Kisah Fatima, Muslimah Bercadar di Negara Minoritas

Mahwash Fatima adalah seorang muslimah bercadar di negara minoritas. Fatima hidup di negara Kanada. Ia mengenakan cadar (niqob) semata karena ketaatannya. Orang-orang yang berjumpa dengannya pun merasa cukup aneh melihat seorang wanita bercadar belalu-lalang di negeri minoritas muslim tersebut. Muslimah bercadar di negara minoritas muslim akan menjadi sangat asing dan tidak jarang dibeberapa negara mendapatkan perlakuan diskriminatif.

“Saya tidak memakai make-up dan saya menyembunyikan kecantikan saya dari dunia dan saya menjaganya hanya untuk beberapa orang pilihan saya. Ini semacam sebuah pengorbanan”, kata Fatima dalam sebuah wawancara dengan CBC News (4/4).

“Saya melakukannya hanya untuk Allah karena saya ingin menjadi lebih dekat dengan-Nya dan saya ingin mendapatkan lebih banyak pahala, jadi inilah pilihan saya,” kata Fatima.

Fatima juga menyebutkan bahwa niqabnya tersebut merupakan sebuah “langkah ekstra.”

Fatima sekarang berusia 33 tahun. Ia telah mengenakan cadar sejak usia 13 tahun. Pilihan ini ia lakukan tepat setelah pindah ke Kanada dari Pakistan.

Ada keluarga dan teman-temannya tidak memakai niqob. Dalam menyikapi hal ini, Fatima memiliki konsep sendiri.

“Para perempuan miskin… Anda akan melihat mereka mengenakan niqob dan secara otomatis Anda akan menerka bahwa mereka tidak berpendidikan dan mereka tidak tahu banyak tentang Islam dan apa yang mereka dengar adalah dari suami mereka”, kata Fatima.

Namun, setelah pindah ke Kanada, Fatima ingin menyelami Islam lebih dalam lagi. Titik balik itu ia mulai dengan mendaftar ke Universitas Ottawa.

“Ini merupakan perubahan persepsi yang besar bagi saya ketika saya melihat para wanita berpendidikan dan perempuan profesional (yang mengenakan cadar)” katanya.

“Sebelumnya saya bahkan tidak dianggap.” Tambah Muslimah bercadar ini.

Kisah pertama kalinya Fatima mengenakan Cadar

Fatima mulai mengenakan niqob sejak tahun 2011, sebulan sebelum tragedi 11 September di Amerika. Keluarganya saat itu sangat khawatir. Fatima kemudian menikah dengan jalur perjodohan Islami. Orang tua khawatir dengan siapa kelak Fatima akan menikah karena sebelumnya belum pernah saling kenal. Beberapa kandidat calon suami pun berkecil dan ada yang merasa khawatir tentang pandangan orang dengan konsep seperti itu.

Namun akhirnya Fatima menikah dengan seorang pria yang tidak keberatan dengan keputusannya untuk mengenakan niqob. Ia mengenakan cadar hanya jika keluar rumah. Citra buruk akan suaminya pun mulai beredar dari mulut ke mulut. Fatima pun masih mendapatkan omongan tidak enak dari orang.

Fatima bekerja secara online

Fatima telah mendapatkan gelar sarjana bisnis. Awalnya ia berharap dapat bekerja di bagian advertising atau marketing. Namun ia sadar bahwa akan terasa sulit bagi seorang muslim yang enggan untuk berjabat tangan selain dengan mahromnya untuk mendapatkan pekerjaan seperti itu.

“Anda akan menyinggung perasaan orang. Jika mereka mengulurkan tangan mereka dan Anda tidak menyambutnya, itu adalah penghinaan, tidak peduli seberapa manis Anda.” paparnya.

Namun kini Fatima telah menemukan pekerjaan yang cocok dengan statusnya sebagai muslimah bercadar di negara minoritas muslim itu. Fatima bekerja secara online dengan menjual barang-barang kosmetik dan produk kesehatan.

Hampir setiap hari Fatima mendengar komentar-komentar jahat seperti “Benarkah? Bukankah ini belum masuk pesta Halloween?”.

Ia dianggap berbusana seperti layaknya pesta Halloween dimana dalam pesta itu semua orang berpakaian menyerupai hantu.

“Aku hanya mengabaikan mereka … Aku mencoba untuk menganggapnya seperti lelucon,” kata Fatima.

“Aku punya kehidupan, ini (cadar) tidaklah membatasi kita”, sebuah kalimat motivasi dari Fatima.

Ia juga memahami bahwasanya putrinya mungkin kelak akan menghadapi problematika yang sama.

Fatima memberikan pilihan terhadap putrinya. Jika putrinya kelak memilih untuk tidak mengenakan cadar maka Fatima pun tidak akan marah. Namun jika putrinya memilih untuk menjadi muslimah bercadar di negara minoritas ini maka ia akan sangat senang.

“Niqab akan menjadi pilihan bagi mereka. Jika mereka tidak memilih untuk mengenakannya, aku tidak akan marah tentang hal itu. Jika mereka memilih untuk melakukannya, aku akan lebih dari senang.”

Source: CBC.ca

Tags

Destur PJ ,S. Kep

Perawat sekaligus seorang penulis dan juga suka bergabung dalam event organizer. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan seprofesi dan juga para pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker