Kisah Perjuangan Perawat Indonesia Untuk Menjadi Perawat di Amerika

Senyumperawat.com – Kisah di bawah ini adalah pengalaman seorang perawat yang sangat penuh kerja keras untuk berkarya sebagai perawat di Amerika. Kisah suksesnya dapat menjadi inspirasi bagi perawat-perawat yang mengidam-idamkan untuk dapat sukses sebagai perawat Indonesia di Amerika. Gajinya yang melimpah dan keahlian yang akan terasah dengan matang. Arif Indiarto, adalah sosok yang kali ini berbagi kisah perjuangannya menuju Amerika. Ia adalah alumnus Akper Depkes Semarang yang kini berubah nama menjadi Poltekes Semarang.

Awal kisah

Menjadi seorang perawat (Pak mantri) di sebuah desa kecil di daerah Kabupaten Rembang itu sebuah impian yang harapkan oleh ibu saya sejak saya kecil.Dengan harapan saya bisa membantu orang-orang sakit di kampung. Itulah doa mulia dari seorang ibu yang di kabulkan oleh sang Maha Pencipta yang sesuai pepatah surga ada di telapak kaki ibu. Singkat cerita, setelah saya tamat dari SMA tahun 1999 saya mendaftarkan UMPTN, STPDN, and Akper Depkes Semarang (yang sekarang berubah menjadi Politeknik Kemenkes Semarang). Ayah menganjurkan saya untuk memfokuskan tes di STPDN, tapi ibu saya menganjurkan untuk masuk Akper.

Alhamdulillah saya di terima UMPTN di Universitas Brawijaya, dan Akper Depkes Semarang. STPDN tidak saya lanjutkan karena beberapa alasan salah satunya adalah masalah dana yang cukup besar saat itu. Setelah berdiskusi dengan ayah dan ibu, akhirnya saya menuruti anjuran ibu. Ketika menginjakkan kaki pertama saya di kampus Akper Depkes Semarang, saya berdo’a semoga kelak saya bisa membahagiakan orang tua saya.

Semester demi semester saya selesaikan dengan nilai yang cukup memuaskan.Selama saya menjadi menjadi mahasiswa yang praktek di RS Karyadi Semarang, saya pergunakan waktu saya sebaik-baiknya untuk belajar klinik dari perawat-perawat di RS, sempat tiap hari libur saya datang ke RS untuk bertanya kepada clinical instruktur (CI) tentang hal-hal yang kurang saya pahami, dan praktek di lapangan. Alhamdulillah, dengan bantuan perawat ruangan yang sering mengajarkan tentang skill keperawatan, saya merasa lebih siap kalo suatu saat saya bekerja di RS. Dan saya juga aktif belajar research dan kegiatan Lansia dengan Bu Suharsi yang waktu itu aktif di organisasi di PPNI Jateng.

Setelah ujian akhir, saya mencoba ikut lomba pembuatan logo Poltekkes Semarang yang di bantuan teman dari UNDIP, dan alhamdulillah saya mendapatkan juara. Sampai sekarang logo Poltekkes itu di pakai oleh seluruh Dosen, staff, mahasiswa, dan bahkan ijazah-ijazah yang di keluarkan oleh Poltekkes Semarang. Tidak hanya itu, jika seorang hamba mensyukuri nikmat-Nya, niscaya Allah melipat gandakan nikmat itu. Sebelum saya wisuda, dan bahkan ijazah Akper saya belum keluar, dengan bantuan Direktuk Poltekkes Semarang (Bpk Ilham Setyo Budi) untuk mengeluarkan Surat Keterangan Lulus, saya memberanikan diri untuk melamar kerja ke sebuah Rumah Sakit besar di Jakarta yang merupakan satu-satunya Pusat Jantung Nasional di Indonesia, RS Jantung Harapan Kita. Dan, alhamdulillah saya di nyatakan lolos tes tulis dengan nilai tertinggi.

Mulai bekerja

Selanjutnya saya lolos tes kesehatan, psikotes, dan wawancara, sampe akhirnya saya di terima sebagai perawat di RS jantung Harapan Kita. Untuk menjadi perawat di RS Jantung Harapan Kita, ternyata saya harus lulus kursus Kardiovaskuler Dasar (Kursus KD) selama 3 bulan. Tiga bulan selesai, dan saya mulai bekerja di Ruang Intermediate Medical selama hampir 3 tahun. Selama saya bekerja di RS Jantung, saya mendengar bahwa banyak senior-senior saya yang bekerja RN di Amerika. Sejak itulah saya bermimpi untuk bekerja RN di USA. Saya memasang foto di kamar kos saya di jakarta dengan nama di bawahnya, Arif Indiarto, RN. Setiap melihat foto dan nama itu, niat saya semakin kuat untuk menggapainya. Insya Allah, kalo ada niat pasti ada jalan. Itulah slogan yang selalu aku pakai.

