Anak Suka Berbohong, Coba Trik Berikut Ini!

0
Ilustrasi seorang ayah mengajari anaknya. (Foto: https://horoscopovirtual.uol.com.br)

Anak suka berbohong, bisa jadi akibat pola asuh orang tua yang tidak terkontrol atau lingkungan bermain yang buruk. Secara mendasar, faktor internal dan eksternal amatlah sinergi. Faktor internal tentu ditanamkan secara berkala orang tua berupa akhlak yang baik. Bisa jadi, anak yang ketika beranjak besarnya suka berbuat nakal adalah akibat dari jauhnya orang tua dari Al Quran saat mendidik anak semasa kecil. Hal ini menjadikan anak tidak memiliki cukup filter saat bergaul dengan lingkungan.

Salah satu masalah yang akan timbul adalah sikap-sikap buruk berupa saling cela, merusak barang-barang hingga anak suka berbohong. Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati, sebuah pepatah lama yang tidak akan pernah tergantikan. Memberikan imunitas kepada anak untuk menata hatinya dengan aqidah yang baik akan memberikan hasil yang baik baginya dalam segi akhlak. Misalkan sejak kecil anak ditanamkan bahwa Allah mahamelihat, mahamendengar dan mahatahu segalanya, maka anak akan sangat takut untuk berbuat buruk karena sudah memahami konsep tersebut.

Jika kita membahas tentang penyakit dusta dan bagaimana mendidik anak-anak agar tidak berdusta, maka kita harus melakukan hal-hal berikut:

  1. Jangan sekali-kali berbohong di depan mereka atas alasan apa pun.
  2. Jangan menghukum perbuatan bohong yang tidak menyakitkan. Berusahalah untuk menghindari reaksi kekerasan khususnya jika kita tahu bahwa anak telah berbohong kepada kita. Setelah itu kita menasihati anak di tempat yang sunyi dengan suara yang lembut. Jika anka masih kecil dan masih memerlukan gendongan, nasihatilah sambil menggendongnya agar ia merasa tenteram.
  3. Jangan sekali-kali menggunakan kata-kata bohong di depan mereka seperti mengatakan, :Kamu telah berbohong! Kamu anak pembohong!”

Jika perbuatan bohong itu sudah menjadi kebiasaan, maka caranya lebih daripada yang di atas.

  1. Anak harus merasa tentaram. Meskipun ia melakukan suatu kesalahan karena tingkah laku buruknya, ia harus tetap merasa bahwa ia amat disayangi yang dibenci hanyalah perbuatan buruknya.
  2. Anak harus paham tujuan dari sikap orang tua yang menegurnya. Peraturan-peraturan antara boleh dan tidak bolehnya suatu perbuatan haruslah diterangkan dengan jelas kepada anak.
  3. Tidak membebaninya dengan pekerjaan di luar kemampuannya.
  4. Mengemas suatu perbuatan baik dan buruk seperti berbohong dengan sebuah cerita yang dapat tertanam dalam ingatan anak bahwa berbohong itu perbuatan buruk.
  5. Memberikan hukuman secara bertahap. Berikan hukuman yang dapat memberikan pelajaran kepada anak, bukan justru membuatnya mengamuk lalu semakin nakal. Misalkan, perintahkan untuk membaca Al Quran sehari 1 juz, menghafal surat-surat Al Quran yang ia sukai atau juga berpuasa dari makanan yang disukainya.
Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.