Pahami, Agar Tidak Dilaknat Sampai Pagi

0
"Apabila seorang suami mengajak istrinya ke ranjang namun sang istri menolak dan suaminya pun marah kepadanya, niscaya malaikat melaknatnya hingga subuh."

Suami hadir dalam kehidupan rumah tangga adalah sebagai sosok yang wajib dipatuhi. Bentuk kepatuhan istri terhadap suami adalah menuruti setiap tutur kata suami. Termasuk dalam urusan melayani kebutuhan suami baik lahir mau pun batin. Menikah dengan suami yang memiliki gairah seksual tinggi, istri harus pintar-pintar menyiasati dirinya agar siap kapan pun suami mengajak bercinta. Jika menolak ajakan suami maka malaikat akan melaknat istri hingga pagi.

Sebenarnya cukup sederhana dalam menyikapi ajakan suami. Tatkala suami memang berhasrat untuk menyalurkan gairahnya, memang cukup berbahaya untuk melakukan penolakan. Begitu pun sebaliknya, jangan dikira istri juga tidak bergairah. Hanyasanya hadits yang berkenaan tentang laknat para malaikat itu hanya ditujukan kepada istri. Wallahu a’lam namun suami pun akan terkena ayat yang berkenaan dengan perintah untuk berlaku adil. Adil dalam arti yang lebih luas, suami juga harus paham bahwa istri juga punya hak untuk istirahat. Tentunya harus atas dasar syar’i.

Maka benar sekali hadits yang diriwayatkan oleh Bukhory dan Muslim dari Abu Huroiroh rodhiyallaahu ‘anhu, Rosuulullaah shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Apabila seorang suami mengajak istrinya ke ranjang namun sang istri menolak dan suaminya pun marah kepadanya, niscaya malaikat melaknatnya hingga subuh.”

Hadits ini tentu tidak dimaknai secara brutal. Menolak dalam hadits tersebut berkenaan dengan perilaku istri yang memiliki sifat durhaka. Ia menolak untuk menaati suami padahal kondisinya pada saat itu suami tidak menyimpang dari syari’at dan istri tidak dalam kondisi berhalangan.

Jadi konsep asalnya adalah istri wajib patuh terhadap suami dengan syarat bahwa apa yang diperintahkan dan dilarang oleh suami adalah bersumber dari Al Quran dan Sunnah. Bukan atas dasar sifat egois dan emosi yang membutakan hati karena bisik rayu setan. Suami pun hendaknya paham bahwa tidak selalu kondisi istri siap di segala medan. Bisa jadi istri sedang haid, maka ini alasan yang syar’i dan tidak boleh suami marah. Jika suami marah karena istri menolak ajakannya dengan alasan yang dibenarnya syar’i maka justru sifat tercela ada pada suami karena tidak mau mengerti kondisi istri. Suami dan istri pun perlu merujuk kepada hadits dari ibunda ‘Aisyah yang tetap bisa melayani Rosulullah tatkala bunda sedang dalam kondisi haid. Hal ini pun tidak berlaku hanya pada ibunda ‘Aisyah, tetapi juga kepada istri-istri Rosul. Maka seni menggauli istri itu tidak hanya satu, tapi banyak variannya.

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha:

كَانَتْ إِحْدَانَا إِذَا كَانَتْ حَائِضًا فَأَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُبَاشِرَهَا أَمَرَهَا أَنْ تَتَّزِرَ فِي فَوْرِ حَيْضَتِهَا ثُمَّ يُبَاشِرُهَا. قَالَتْ: وَأَيُّكُمْ يَمْلِكُ إِرْبَهُ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْلِكُ إِرْبَهُ

“Jika salah seorang dari kami (istri-istri Nabi) sedang mengalami haid dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkeinginan untuk bermesraan dengannya, maka beliau menyuruhnya untuk mengenakan sarung guna menutupi tempat keluarnya darah haid (kemaluan), lalu beliau pun mencumbuinya.” Aisyah berkata, “Hanya saja, siapakah di antara kalian yang mampu menahan hasratnya sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menahan.” (HR. Al-Bukhari no. 302)

Dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha:

بَيْنَمَا أَنَا مُضْطَجِعَةٌ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْخَمِيلَةِ إِذْ حِضْتُ, فَانْسَلَلْتُ فَأَخَذْتُ ثِيَابَ حِيضَتِي. فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَفِسْتِ؟ قُلْتُ: نَعَمْ. فَدَعَانِي فَاضْطَجَعْتُ مَعَهُ فِي الْخَمِيلَةِ

“Ketika aku berbaring bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu selimut, tiba-tiba aku haid, lantas aku keluar secara perlahan-lahan untuk mengambil pakaian khusus untuk masa haid. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku, “Apakah kamu sedang nifas (haid)?” Aku menjawab, “Ya.” Lalu beliau memanggilku, lalu aku berbaring lagi bersama beliau dalam satu selimut.” (HR. Al-Bukhari no. 298 dan Muslim no. 444)

Dalam kasus menolak ajakan untuk berhubungan suami-istri, tentunya perlu diingat 2 alasan. Tidak dibenarkan bagi istri untuk menolak ajakan suami dengan alasan yang tidak termasuk udzur syar’i, misalnya kelelahan karena sibuk belanja di mall, mengeluh uang bulanan kurang, atau alasan lain. Cukup bisa diterima alasan istri untuk tidak melayani suami jika kondisi istri memang sedang sakit, haid atau kondisi fisik lain. Alasan berduka cita atas meninggalnya orang yang disayangi tidaklah menjadi alasan karena Ummu Sulaim rodhiyallaahu ‘anha pun melayani suami tepat pada malam dihari anak tercintanya meninggal.

Semua bisa dikomunikasikan, terkhusus bagi suami hendaknya jangan membiarkan istrinya dilaknat oleh malaikat. Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.

Tinggalkan Komentar