Jangan Iseng Dibini Dulu Baru Dibina, Pilih Akhwat Sholehah Lebih Aman

0

Senyumperawat.com – Dilema untuk para jomblo adalah tidak kunjung hadirnya sosok yang hendak menjadi pendamping hidup. Alhasil, banyak lelaki yang akhirnya mencari jodoh lewat jalur-jalur yang tidak jelas. Ada yang mencarinya lewat jejaring sosial bahkan tidak sedikit yang sampai chatting larut malam hanya untuk mengejar seorang wanita. Kemudian mulailah bisikan-bisikan setan muncul dan obrolan pun mulai tidak terarah. Tidak cukup di situ, banyak pula yang terpikat karena kecantikan seorang gadis yang belum terukur kapasitas kesholehannya. Akhirnya sabda Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa sallam untuk lebih memilik akhwat sholehah pun luntur dan lebih memprioritaskan soal kecantikan.

Sudah dipahami bersama, ada kriteria pasangan yang paling pas untuk dijadikan pendamping hidup. Resep dari Rosulullah shollallaahu ‘alayhi wa sallam dijabarkan dalam 4 poin. Kriteria jodoh ideal itu ditinjau dari agama, martabat, harta dan kecantikannya. Kriteria tersebut sudah sangat jelas memberikan isyarat bahwa agama berada pada kedudukan yang jauh lebih tinggi. Ada pun martabat, harta dan kecantikannya akan menjadi penyerta.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi”. (HR. Bukhari, no. 5090 dan Muslim, no. 1446; dari Abu Hurairah)

Akhwat sholehah tidak bisa dicari di tempat-tempat konser bahkan di mall-mall. Mereka akan menjaga diri dari hal-hal yang sia-sia. Maka dari itu, ini pun merupakan modal dasar untuk membina rumah tangga yang sakinah. Tapi jika menikahi perempuan yang belum terukur kadar kesholehannya, disebutkan dalam hadits akan menjadi orang yang merugi. Baik rugi waktu, pikiran dan tenaga.

Rumitnya, ada sebagian pemuda yang silau dengan kecantikan. Bahkan dalam akun Facebook atau Twitter miliknya banyak sekali menambahkan akun-akun cewek. Bukan hanya rajin memberikan komentar, tapi juga rajin kirim inbox. Padahal ia belum tahu-menahu siapa yang ia ajak chatting hingga larut malam demi mendapatkan hatinya.

Lebih parah lagi, ada pemuda yang terlalu berani mengambil resiko. Hanya bermodal telah selesai membaca kitab Bekal Pengantin atau sejenisnya sudah mau ambil resiko menikahi perempuan yang masih belum berjilbab syar’i atau malah suka mengumbar aurat. Ada pula yang terlalu berani menikahi gadis yang non-Islam dengan maksudnya menjadikannya muallaf dengan dinikahi. Ini akan membuat kehidupan rumah tangganya terlalu sibuk membenahi urusan dalam negeri. Padahal urusan luar negeri juga membutuhkan waktu yang banyak.

Allah berfirman:

وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ

“Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.” (QS. Al-Baqarah: 221)

Kalau istri shalihah yang dipilih pasti akan mendapatkan keberuntungan. Selain ia akan lebih memahami kesibukan suaminya, ia pun sudah siap untuk membina anak-anaknya kelak. Akan sulit membentuk anak yang sholeh dan sholehah jika ibunya pun belum sholehah. Sholehah tidak diukur dari seberapa besar jilbabnya tapi seberapa besar ketaatannya kepada Allah. Namun, muslimah yang taat kepada Allah pasti berjilbab besar.

Tinggalkan Komentar