Bayi Meninggal di RS, Lagi-Lagi Dokter Jadi Sasaran

Ilustrasi ruang rawat inap anak. (Foto: https://hospital.umm.ac.id/)

Dokter jadi sasaran keluarga yang menuduh penanganannya lambat. Sang dokter pun menyanggah prasangka tersebut. Orang tua menuduh bahwa anaknya yang sedang mengalami sakit dan dirawat di rumah sakit tidak ditangani dengan serius.

Maria Keisha boru Panjaitan, seorang balita berusia hampir 4 tahun, meninggal dunia di ruangan rawat inap Rumah Sakit Vita Insani (RSVI) Pematangsiantar, Sumatera Utara dikutip dari Kompas.com.

Balita itu meninggal dunia diduga karena kurang mendapatkan perhatian khusus dari dokter anak rumah sakit tersebut, Kamis (5/11/2015) sore.

Menurut Tiarma boru Butar Butar (28), ibu balita itu, anak perempuannya semula mengalami demam dan kejang-kejang.

Dia lalu membawa putrinya berobat di kampung mereka di Kecamatan Hatonduhan, Kabupaten Simalungun.

Meski saat itu kondisi Maria membaik, Tuarma khawatir demam dan kejang itu bisa kambuh sewaktu-waktu.

Akhirnya, Tiarma dan suaminya, Moden Panjaitan membawa Maria ke RSVI Pematangsiantar, Minggu (1/11/2015) sore.

Namun sejak tiba rumah sakit itu sekitar pukul 16.00 WIB, Maria baru ditangani dokter anak pada sekitar pukul 23.00 WIB.

“Senin malam jam 11 malam, baru datang dokter spesialis anak dokter Susanti,” ujar Tiarma, seraya menangis.

Tiarma dan suaminya menilai dokter itu tidak serius menangani anaknya karena terlambat memeriksa kondisi Maria.

Puncaknya, kata Tiarma, pada Kamis (5/11/2015), penyakit putrinya semakin gawat dan tubuh putrinya membiru.

Namun, dokter Susanti yang menangani balita itu tak kunjung datang. Tiarma dan suaminya sudah bolak-balik mendesak perawat RSVI untuk menghubungi dokter.

Pada Kamis siang sekitar pukul 14.00 WIB, akhirnya dokter datang. Sayangnya, tak lama kemudian, Maria menghembuskan nafas terakhirnya.

Tiarma sangat kecewa dengan cara penanganan dokter yang dinilainya sangat lambat.

“Di mana kau boru (putri), udah di surganya kau boru,” teriaknya dengan berurai air mata.

Sementara di tempat terpisah, dokter Susanti, yang menangani Maria, membantah tidak serius menangani pasiennya.

Susanti mengatakan, dia terlambat memeriksa Maria yang dalam kondisi kritis karena sedang menangani pasien lain.

Susanti menambahkan, sejak awal pasien itu masuk ruang perawatan RSVI, dia langsung memerintahkan para perawat untuk memberikan obat-obatan.

Tak hanya itu, Susanti menegaskan, dia selalu datang dan memeriksa perkembangan Maria yang sedang mengalami demam tinggi itu.

Saat kondisi Maria memburuk, Susanti mengaku dihubungi perawat lewat telepon. Hanya saja, saat itu dia sedang menangani pasien lain di RSUD dr Djasamen Saragih, Pematangsiantar sehingga tak sempat mengangkat telepon.

“Tak benar saya mematikan telepon. Saya tak angkat, karena waktu itu jam 11.00 WIB, saya sedang menangani pasien di rumah sakit umum. Saat menangani pasien, saya tidak terbiasa mengangkat telepon, karena yang saya tangani anak kecil,” jelasnya.

Dia melanjutkan, setelah selesai menangani pasien di RSUD dr Djasamen Saragih, dia bergegas menuju RSVI.

Setiba di rumah sakit itu sekitar pukul 14.00 WIB, dia langsung menangani pasien lainnya, termasuk Maria.

Setelah memberikan penanganan, dia mendapat kabar kalau pasien itu sudah meninggal dunia.

“Sebelumnya saya sudah pernah menangani Maria karena mengidap penyakit paru-paru enam bulan yang lalu.Tetapi kondisi Maria belum membaik waktu itu,” tambah dia.

Pos terkait