Kesaksian Perawat Jepang Saat Tragedi Perang Dunia II

0

Tomihisa Yamada (87), adalah perawat Jepang yang pernah mencicipi getirnya masa-masa Perang Dunia II. Perawat Jepang ini berasal dari Higashiomi Perfektur Shiga Jepang pernah menjadi anggota Japanese Red Cross dan ditugaskan di rumah sakit angkatan darat Jepang saat Perang Dunia II. Dia melakukan tugasnya sampai ke Indonesia.

“Saya menyaksikan bagaimana kapal dari armada Jepang tertembak dan terendam setelah ditorpedo kapal selam militer AS, dan mereka semua siap untuk mati. Saya menyaksikan sendiri banyak tentara muda menderita penyakit menular dan menuju kematian dalam penderitaan,” katanya kata perawat Jepang yang sudah tampak renta ini kepada┬áJiji, 6 Agustus 2015.

Pada tanggal 1 Juni 1944 setelah lulus dari Palang Merah Jepang dari sekolah pelatihan perawat bantuan, datanglah penugasan kepadanya. Pada tanggal 1 Juli dari Stasiun Otsu berangkat dan sementara tinggal di Hiroshima.

“Kami berlayar dari Pelabuhan Ujina dengan kapal yang disebut Harima Maru,” katanya.

Menuju ke Taiwan ke Selat Bashi dekat Filipina, dan berbaring di dek, kelihatan kapal selam AS menembakkan torpedo dan banyak pelaut Jepang meninggal serta cedera berat.

“Saya tidak takut karena tidak hanya saya sendiri yang ada di sana. Yang lainnya juga melakukannya hingga meninggal,” paparnya.

Dari Filipina kapal menuju Kalimantan kemudian ke Singapura, dan masuk pelabuhan di Jakarta, Indonesia pada tanggal 9 September 1944.

Dari Jakarta Selatan rumah sakit tentara kelima lalu naik kereta menuju ke Malang. Dalam lingkungan kedokteran internal selatan rumah sakit Angkatan Darat ketujuh, melakukan berbagai kegiatan seperti pengukuran suhu tubuh dan sebagainya. Perawatan tentara yang menderita, sakit, dan ada pula yang kembali ke pasukan setelah mendapat obat banyak.

Kemudian pindah ke bangsal menular Februari 1945. Ada yang terkena penyakit tuberkulosis pada tentara yang muda-muda sekitar 20 tahunan itu.

“Saya pun sempat menderita demam sekitar 40 derajat,” katanya.

Yang merasa menderita dan stres ada yang membunuh dirinya dengan racun dan sempat menyebut “Ibu..Ibu…” sebelum meninggal.

Pada bulan November untuk masuk asrama perawat di Baron, dan Maret 46 terkena disentri amuba. Yamada terbaring di tempat tidur sekitar 10 hari dari panas dan diare. Sementara keluar dari Baron pada bulan Mei 1946.

“Saya melihat banyak tentara bunuh diri melompat dari kapalnya di malam hari. Kami kalah perang, aku bertanya-tanya saya pikir saya tidak ingin kembali saat itu,” katanya.

Kemudian Juni 1956 akhirnya tiba kembali di Pelabuhan Otake Hiroshima. Ayah dan ibu datang untuk menjemput. Ayah mengatakan, “Syukurlah”, dan ibu saya sambil menangis mengatakan, “Syukurlah akhirnya bisa pulang juga,” ucapnya sambil menangis.

“Kita semuanya bersatu dan sangat bahagia saat itu,” katanya.

Source: Tribunnews.com

Tinggalkan Komentar