Bagaimanakah Seharusnya Perawat Muslim Merawat Pasien Non Muslim?

0

 

Merawat pasien non Muslim tidak serta merta berlaku aniaya terhadap mereka. Bermuamalah dengan orang non muslim sama halnya dengan bermuamalah dengan orang muslim. Perbedaan mendasarnya adalah iman yang tentu mempengaruhi urusan pahala dan rasa cinta. Ketika merawat pasien muslim, tentunya akan bernilai pahala lebih besar karena saling menyayangi sesama muslim adalah kewajiban. Namun ketika merawat pasien non muslim, harapannya seorang perawat dapat memberikan perawatan yang baik sehingga pasien non muslim tersebut dapat menyadari keindahan Islam melalui akhlak seorang perawat muslim.

Allah berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Artinya : “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah : 8)

Imam al Qurthubi mengatakan bahwa ayat ini adalah keringanan dari Allah di dalam berhubungan dengan orang-orang yang tidak memusuhi orang-orang beriman serta tidak memeranginya.

Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
“Tidak ada sesuatu yang lebih berat nanti di mizan (timbangan hari kiamat) daripada akhlak yang baik” [Hadits shohih, riwayat At Tirmidzi (2003)]

Merawat pasien non muslim pun tidak asal pasien, pastikan bahwa pasien tersebut bukanlah pasien yang memusuhi Islam. Perlu diingat bahwa klasifikasi orang non muslim ada dua jenis. Jenis pertama adalah kafir harbi, yakni mereka yang memerangi Islam dengan segala bentuk makar. Orang seperti ini tidak layak mendapatkan belas kasih dari kaum Muslimin. Jenis kedua adalah kafir dzimmi, yakni mereka yang tidak memerangi kaum muslimin. Kafir jenis ini masih tetap mendapatkan haknya untuk menerima perlakuan baik.

Pastikan ketika merawat pasien non muslim tersebut, para perawat muslim memiliki tujuan dakwah. Berbicara sopan, mengenakan pakaian yang rapi dan syar’i serta tidak menyentuh tanpa alas terhadap pasien lawan jenis. Hal ini diharapkan dapat menjadi sarana dakwah bagi pasien tersebut. Terlebih jika akhirnya mereka masuk Islam karena perawatan yang baik, maka pahala besar akan terus mengalir kepada sang perawat muslim.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Tsabit dari Anas bahwa seorang remaja Yahudi yang biasa membantu Nabi shollallaahu ‘alayhi wa sallam mengalami sakit dan Nabi shollallaahu ‘alayhi wa sallam mendatanginya untuk menjenguknya lalu beliau shollallaahu ‘alayhi wa sallam duduk di dekat kepalanya dan mengatakan kepadanya, ”Masuk islamlah kamu.” Kemudian remaja itu memandang ke arah ayahnya yang ada didekatnya dan ayahnya pun berkata kepadanya, ”Taatilah Abal Qosim Muhammad shollallaahu ‘alayhi wa sallam. ”Lalu remaja itu pun masuk islam. Nabi pun meninggalkannya dan bersabda, ”Alhamdulillah yang telah menyelamatkannya dari neraka.”

Sebagai perawat muslim, haram mengucapkan selamat kepada orang kafir. Seperti ucapan “Selamat pagi, siang atau malam” atau semisalnya.

Rosulullah shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda,
”Janganlah kalian mengawali salam kepada orang Yahudi dan Nasrani.” (HR. Muslim)

Sebagai seorang muslim, kita dilarang untuk mengucapkan salam terlebih dahulu kepada pasien non muslim. Namun ketika mereka mengucapkan salam terlebih dahulu, maka seorang muslim boleh menjawab dengan mengucap sebatas “Wa ‘alaykum (dan demikian atasmu)”.

Rosulullah shollallaahu ‘alayhi wa sallam, ”Apabila seorang ahli kitab mengucapkan salam kepada kalian maka jawablah,’Wa Alaikum.” (Muttafaq Alaih)

Setiap tindakan perawatan dalam upaya merawat pasien non muslim mau pun muslim, sama-sama bernilai sedekah. Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Pada manusia itu ada 360 tulang dan masing-masing wajib bersedekah setiap harinya. Setiap kalimat yang baik itu sedekah, pertolongan seseorang terhadap saudaranya termasuk sedekah, memberi minum air termasuk sedekah dan menyingkirkan gangguan di jalan juga termasuk sedekah” [Hadits shohih, riwayat Ath Thobroni (11/55)]

Tinggalkan Komentar