Gaji Tenaga Perawat di Lombok Timur Lebih Rendah dari Pembantu Rumah Tangga

0
Gaji Tenaga Perawat di Lombok Timur Lebih Rendah dari Pembantu Rumah Tangga

Senyumperawat.com – Gaji tenaga perawat di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) ini dinilai sangat rendah. Bahkan lebih rendah dari gaji pembantu rumah tangga (PRT), yakni pada kisaran Rp 500 ribu per bulan dengan beban kerja yang sangat berat.

Hal ini diungkap Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Lotim, Mahulil Ulil Amri. Ia mejelaskan, gaji para tenaga kesehatan ini perlu dievaluasi. Pasalnya, risiko yang dihadapi para perawat cukup besar, bahkan rata-rata bekerja 24 jam.

Upah yang diterima seluruh perawat utamanya yang honor itu katanya sangat jauh dari Upah Minimum Provinsi (UMP). Harapannya ada penyesuaian, sehingga perawat bisa mendapatkan upah yang layak.

Pihaknya mensinyalir banyak perawat yang menjalankan tugas secara ilegal di Kabupaten Lotim. Disebut demikian karena masih banyak yang belum mengantongi Surat Tanda Register (STR). Sebagai contoh, kegiatan rekrutmen perawat yang dilakukan di lingkup Dinas Kesehatan (Dikes) Lotim untuk bekerja magang ini dipertanyakan.

“Kenapa diizinkan oleh pemerintah daerah, padahal sebelum mengantongi STR perawat tidak boleh menyentuh pasien,” ungkapnya.

Berdasarkan aturan perundang-undangan, mulai dari undang-undang kesehatan dan undang-undang keperawatan mengharuskan seluruh perawat harus mengantongi STR dulu sebelum bekerja memberikan pelayanan kesehatan.

Para perawat tersebut sejatinya kata Ulil menginginkan bisa meneruskan pendidikan dan bisa meningkatkan jenjang karirnya. Akan tetapi tidak diberikan legitimasi oleh pemerintah daerah. Legitimasi dan kemudahan untuk memperoleh izin belajar ini sangat diharapkan, sehingga perawat bisa meningkatkan disiplin ilmunya.

Kepala Dinas Kesehatan Lotim, drg. Asrul Sani yang dikonfirmasi terpisah mengatakan, upah yang diberikan kepada tenaga kontrak tidak saja kepada perawat itu disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.

Gaji tenaga perawat besarannya Rp 550 ribu bagi yang sudah mengabdi selama satu tahun, Rp 650 ribu yang sudah dua tahun dan Rp 750 ribu bagi yang sudah tiga tahun. Jumlah perawat saja di Lotim ini hampir 500 orang masuk kontrak. Belum lagi guru dan tenaga kontrak lainnya.

Secara prinsip dalam sistem penggajian termasuk di lingkup PNS antara cleaning service dengan tenaga lainnya sama. Hal ini dikarenakan kondisi kemampuan keuangan daerah yang masih terbatas.

Diterangkan bagi tenaga kesehatan yang lain seperti Bidan PTT sejatinya digaji sudah cukup besar, yakni Rp 2.8 juta per bulan. Berada di daerah terpencil lebih besar lagi mencapai dua kali lipat dari gaji yang ada di perkotaan.

“Jadi pemerintah ini sudah buat konsep tentang penggajian,” ungkapnya.

Mengenai ketentuan STR, diyakinkan dari seluruh tenaga kesehatan yang bekerja di lingkup Dikes Lotim ini sudah mengantongi STR. Namun, masih ada sebagian kecil yang belum. “Ada sekitar 10 persen saja yang belum,” sebutnya.

Menurutnya, STR ini menjadi salah satu syarat untuk diterima dan masuk kontrak. Jika belum bisa menunjukkan STR, maka tidak bisa diberikan Surat Keputusan menjadi tenaga yang mendapat insentif dari daerah.

Lebih lanjut soal STR ini katanya menjadi urusan masing-masing. Untuk perawat STR diterbitkan oleh institusi bernama MTKI dan pembuatannya secara nasional. Sementara soal izin belajar, tidak saja bagi perawat termasuk bagi seluruh pegawai ada ketentuan pembatasannya. Pasalnya, tidak mungkin semua diberikan izin belajar, karena keterbatasan jumlah pejabat.

Masih saja gaji tenaga perawat di beberapa daerah masih di bawah UMK. Hal ini perlu disikapi dengan segera oleh pemerintah. (Destur/Suarantb)

Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.