Penempatan TKI Perawat di Jepang dan Korea, Untuk D3 Ditempatkan di Panti Jompo dan Untuk S1 Nurse di Rumah Sakit

Senyumperawat.com – TKI Perawat di Jepang dan Korea kini makin ramai. Tiap tahunnya BNP2TKI mengirimkan para TKI Perawat di Jepang dan Korea untuk Go Internasional. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia menyatakan Jepang dan Korea Selatan tengah membutuhkan banyak tenaga medis dari Indonesia.

Staf BNP2TKI Ratih Utami Putri, menjelaskan bahwa program G to G adalah program penempatan TKI ke luar negeri yang dilakukan oleh pemerintah atas dasar perjanjian tertulis antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah negara tujuan.

Dikatakannya, saat ini dibutuhkan lulusan D3 Keperawatan untuk bekerja di panti jompo, sedangkan untuk S1 Keperawatan akan dipekerjakan di rumah sakit yang terletak di berbagai wilayah di Jepang dan Korea Selatan.

“Selain lulusan keperawatan, para calon TKI juga harus memiliki kemampuan berbahasa Jepang atau Korea. Jika belum mempunyai sertifikat hasil tes, kami dari BNP2TKI akan memfasilitasi,” katanya.

Banyaknya permintaan TKI Perawat

Kebutuhan akan tenaga medis, menurutnya merupakan implikasi dari kondisi demografi di Jepang dan Korea Selatan yang lebih didominasi oleh penduduk lanjut usia. Sedangkan masyarakat di usia produktif di sana cenderung lebih banyak bekerja di sektor industri salah satunya elektronik.

Sementara itu, pihaknya mengingatkan calon tenaga kerja, kontrak kerja untuk Jepang dan Korea Selatan berkisar antara 2-3 tahun.

“Selama kontrak berjalan, TKI tidak diizinkan untuk pulang ke Indonesia,” katanya.

Jadi TKI tak wajib punya Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN)

Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Nusron Wahid menegaskan bahwa TKI tidak wajib memiliki Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN).

“Sekali lagi, TKI tidak wajib mengurus dan memiliki KTKLN bagi mereka yang sudah terdaftar meskipun sedang cuti kerja,” kata Nusron, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Rabu.

Menurut Nusron, yang terpenting adalah yang bersangkutan telah terdaftar di Sistem Informasi Tenaga Kerja Luar Negeri (SISKO-KTKLN).

Penegasan itu disampaikan Nusron sehubungan dengan tersebarnya berita bahwa TKI harus memiliki KTKLN, sekalipun yang bersangkutan yang tengah menjalani cuti kerja di Tanah Air.

Seperti diketahui, dalam berita yang tersebar di sosial media belakangan ini menyebutkan “Kini ada ancaman baru bagi TKI yakni SISKO-KTKLN yang meresahkan dan tentunya akan memeras buruh migran Indonesia (BMI) yang sedang cuti. Semua yang akan cuti terancam wajib bikin KTKLN.

“Informasi itu tidak benar, sebab BNP2TKI tidak pernah mewajibkan TKI mengurusi atau memiliki KTKLN, bila mereka sudah terdaftar di SISKO-KTKLN. Mereka yang mau cuti, silahkan cuti dan tidak perlu mendaftar ke BNP2TKI, BP3TKI atau LP3TKI,” tegas Nusron.

Nusron mengatakan, untuk meyakinkan apakah TKI sudah terdaftar atau belum di SISKO-KTKLN, dapat mengunduh melalui aplikasi Android.

Jadi, kata Nusron, para TKI yang memang sudah terdaftar di SISKO-KTKLN tidak usah resah dengan adanya berita tidak bertanggungjawab yang tidak jelas dari mana sumbernya.

“Sekarang memang sedang trend berita hoax, jadi teman-teman TKI, termasuk yang sedang dan akan cuti perlu cermat dalam menyikapi suatu informasi atau berita. Diverifikasi dulu, tidak usah resah,” tutur Nusron.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.