Perjuangan Menjadi Perawat Tak Sebanding dengan Pendapatan yang Diperoleh

Senyumperawat.com – Perjuangan menjadi perawat tidaklah mudah. Kuliah yang mahal dan perjuangan mencari kerja yang sulit. Jumlah lowongan pekerjaan untuk profesi perawat belum sebanding dengan jumlah lulusannya. Tiap tahun, lulusan perawat mencapai hampir 50 ribu. Namun jumlah lowongan kerja perawat hingga 2017 masih belum mencukupi separuhnya.

Berdasarkan data BNP2TKI, setiap tahun terdapat lulusan tenaga perawat sebanyak 43.150 orang dari 863 institusi pendidikan perawat di Tanah Air. Data juga menunjukkan lowongan kerja perawat yang tersedia di dalam negeri berkisar 14.000 hingga 15.000 lowongan.

Nasib perawat masih perlu diperjuangkan. Padahal statusnya sudah menjadi sebuah profesi yang dibutuhkan. Adanya program pemerintah yang memberdayakan tenaga sukarela membuat perawat merasa hidup dengan janji.

DPW PPNI Sulawesi Tenggara Angkat Bicara

Ketua Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Sulawesi Tenggara, Heryanto mengomentari soal nasib perawat. Heryanto menyatakan bahwa saat ini masih banyak tenaga perawat yang berstatus sukarela dalam bekerja.

“Bagaimana perawat mau senyum layani pasien kalau masih berpikir sebentar mau pulang naik apa, mau cicil motor pakai apa. Ini salah satu tantangan bagi kami, karena perawat merupakan profesi yang setara dan sejajar dengan tenaga kesehatan lainnya,” ungkap Heryanto dalam Seminar Keperawatan yang digelar PPNI di salah satu hotel di Kota Kendari, Minggu (04/9/2016) dikutip dari PPNI Sultra.

Untuk menjadi perawat yang berkompetensi kata Heryanto, harus melalui banyak tahapan dalam penyelesaian studinya di jurusan keperawatan baik D III maupun S1, setelah itu dilanjutkan dengan studi profesi Ners serta pengambilan Surat Tanda Registrasi (STR).

“Namun perjuangan menjadi perawat itu sangat tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh ketika mengabdi dan bekerja di rumah sakit maupun puskesmas,” tambahnya.

Terkait masalahan tersebut DPW PPNI telah bekerja sama dengan pemerintah kabupaten/kota untuk bersama meningkatkan kesejahteraan perawat. “Kami sudah ke Muna Barat dan Buton Utara, kita sepakati program 1 Desa 1 Perawat dengan pemerintahnya. Karena tidak bisa program kesehatan jalan tanpa perawat,” tambah Heryanto.

Menurutnya, kedepan untuk kesejahteraan perawat anggarannya tidak diambil dari APBD melainkan dari Dana Desa, sehingga tidak membebani anggaran daerah.

Terkait permasalahan ini, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPNI, Hanif Fadilah juga mengungkapkan hal yang senada. Menurutnya, belum ada pengakuan masyarakat terhadap profesi perawat. Peranannya pun hanya dikenal sebagai pengikut, bukan aktor utama dalam peningkatan kesehatan di rumah sakit maupun puskesmas.

Olehnya itu ia berharap, kedepan seiring dengan peningkatan kemampuan, martabat serta etika profesi, para perawat akan mendapatkan kepercayaan sehingga juga diperhitungkan dari segi kesejahteraanya. “Saya berharap, kedepan organisasi PPNI bisa setara dengan IBI dan IDI,” tutupnya.

Source: PPNI Sultra
Editor: Destur

Tags

Destur PJ ,S. Kep

Perawat sekaligus seorang penulis dan juga suka bergabung dalam event organizer. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan seprofesi dan juga para pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker