Efek Samping Pacaran, Gadis 15 Tahun Gantung Diri

0

Fenomena disingkirkannya film-film kartun untuk anak-anak dan digantikan dengan film remaja percintaan termasuk salah satu cara merusak generasi muda. Kini dunia pendidikan semakin carut-marut. Belakang santer diperbincangkan tentang buku pelajaran yang terdapat pelegalan terhadap profesi pelacur dan masih banyak lainnya. Kasus remaja yang rela memberikan keindahan tubuhnya untuk sang pacar pun berkali-kali diberitakan. Kini ada pula seorang anak yang masih berumur 15 tahun sudah berani pacaran dan akhirnya mati gantung diri. Efek samping pacaran telah menggejala pada usia beliau, berbeda dengan masa lalu yang pacaran pun dilarang hingga usianya menginjak dewasa.

Seorang gadis remaja bernama Eva (15) ditemukan tewas dalam posisi leher tergantung di rumah majikannya di Jalan Anggrek IV, 05/07, Setiabudi, Jakarta Selatan. Eva diduga memilih mengakhiri hidup karena tak kuat baru saja diputus oleh sang kekasih pujaan hati.

Kapolsek Setiabudi Kompol Tri Yulianto mengatakan, Eva sehari-hari merupakan pembantu rumah tangga yang sejak beberapa bulan terakhir bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah tersebut. “Korban ditemukan oleh majikannya sekitar pukul 08.30 WIB tadi pagi,” kata Tri Yulianto, Senin (16/11/2015) dilansir Sindonews.

Menurut Tri, berdasar keterangan majikan Eva diduga korban memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri karena asmara.”Infonya korban ini baru saja putus dari pacarnya. Kami masih menyelidiki kasus ini,” ungkapnya. Guna keperluan penyelidikan jasad korban dibawa ke RS untuk divisum.

Efek samping pacaran ini harus dihentikan dengan peran agama dalam pendidikan. Sayangnya, pendidikan agama hanyalah 2 jam pelajaran tiap pekannya di sekolah. Mirisnya, pendidikan agama yang berbasis pondok pesantren kini menjadi ajang pemerintahan sekuler untuk melabelinya sebagai pusat pendidikan teroris. Namun faktanya, pendidikan formal justru berkontribusi terhadap rusaknya akhlak anak muda saat ini. Pacaran yang tidak dipantau, pergaulan bebas lawan jenis yang tidak ada batasan membuat generasi muda kian terpuruk.

Source: Sindonews
Editor: Destur

Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.