Tak Ada Rasa Malu, Obrolan Ikhwan Tentang Muslimah Bercadar Seperti Ini Tidak Layak Diobrolkan di Facebook

0

Dalam tulisan saya kali ini, saya tidak akan membahas mengenai hukum bercadar, karena pembahasan hukum bercadar sudah bisa kita dapatkan diberbagai referensi yang sudah di tulis oleh para asatidzah dan juga para ulama yang sudah diunggah ke Internet. Salah satunya adalah Hukum Memakai Cadar dalam Pandangan 4 Madzhab. Jadi bagi anda yang ingin mengetahui hukum bercadar, silakan baca saja penjelasannya dalam artikel di link yang saya sebutkan.

Kali ini saya hanya akan membahas mengenai suatu hal yang masih diabaikan oleh sebagian akhowat bercadar.

Suatu hari, ketika saya sedang membuka timeline facebook. Saya agak sedikit tergidik dengan sebuah postingan yang membuat hati saya sedikit teriris-iris dan miris. Kenapa bisa sampai begitu ? karena saya juga adalah salah satu muslimah yang bercadar, yang tentunya apabila saya berada di posisi akhowat yang sedang dibahas dalam postingan tersebut, saya akan merasa ditelanjangi oleh mereka.

Tahukah anda apa yang mereka bahas ? mereka sedang membahas mengenai cara menentukan kecantikan seorang muslimah bercadar berdasarkan matanya, dan pembahasan itu didasarkan oleh sebuah foto kumpulan muslimah bercadar dalam sebuah Cover Photo Fanpage muslimah (Wanita Indonesia Bercadar – Palembang). Karena mata adalah salah satu bagian tubuh muslimah bercadar yang dapat dikonsumsi oleh semua orang selain tangan, karena sebagian muslimah bercadar masih memperlihatkan tangannya, termasuk saya. Dan tahukah anda siapa saja yang menjadi peserta forum ghibah tersebut ? para asatidzah dan juga para penuntut ilmu, BUKAN ORANG-ORANG AWWAM.

Miris bukan ????

Kita semua sudah mengetahui hakikat asatidzah dan kenapa mereka disebut sebagai ustadz (da’i), karena mereka adalah sekumpulan orang-orang yang berilmu, yang senantiasa menyampaikan ilmu-ilmu agama kepada para penuntut ilmu. Dan sudah barang tentu hal-hal yang menyangkut ghibah, ghadul bashar, dan fitnah wanita sudah menjadi makanan sehari-hari mereka dan sudah hapal di luar kepala mereka.

Begitu juga dengan para penuntut ilmu. Mereka adalah sekumpulan orang yang senantiasa menuntut ilmu, ada yang baru saja ngaji dan ada juga yang sudah lama mengaji. Namun untuk materi mengenai ghibah, ghadul bashar, dan fitnah wanita-pun sudah sering di jadikan sebagai materi dalam majelis-majelis ilmu, sehingga sudah seharusnyalah mereka tahu hukum-hukum-nya.

Namun ukhtyfillah, harus anda ketahui semua, bahwa mereka juga manusia biasa yang mempunyai hawa nafsu, dan bagi mereka yang masih normal, tentunya wanita adalah sebuah objek yang asyik dan seru untuk di bahas (red. ghibah), tanpa memperdulikan apakah wanita itu berhijab ataukah tidak, apakah bercadar ataukah tidak.

Apalagi mereka adalah sekumpulan orang-orang pengajian yang sudah barang tentu objek yang mereka jadikan pembahasan adalah muslimah-muslimah yang berhijab sempurna (terutama yang bercadar). Mereka tidak akan tertarik dengan wanita-wanita seksi yang senantiasa memperlihatkan aurat mereka dengan segala lekuk tubuhnya yang aduhai. Tapi justru muslimah bercadarlah yang menjadi objek pembahasan mereka (red. ghibah).

Apakah yang mereka lakukan salah ?? ya sudah barang tentu SANGAT SALAH, karena mereka membuka majelis ghibah ini di tempat umum yaitu facebook, dimana semua orang dapat melihat dan membaca majelis ghibah tersebut. Dan kenapa saya sebut majelis ghibah ? karena yang mereka bahas tidak ada kaitannya dengan kesesatan ataupun penyimpangan agama sekelompok orang. Akan berbeda hukumnya apabila yang dibahas adalah mengenai kesesatan ataupun penyimpangan agama ataupun syubhat seseorang atau sekelompok orang dengan tujuan untuk menyelamatkan ummat. Maka hal tersebut termasuk ke dalam ghibah yang halal dan bahkan harus disampaikan kepada halayak umum agar ummat terselamatkan dari segala kesesatan dan penyimpangan agama.

Saya sebagai seorang muslimah bercadar tentunya akan sangat merasa ditelanjangi apabila saya menjadi objek ghibah mereka. Karena saya bercadar dengan maksud ingin melindungi diri saya dan juga melindungi para laki-laki dari fitnah wanita, dan tentunya keta’atan karena Allah-lah menjadi tujuan utama saya. Saya tidak bisa membayangkan apabila saya menjadi objek ghibah mereka, saya akan merasa sangat malu dan merasa dilecehkan. Dengan mereka membicarakan mata saja, bagi saya itu adalah sebuah bentuk pelecehan. Karena bagi saya, semua apa yang ada pada diri saya, bukan untuk menjadi konsumsi publik dan bukan untuk jadi bahan materi di majelis ghibah.

Namun ya ukhtyfillah, saya tidak akan menyalahkan mereka sepenuhnya karena pada dasarnya mereka hanyalah manusia biasa yang mempunyai hawa nafsu dan senantiasa berdosa, hal ini tidak pandang bulu, apakah mereka seorang ustadz ataukah para penuntut ilmu apalagi orang-orang awwam.

Lalu siapa yang harus disalahkan dalam hal ini ? sudah barang tentu akhowat yang masih mengijinkan dirinya sendiri untuk dijadikan sebagai objek konsumsi publik, yaitu dengan cara meng-upload foto dirinya yang bercadar di sosial media apapun, tidak hanya facebook.

Ya ukhtyfillah, lalu apalah artinya cadar kalian (yang hakikatnya untuk menutupi) apabila kalian masih ingin dilihat dengan cara mengupload foto kalian yang bercadar yang artinya kalian membuka diri kalian sendiri ditempat umum ?

Kalau alasannya untuk berdakwah, maka carilah cara berdakwah yang tidak akan menjadi fitnah bagi laki-laki, saya sangat yakin sekali masih ada cara berdakwah yang jauh lebih baik daripada mengekspos foto diri kalian sendiri yang bercadar di sosial media dengan tujuan untuk memotivasi. Karena tujuan berdakwah adalah untuk mengajak kepada kebaikan, namun apabila berdakwah dengan cara yang akan menjadi fitnah, maka bukan kebaikan yang akan kalian datangkan, namun justru keburukan yang lain yang akan kalian datangkan kepada ummat, yaitu fitnah wanita.

Kalau alasannya tidak ada dalilnya, benarkah tidak ada dalilnya ? silakan kalian kaji / renungkan artikel berikut ini Selfie Cadar: Menutupi Tetapi Hakikatnya Ingin Dilihat.

Ya ukhtyfillah, Islam sangat memuliakan wanita, maka jadikanlah dirimu mulia dan benar-benar berharga sepenuhnya (tidak setengah-setengah) dan jagalah dirimu dari majelis ghibah para ikhwan di sosial media dengan cara menghapus semua foto-foto bercadarmu di sosial media.

Red: Ummu Fulanah (Seorang yang sangat fakir ilmu)
Ed: Destur

Tinggalkan Komentar