Klasifikasi Kondisi Pasien Saat Persiapan Anestesi

0

Bekerja sebagai seorang ahli anestesi memang tidak mudah. Seorang dokter anestesi pernah berkata bahwa menidurkan orang itu sangat mudah tapi untuk membangunkannya luar biasa susahnya. Bahkan tiap hari pasien harus dikontrol hingga sadar kembali. Dalam melakukan tindakan anestesi, ada banyak sekali aspek yang dipersiapkan. Tahapan preoperatif pun harus benar-benar clear. Mulai dari pasien yang dipuasakan, mandi dengan bersih, pendampingan agar tidak cemas dan lain sebagainya. Tidak luput pula kondisi pasien yang harus diperhatikan. Persiapan anestesi juga memperhatikan klasifikasi kondisi kesehatan pasien.

Persiapan anestesi terkait penilaian kebugaran fisik pasien dengan mendapatkan aturan baku dari Amerika. The American Society telah mengeluarkan klasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran fisik seseorang. Klasifikasi fisik ini bukan alat prakiraan resiko anestesi karena dampak samping anestesi tidak dapat dipisahkan dari dampak samping pembedahan.

  • Kelas 1: pasien sehat organic, fisiologik, psikologik, biomikia
  • Kelas II: pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang
  • Kelas III: pasien dengan penyakit sistemik berat sehingga aktivitas rutin terbatas
  • Kelas IV: pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat melakukan aktivitas rutin dan penyakitnya merupakan ancaman kehidupannya setiap saat.
  • Kelas V: pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa pembedahan hidupnya tidak akan lebih dari 24 jam.

Pada bedah cito atau emergency biasanya dicantumkan huruf E. Operasi cito biasanya dilakukan karena kondisi pasien yang harus mendapat pertolongan dengan operasi untuk menyelamatkan nyawanya. Semua itu dilakukan pada saat anamnesis awal sehingga digunakan untuk memastikan kondisi pasien benar-benar siap untuk menjalani operasi. Terlebih operasi yang memakan waktu hingga berjam-jam. Sebelum dilakukan operasi, pasien akan melakukan konsultasi ke beberapa dokter seperti dokter jantung, dokter kandungan bagi yang akan operasi sesar dan lain sebagainya. Petugas anestesi juga mengkaji kembali aspek ini saat persiapan anestesi untuk mengetahui perlakuan apa yang sebaiknya diberikan pada masing-masing klasifikasi. Pemilihan metode induksi anestesi juga ditentukan dari klasifikasi di atas.

Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.