungkinan baru bisa ikut tahun depan. Kendatipun lulus tahun ini, boleh jadi STR selesai diproses setelah berbulan-bulan berikutnya.

Apakahb mencari kerja harus pakai STR yang mendapatkannya saja sesulit itu? Akhirnya, lagi-lagi banyak perawat yang urung diri dari profesinya. Ada yang jualan buah, jualan alkes, membuat EO (Event Organizer) dan banyak lagi lainnya.

Pertanyaan besarnya adalah

Apakah mereka kuliah lama di kampus keperawatan bukan untuk jadi perawat?

Tentu cita-cita tiap orang berbeda. Ada yang memang ingin menjadi orang yang profesional lalu kemudian ia masuk perguruan tinggi. Tapi nyatanya, hari ini banyak sekali pengangguran berijazah. Mungkin memang catatan takdir tiap orang berbeda. Tidak selamanya seseorang menjadi seperti apa yang diinginkan.

Sebagai antiklimaks, regulasi demi regulasi dibuat untuk meningkatkan kualitas. Namun di balik segala regulasi itu harus ada peningkatan mutu pelayanan. Cukup bisa dinilai tidak seimbang ketika Anda misalkan menjadi perawat di lapangan diberi beban kerja 3 jadwal jaga. Namun keringat Anda itu hanya dinilai Rp 200 ribu sebulan.

Syukuri apa yang ada, betul. Namun di setiap syukur itu ada upaya untuk memperbaiki mutu kehidupan. Sebagai penutup, jangan menggantungkan nasib kepada manusia sebab manusia itu miskin. Boleh jadi perawat berkali-kali demo tapi sulit dikabulkan oleh pemerintah yang seluruhnya manusia. Tapi jika seluruh perawat sholat tahajud memohon pada Allah, tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya.

Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.