Pastikan Kosmetik Kamu Bebas dari 5 Bahan Kosmetik Berbahaya Ini

0

Senyumperawat.com – Bukan Indonesia namanya jika tidak ada yang main nakal. Ada oknum pemerintahan yang nakal hingga rakyat kecil yang nakal. Nakal dalam arti menghalalkan segala cara untuk sekedar mendapatkan sesuap nasi. Misalnya dalam hal jual beli produk kecantikan. Masih ada saja produk kosmetik berbahaya yang beredar di tengah masyarakat.

BPOM (Badan Pengawas Oban dan Makaman) kembali merilis 30 jenis kosmetika mengandung bahan berbahaya yang terdiri dari 13 jenis kosmetika produksi luar negeri dan 17 jenis kosmetika produksi dalam negeri.

Hal itu berhasil diungkap berdasarkan hasil pengawasan rutin BPOM di seluruh Indonesia terhadap kosmetika yang beredar dari Oktober 2014 sampai September 2015.

Seperti dilansir laman resmi BPOM RI, Senin (30/11/2015), bahan kosmetik berbahaya yang teridentifikasi terkandung dalam kosmetika tersebut, yaitu bahan pewarna Merah K3 dan Merah K10 (Rhodamin B), Asam Retinoat, Merkuri dan Hidrokinon.

Efek bahan kosmetik berbahaya:

  1. Pewarna Merah K3 dan Merah K10 yang sering disalahgunakan pada sediaan tata rias (eye shadow, lipstik, perona pipi) memiliki sifat karsinogenik dan dapat menimbulkan gangguan fungsi hati dan kanker hati.
  2. Hidrokinon yang banyak disalahgunakan sebagai bahan pemutih/pencerah kulit, selain dapat menyebabkan iritasi kulit, juga dapat menimbulkan ochronosis (kulit berwarna kehitaman).

Efek yang ditimbulkan tersebut akan muncul berangsung-angsur. Biasanya mulai penggunaan 6 bulan dan bisa saja bersifat tidak dapat dipulihkan sediakala.

Terhadap produsen-produsen yang curang tersebut, pemerintah telah bertindak tegas. Kosmetik berbahaya yang telah disita telah dibatalkan izin edarnya. Semua produk yang telah diedarkan di masyarakat pun ditarik dan dimusnahkan. Total produk yang disita senilai 8,8 miliar rupiah.

Lembaga perlindungan konsumen juga perlu berperan aktif dalam menjaga hak konsumen. Selama ini konsumen hanya menjadi ladang yang siap dipanen oleh produsen nakal dengan berbagai cara. Masyarakat perlu mendapatkan edukasi terkait mana produk yang memang aman dan tidak melalui label yang terdapat pada produk.

Tinggalkan Komentar