Inilah Akibat Mempersulit Mahar untuk Khitbah

0

Mahar adalah salah satu syarat untuk meminang gadis yang menarik hati. Banyak sekali kisah pada masa sahabat yang mengisahkan betapa mahar itu harus diberikan. Ada kisah sahabat yang menadu kepada Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa sallam yang ingin menikah. Amat besar inginnya menikah untuk menjaga diri dari perzinaan namun ia terhalang oleh harta yang tergolong miskin. Dalam hal ini, sikap Rosuulullaah shollallaahu ‘alayhi wa sallam tidak lantas memerintahkan ia untuk mencari pekerjaan mapan dulu. Rosul justru bertanya berapa hafalan Al Quran yang dimiliki oleh pemuda tersebut. Akhirnya, dengan bermodalkan hafalan Al Quran, ia pun meminang perempuan yang disukainya. Bahkan dalam suatu hadits, Rosul menyarankan untuk memberikan mahar meskipun hanya dengan cincin yang dibuat dari sepotong kawat. Maka perihal mempersulit mahar bukanlah hal yang lumrah untuk dilakukan sebagai muslim.

Pandangan materialistis yang mendominasi pikiran sebagian masyarakat sama sekali bukan bernuansa Islam, termasuk didalamnya sikap yang berlebihan dalam hal mahar. Bahkan sampai pada taraf para wali dari pihak wanita tidak bersedia melangsungkan akad nikah sebelum tuntutan besarnya mahar yang mereka inginkan dipenuhi. Tidak jarang angka yang diajukan sangat fantastis dan diluar akal sehat. Proses tarik ulur untuk mencapai kesepakatan seperti para petaruh di arena pasuan atau pelelangan barang.

Sungguh, wanita bukanlah barang dagangan yang dijajakan di pasar pernikahan untuk dijadikan sarana mencari materi sebanyak yang mampu diperoleh. Di antara dampak negatif dari sikap berlebihan (menyulitkan) dalam mahar adalah

  1. Memperbanyak jumlah perjaka dan perawan tua.
  2. Menimbulkan kerusakan moral pada kaum laki-laki dan wanita yaitu ketika mereka merasa pesimis tidak bisa menikah sehingga akan mencari jalan lain untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.
  3. Munculnya berbagai penyakit kejiwaan di kalangan para pemuda dan pemudi disebabkan hasrat dan ambisi yang terbendung oleh keputusasaan.
  4. Banyaknya anak-anak yang tidak patuh kepada orang tua mereka, sikap menyimpang dari kebiasaan, menjauh dari tradisi yang baik dan terhormat.
  5. Sikap wali yang mengelabui anak wanita dengan menolak mengawinkannya kepada laki-laki sekufu’ yang sholih karena pihak laki-laki tidak mampu memberikan mahar yang besar, sambil berharap ada laki-laki lain yang mau menikahinya dengan mahar yang lebih tinggi tanpa memperhatikan kebaikan agama dan akhlaknya dan tidak juga memikirkan kebahagiaan anak wanitanya jika hidup dengan laki-laki pilihannya tersebut.
  6. Menimpakan beban terhadap suami di luar batas kemampuanya sehingga menimbulkan kebencian di hati suami terhadap istri dan keluarganya.

Source: Salim, Abu Malik Kamal bin Sayyid (2014). Fiqhus Sunnah Lin Nisa’. Pustaka Arafah: Solo
Editor: Destur

Tinggalkan Komentar