Diskriminasi Islam Terjadi di Bandara Amerika, Sebungkus Manisan Dituduh Bom

Pemeriksaan petugas bandara Amerika.

Diskriminasi Islam kembali dilakukan secara nyata oleh negara Amerika Serikat (USA). Berbicara dengan bahasa Arab menjadi acuan seseorang adalah sosok yang harus diwaspadai dan dicurigai. Hanya karena berbicara dalam Bahasa Arab, dua orang dilarang masuk ke dalam pesawat maskapai Amerika Serikat (AS).

Amerika seolah memasang wajah takut meskipun mereka adalah dalang terorisme Internasional.

Kedua pria yang dilarang masuk pesawat tersebut bernama Maher Khalil dan Anas Ayyad. Seorang petugas bandara yang menjaga pintu masuk maskapai Southwest, di Bandara Internasional Midway menghalaunya saat akan masuk.

Mereka tidak diperbolehkan masuk karena penumpang lain mendengar keduanya berbicara dalam Bahasa Arab. Penumpang lain itu mengaku takut terbang bersama keduanya.

Kedua pemuda korban diskriminasi Islam tersebut akhirnya diinterogasi oleh pihak keamanan bandara, pada Rabu (18/11/2015) malam waktu setempat di Chicago. Tidak hanya itu, mereka pun diminta untuk membuka bingkisan yang mereka bawa. Seolah orang yang berbahasa Arab itu akan tengah membawa bom.

Kekhawatiran dan kecurigaan mereka pun terjawab dengan isi bingkisan tersebut. Ternyata isinya hanyalah manisan yang dibawa sebagai oleh-oleh.

“Jadi saya berbagi baklava (sejenis manisan) dengan para penumpang lain,” ujar Khalid, kepada NBC 5, seperti dikutip AFP, Sabtu (21/11/2015). Sementara maskapai Southwest menolak untuk berkomentar tentang insiden ini.

Beberapa insiden serupa juga pernah terjadi di penerbangan domestik AS, khususnya setelah serangan di Paris pada 13 November 2015 lalu. Bahkan insiden itu juga melibatkan maskapai yang sama.

Pada hari yang sama, enam pria yang diidentifikasi oleh penumpang lain berasal dari Timur Tengah, diusir dari penerbangan yang akan menuju Houston. Keenam pria itu meminta penumpang lain untuk mengganti tempat duduk dan pada akhirnya menimbulkan keributan.

Lagi-lagi pihak Southwest menolak untuk memberikan keterangan mengenai insiden tersebut. Serangan di Paris, Prancis memicu peningkatan keamanan di negara-negara Barat. Diskriminasi Islam tersebut merupakan salah satu upaya Amerika yang sekutunya untuk menyudutkan Islam. Beragam cara pun dilakukan termasuk fitnah tentang bom di Paris yang diisukan pelakunya adalah muslim dari Syria.

Pos terkait