Jilbab Syari Mahasiswi Bidan Digunting Paksa Oleh Dosen

Seorang dosen dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Nani Hasanuddin Makassar melakukan pelecehan terhadap dua mahasiswi bidan. Dosen yang berinisial H tersebut menggunting jilbab syar’i dan rok panjang mahasiswi bidan yang tengah praktik di Rumah Sakit. Pasalnya, sang dosen menggunting paksa jilbab syar’i mahasiswi bidan tersebut karena dianggap terlalu lebar dan panjang. Ia menilai, pakaian tenaga muslimah yang sesuai syari’at tersebut melanggar standar kesehatan.

Sebelumnya, tindakan tak terpuji dilakukan H, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Nani Hasanuddin Makassar. Kesal terhadap dua mahasiswi, Dosen H langsung menggunting jilbab dan rok dua anak didiknya.

“Di luar kontrol dosen H menggunting jilbab dan rok mahasiswi,” ujar salah seorang petugas STIKES kepada merdeka.com, Rabu (5/6).

Menurut petugas yang enggan menyebutkan identitasnya itu, dua mahasiswi Program Studi D III Kebidanan yakni AR dan DS sudah berulang kali ditegur. Oleh dosen H, keduanya dinilai melanggar peraturan kampus mengenai busana akademik, yaitu mengenakan jilbab di luar standar dan rok. “Sudah ditegur beberapa kali masih memakai seragam yang tidak sesuai,” kata pria itu.

Faktanya, anggapan dosen yang telah melecehkan Islam tersebut tidaklah terbukti. Tidak ada aturan dalam Rumah Sakit yang melarang petugas medis untuk mengenakan pakaian syar’i menurut ajaran agamanya. (Baca: Seragam Perawat di Somalia Jauh Lebih Syar’i daripada Indonesia)

“Enggak, enggak ada larangan rumah sakit untuk memakai jilbab. Untuk panjang jilbab juga enggak diatur. Jilbab enggak menghalangi kerja kok. Di sini diberi juga pakaian dinas khusus yang berjilbab,” ujar Nadia, salah satu perawat di rumah sakit kanker Dharmais dikutip dari merdeka.com, Rabu (5/6). (Baca: Perawat Muslimah Pakai Celana, Boleh gak sih?)

Dalam menyikapi hal tersebut, sebagai muslim yang baik harus mempertahankan apa yang memang dituntunkan oleh Allah dan Rosul-Nya. Dalam aturan tindakan medis, menggunakan pakaian lebar bukanlah sebuah halangan. Namun satu hal yang perlu diperhatikan adalah tentang adanya infeksi yang mungkin bisa tertular melalui busana. Meskipun demikian, aturan Islam dibuat bukanlah untuk membuat seseorang menjadi terkena musibah. Justru sebaliknya, karena pakaian lebar tersebutlah, agen infeksi tidak langsung mengenai petugas medis. Konsekuensinya adalah sang petugas medis harus selalu membersihkan pakaiannya usai melakukan tindakan. Dengan kata lain, busana tersebut harus berganti tiap hari dan dicuci dengan benar. (Baca: Cara Mencuci Seragam Perawat dengan Benar)

Tags

Destur PJ ,S. Kep

Perawat sekaligus seorang penulis dan juga suka bergabung dalam event organizer. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan seprofesi dan juga para pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker