Gaji Perawat PTT di Lombok Tengah Rp 250 Ribu, Tidak Setara dengan Pelayanan

Senyumperawat.com – Gaji perawat PTT di Lombok Tengah masih belum sesuai dengan pelayanan. Para perawat yang berstatus tenaga kontrak, atau pegawai tidak tetap (PTT) di Lombok Tengah (Loteng) diberi gaji Rp 250 ribu per bulannya. Nilai itu, hampir tidak sebanding dengan pelayanan kesehatan yang diberikan.

“Begitulah, nasib para perawat kita,” kata Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Loteng HL Najmul Erpan di Bencingah alun-alun Tastura, kemarin (17/3).

Ia mengatakan, total perawat yang tergabung dalam organisasi PPNI Loteng sendiri mencapai 1.600 orang. 650 orang diantaranya berstatus pegawai negeri sipil (PNS). Sisanya, tenaga kontrak atau PTT. Kemudian, tenaga sukarela dan magang. “Kalau untuk tenaga sukarela dan magang, tidak diberi gaji,” kata Erpan.

Mereka semua, terang Erpan jumlah itu tersebar di rumah sakit umum daerah (RSUD) Praya, di 28 Puskesmas dan di 94 Puskemas Pembantu (Pustu), di seluruh Gumi Tatas Tuhu Trasna. Mereka yang bekerja dan mengabdi di tingkat Puskesmas dan Pustu, mendapatkan gaji dari dana kapitasi. Sedangkan yang bekerja di rumah sakit, dari pendapatan rumah sakit.

Hanya saja, lanjut Erpan gaji perawat PTT yang bekerja di Puskesmas dan Pustu, tidak selancar perawat di RSUD. Itu terjadi, karena pencairan dana kapitasi seringkali terlambat. Ia mengaku, gaji sebesar itu sebenarnya tidak layak, tidak manusiawi dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup satu bulan.

“Namun masalah ini, tidak saja terjadi di Loteng, tapi di seluruh Indonesia,” kilahnya.

Lebih lanjut, pihaknya berjanji akan memperjuangkan kesejahteraan para perawat. Dengan cara, meminta tambahan anggaran di APBD. Termasuk, mendorong beberapa Puskesmas menjadi BLUD. “Semoga, kedepan ada jalan keluar terbaik,” ujar Erpan yang juga Kabid Keperawatan RSUD Praya tersebut.

Menanggapi hal itu, Bupati HM Suhaili FT mengatakan, pemerintah tetap berkewajiban memperhatikan kesejahteraan para tenaga medis, baik perawat, bidan maupun dokter. Karena itu Suhaili akan berupaya melakukan penyesuaian gaji. “Apalagi, kita membutuhkan yang namanya tenaga kesehatan itu. Termasuk, guru,” katanya.

Dua profesi itu, tambah Suhaili menjadi prioritas untuk diperhatikan. Yang terpenting, organisasi yang mewadahi perawat maupun guru tersebut, tetap mengontrol kinerja mereka masing-masing. “Tunjukkan etos kerja dan semangat bekerja,” seru pria asal Desa Bodak tersebut. (Destur/Lotengpost)

Destur Purnama Jati, S.Kep

Perawat sekaligus seorang penulis dan juga suka bergabung dalam event organizer. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan seprofesi dan juga para pembaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *