UIN Maliki Malang Buka Fakultas Kedokteran Mulai 2016-2017

0

Senyumperawat.com – Wacana untuk membuka fakultas kedokteran di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang sudah dimulai sejak 2015-2016. Namun karena peraturan bahwa kampus dengan fakultas kedokteran harus memiliki rumah sakit sendiri, rencana tersebut diurungkan. Namun kini, peraturan tersebut tidak mutlak. Bahwasanya sebuah kampus tidak harus memiliki rumah sakit fakultas melainkan dapat bekerja sama dengan rumah sakit negeri.

Kesempatan ini dimanfaatkan oleh UIN Maliki Malang dengan membuat nota kerja sama dengan Rumah Sakit Soepraoen. Rencananya, fakultas kedokteran UIN Maliki Malang akan dimulai pada tahun akademik 2016-2017.

Rektor UIN Maliki Malang Prof Dr Mudjia Raharjo di Malang, Senin, mengatakan seharusnya FK tersebut mulai dibuka tahun ini (2015-2016), namun karena ada aturan setiap kampus yang memiliki FK harus mempunyai rumah sakit, pembukaan FK tersebut ditunda, dilansir Antaranews.

“Namun, setelah ada kebijakan baru, tidak harus memiliki rumah sakit sendiri, melainkan menggandeng rumah sakit, proposal pengajuan pembukaan FK akan kami kirimkan kembali dengan melampirkan bukti nota kesepahaman (MoU) dengan RS Soepraoen. Mudah-mudahan tahun depan sudah bisa terealisasi,” ujarnya.

Kerja sama dengan rumah sakit milik TNI itu, kata Mudjia, di antaranya di bidang penydiaan fasilitas bagi mahasiswa kedokteran, tempat praktik serta dokter-dokter di RS Soepraoen bisa mengajar di FK UIN Maliki. Dan, lima tahun ke depan, diharapkan FK UIN Maliki sudah memiliki peralatan sendiri, termasuk fasilitas laboratorium yang lengkap.

Akhir bulan November ini, ia akan mengajukan kembali permohonan kepada Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) menyusul permohonan sebelumnya yang ditolak karena saat itu UIN masih belum memiliki fasilitas gedung dan belum menjalin kerja sama dengan RS.

Selain itu, pada saat itu aturan yang diberlakukan, kampus yang mengajukan pembukaan FK harus memiliki rumah sakit sendiri.

Menyinggung jangka waktu kerja sama dengan RS Soepraoen, Mudjia mengatakan sekitar lima tahun atau sampai tahun 2020 dan paling lambat pada 2021.

“Kami memilih RS Soepraoen karena rumah sakit itu bertipe B dan belum bekerja sama dengan perguruan tinggi lain. Maksimal satu rumah sakit ada dua kerja sama dengan kampus, jadi kita pilih Soepraoen karena faktor itu,” ujarnya.

Mudjia mengatakan untuk gedung perkuliahan sudah siap, yakni di Kecamatan Junrejo, Kota Batu. “Untuk tahun pertama nanti, kami hanya akan menerima 40 mahasiswa yang benar-benar cerdas, pintar dan berkualitas karena profesi dokter berhubungan dengan nyawa manusia, sehingga harus benar-benar terseleksi,” ucapnya.

Tinggalkan Komentar