Fakta Kematian Akibat Rokok, 1 dari 10 Kematian di Bumi Diakibatkan Oleh Rokok

Senyumperawat.com – Fakta kematian akibat rokok perlu disajikan secara ilmiah. Survei demi survei perlu dilakukan agar penggunaan rokok bisa lebih diminimalisir. Soalnya hal ini terkesan unik, satu sisi menteri kesehatan melarang rokok tapi di sisi lain menteri perdagangan masih melegalkannya. Tulisan pada bungkus rokok pun terkesan mubadzir. Analoginya, buat apa pemilik warung makan¬†memberikan tulisan peringatan “Makan pedas bahaya bagi lambung”. Tapi di sisi lain menunya¬†pedas semua.

Ada sebuah penelitian ilmiah dari luar negeri yang baik untuk disimak. Dalam penelitian terbaru yang dipulikasikan dalam jurnal The Lancet, disajikan fakta kematian akibat rokok. Sekitar satu dari 10 kematian yang terjadi di seluruh dunia bisa dilacak sumbernya karena rokok. Setengah dari kematian tersebut diketahui terjadi di empat negara yaitu China, India, Amerika Serikat, dan Rusia.

Sekitar satu dari 10 kematian yang terjadi di seluruh dunia bisa dilacak sumbernya karena rokok.

Peneliti mengatakan jumlah perokok di dunia terus meningkat meski berbagai upaya kontrol telah dilakukan. Hal ini kemungkinan karena memang ada pertumbuhan penduduk dan industri rokok terus gencar melakukan promosi kepada pasar baru.

“Meski bukti kuat bahwa tembakau memiliki efek berbahaya sudah ditemukan sejak setengah abad yang lalu, hari ini satu dari setiap empat orang di dunia adalah perokok,” ungkap salah satu peneliti Dr Emmanuela Gakidou seperti dikutip dari BBC, Kamis (6/4/2017).

“Rokok masih menjadi faktor risiko terbesar kedua untuk kematian dan kecacatan. Oleh karena itu kita masih perlu lebih intens melakukan kontrol agar prevalensi merokok dan dampak negatifnya bisa berkurang,” lanjut Dr Emmanuela.

Dari 195 negara yang datanya dianalisa dalam studi, dalam 25 tahun terakhir Brazil disebut sebagai negara yang berhasil melakukan penurunan tingkat perokok secara drastis. Sekitar 29 persen populasi pria yang merokok kini tinggal hanya 12 persen sementara pada wanita angkanya dari 19 persen menjadi delapan persen.

Banglades, Filipina, dan Indonesia disebut di dalam studi sebagai negara yang tidak ada perbaikan berarti.

Destur Purnama Jati, S.Kep

Perawat sekaligus seorang penulis dan juga suka bergabung dalam event organizer. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan seprofesi dan juga para pembaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *