Muslim yang Baik Punya Rasa Malu

0

Malu diartikan sebagai sifat dimana seseorang menarik diri dari sesuatu dan meninggalkan sesuatu itu karena khawatir akan mendapatkan celaan. Pendapat ini dikemukana oleh Al Jurjani dalam At Ta;rifat halaman 94.

Imam Nawawi yang merupakan ‘ulama Syafi’i juga menuliskan dalam Riyadhush Sholihin halaman 246, “Kami meriwayatkan dari Abu Qosim Al Junaid rohimahullah, beliau berkata, “Malu adalah memperhatikan semua nikmat dan merenungi semua kealpaan sehingga lahirlah dari keduanya satu hal yang disebut malu.”

Secara mendasar, malu dikaitkan dengan sifat dasar manusia. Sifat malu cenderung mengarah kepada kebaikan. Jika seseorang sudah tidak memiliki rasa malu maka perilakunya pun menjadi tidak baik. Misalkan Anda berjalan di Rusia atau negara Eropa yang dapat dikatakan agama sudah dikesampingkan. Mereka ciuman di jalan, membuka aurot, mengenakan pakaian yang tidak pantas di tempat umum. Bagaimana mereka makan dengan tangan kiri, memakan makanan haram semisal daging babi dan bahkan melakukan pesta minum bir. Demikianlah potret bangsa kera yang sudah Allah cabut rasa malu pada diri mereka.

Sifat malu menurut Fadhlullaah Al Jailani dalam Fadhlullah Ash Shomad, II/54, malu adalah perubahan yang menyelubungi seseorang lantaran khawatir kepada sesuatu yang tercela, sesutu yang sejatinya buruk.

Macam-macam malu

  1. Ghorizi, malu yang merupakan fitrah manusia atau bawaan dasar.
  2. Muktasab, malu yang dapat diusahakan. Malu jenis inilah yang dalam syari’at begitu ketat diatur sebagai ciri khas seorang muslim.

Malu atas 10 penyebab

Pendapat ini disampaikan oleh Ibnul Qoyyim rohimahullah bahwa malu dapat disebabkan oleh 10 hal:

  1. Malu karena melanggar aturan.
  2. Malu karena kurang bersungguh-sungguh.
  3. Malu karena menghormati
  4. Malu karena memuliakan
  5. Malu karena kekerabatan
  6. Malu karena merasa hina dan kecil
  7. Malu karena cinta.
  8. Malu dalam rangka beribadah.
  9. Malu karena memiliki kemuliaan dan harga diri.
  10. Malu kepada diri sendiri.

Source: Asy Syafi’i, Imtihan (2007). Manajemen Akhlak Salaf Hal. 174-180. Pustaka Arafah: Surakarta

Tinggalkan Komentar