Hari demi hari saya lalui, bekerja dan kursus bahasa inggris selama 1,5 tahun di Intersource Jakarta. Sampai teman-teman saya bertanya “Apa kamu nggak capek, habis kerja langsung berangkat kursus?”, dan saya bilang ke mereka, tidak ada keberhasilan tanpa adanya usaha, biaya, dan kerja keras. Setelah tiga tahun bekerja di ruangan IW medical, saya di pindah ke Ruang Bedah jantung.

Saya tidak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada Allah, karena saya tidak harus sering-sering jaga malam dan memandikan 4 pasien tiap hari. Belum ada satu tahun saya bekerja di Ruang OK, ada pengumuman dari Puspronakes Jakarta, kalo ada pengiriman perawat Indonesia untuk traning dan ujian RN di Amerika. Saya di nyatakan lolos tes tulis dan wawancara dari pihak user Amerika.

Ada 12 perawat yang di nyatakan berangkat ke USA waktu itu (Desember 2005). Dan kami semua mengurus visa ke US embassy. Saya sempat kecewa dan menangis saat itu, karena hanya saya yang tidak mendapatkan visa waktu itu. Padahal Saya sudah bilang ke orang tua untuk datang ke jakarta sebelum saya berangkat ke Amerika, dan saya sudah bilang ke kepala ruangan dan teman-teman kalo saya mau meninggalkan RS Jantung.

Saya ambil hikmahnya waktu itu, mungkin ini belum waktu yang tepat untuk meninggalkan orang tua. Ibu saya menangis, seolah beliau tidak rela kalo saya harus pergi ke Amerika dan mengkhawatirkan saya akan terpengaruh budaya barat. Hampir tiga bulan saya memastikan dan menceritakan teman-teman yang sudah berangkat duluan kalo Amerika tidak seperti yang Ibu duga. Akhirnya ibu saya mengijinkan untuk berangkat setelah mendengar cerita dari teman-teman saya kalo di Amerika juga ada masjid. Saya mendapatkan F1 Visa dari Amerika setelah hampir dua bulan menunggu.

Akhirnya berangkat ke Amerika

Saya berangkat ke Amerika bulan Maret 2006 yang hanya diantarkan Bapak, Mas sepupu saya, dan temen-temen dekat di Jakarta. Saya bilang ke Ibu supaya tidak usah datang ke Jakarta, karena saya tidak akan kuat meliht air mata ibu saat berpamitan. Setibanya saya di Houston, saya di jemput oleh teman-teman saya yang sudah berangkat duluan. Saya dan teman-teman tinggal di asrama mahasiswa selama hampir 6 bulan di Houston Baptist University. Selama 6 bulan kami belajar bahasa Inggris, tiap hari makanan kami adalah Grammar, Vocabulary, Writing, Listening, and Speaking. Setelah itu kami harus ujian TOEFL IBT or IELTS dengan minimal score untuk IBT TOEFL 83 (with speaking 27), dan IELTS 6.5 (with speaking 7 ). Setelah saya lulus IELTS, kami mengikuti program selanjutnya untuk NCLEX RN preparation di Kaplan hampir selama 8 bulan.

Selama saya kursus NCLEX RN, saya sempat bekerja di Chinese restaurant sebagai waiter, dan saya juga bekerja sebagai kasir di Fastfood restaurant. Saya merasa malu kepada orang tua kalo saya harus meminta bantuan selama saya pendidikan di Amerika, maka saya putuskan untuk bekerja guna membiayai kursus saya dan bisa menghidupi saya. Setiap weekend saya bekerja sampai jam 12 malam guna mencukupi kebutuhan hidup supaya bisa bertahan di Amerika. Saya merasa untuk meraih cita-cita dan bekerja sebagai RN di Amerika, inilah jalan yang harus saya lalui, tidak ada keberhasilan tanpa jerih payah. Setelah hampir 8 bulan saya belajar keperawatan dasar, anak, jiwa, medikal bedah, emergency, critical care, dan maternitas, tiba saatnya saya ujian NCLEX RN.

Lulus ujian RN

Saya mendapatkan banyak soal tentang kardiovascular yang notabene saya sudah sedikit mendalami dari pada soal-soal tentang keperawatan dasar, maternitas, jiwa, anak, medical bedah, emergency, dan critical care. Satu hari setelah ujian saya membuka internet untuk melihat hasil ujian NCLEX RN dan hasilnya “PASS”. Saya langsung sujud syukur dan telpon ke ibu saya kalo saya lolos.Ibuku menangis bahagia mendengar berita itu.Selesai sudah semua ujianku, serasa telor sudah pecah di atas kepala ini, hati gembira dan rasanya plong.

Suatu hari, ada Job Fair di sebuah RS di Houston, sebut saja “Memorial Hermann Hospital”, yang waktu itu membutuhkan RN dengan pengalaman CVOR (Cardiovascular Operating Room). Karena saya punya pengalaman hampir satu tahun di CVOR, mereka langsung interview saya di tempat itu juga.

Mereka menanyakan kalo saya mau join sama perusahaan itu, saya menjawab “I will take this position if you sponsor me to get green card”. Tanpa pikir panjang, ternyata mereka bersedia untuk mensponsori saya green card. Akhirnya mereka kasih contact person (lawyer) untuk urus surat ijin kerja saya.

Sebelum masuk ke spesial bedah jantung, manager saya mengirim saya untuk di training bedah umum dulu. Setelah saya menerima gaji pertama sebagai RN di Amerika, saya mengirimkan uang tersebut ke Ibu saya supaya mendaftar haji bersama ayah saya. Ibu saya berdo’a semoga uang itu akan berkah. Dan alhamdulillah hanya satu tahun menunggu, ibu dan ayah saya berangkat haji di tahun 2008.

Training bedah umum selama 6 bulan saya lalui, belajar dari general Surgery, Orthopedic, Neurosurgery, Obgyn, trauma surgery, pediatric surgery, and cardiovascular surgery, dan akhirnya saya masuk ke tempat kerja yang saya idam-idamkan, bisa bekerja sebagai RN di CVOR di Texas Medical Center, “the biggest Medical Center in the world.” Dengan menjadi perawat, saya bangga dan bersyukur bisa keliling Amerika, London, Liverpool, dan Canada. Saya yakin, kalo seorang perawat menekuni profesi yang dia miliki dan bersyukur dengan apa yang di raihnya, maka Allah akan memudahkan, melipatgandakan nikmat-Nya, dan hidup ini terasa berkah.

Meneruskan predikat master program

Saya tidak puas dengan RN yang hanya lulus dari D3 Akper saja, maka saya putuskan untuk meneruskan BSN (S1 Keperawatan) di University of Texas Medical Branch. Setelah 3,5 tahun saya bekerja dan kuliah, akhirnya tahun 2011 saya selesai program BSN. Saya juga sempat bekerja di Cardiovascular Intensive Care Unit (CVICU), untuk mencari pengalaman di Critical Care Nursing.

Sekarang ini saya menekuni pekerjaan di bedah jantung Dewasa di Memorial Hermann-Texas Medical Center, bedah jantung anak di Texas Children’s Hospital, dan juga meneruskam study di master program.

Demikian singkat cerita saya dari seorang perawat di negeri Obama. Pesan saya kepada mahasiswa perawat supaya menekuni apa yang di pelajari dan YAKIN bahwa profesi ini akan memberi manfaat. Kalian harus bermimipi dulu, insya Allah mimpi kalian akan jadi kenyataan kalo di sertai niat yang kuat, gigih, tidak mudah putus asa, dan berdo’a kepada Allah. Kalo teman-teman ingin bekerja di luar negeri, maka persiapkan bahasa Inggris sedini mungkin.

Ingat…!!! Untuk berkiprah di sebuah profesi, tidak hanya di butuhkan “KNOWLEDGE”, tapi harus di sertai “SKILL” dan “GOOD ATTITUDE.”

Enjoy Nursing !!!

Source: Arif Indiarto dalam https://poltekkes-smg.ac.id
Editor: Destur

Tags

Destur PJ ,S. Kep

Perawat sekaligus seorang penulis dan juga suka bergabung dalam event organizer. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan seprofesi dan juga para pembaca.

Related Articles

3 Comments

  1. Wah baca pengalaman Pak Arif saya jadi ikutan terharu. Kebetulan saya sedang menempuh pendidikan keperawatan juga di Undip dan bercita-cita untuk bisa bekerja sebagai RN di luar negeri juga. cerita Bapak telah menginspirasi saya. kalau Bapak bisa, semoga saya juga bisa 🙂

  2. Terima kasih atas artikel Anda karena sangat inspiratif dan pastinya bermanfaat bagi perawat Indonesia. Terima kasih sudah berbagi. Salam sukses.

    Oh ya, saya jg rutin berbagi artikel dengan tema Nursepreneurship.

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker