Mau Bikin Ojek Syar’i Muslimah? Penuhi Syarat Ini!

0
Islam mengatur seluruh kehidupan manusia, oleh karenanya kita harus memahami kaidah hukum syar'i agar lebih terjaga.
Ojek syar’i khusus muslimah kini menjadi trending topic di berbagai media online. Bukan hanya media online, bahkan media cetak dan televisi pun meliput sebuah inovasi kreatif ini. Ialah Evilita Andriani yang menjadi inisiator dan sekaligus punggawa hadirnya ojek khusus muslimah. Bisnis ojek muslimah ini telah berdiri sejak 10 Maret 2015.

 

Ojek syar’i muslimah berpusat di Surabaya. Kehadirannya dapat membantu para muslimah yang terkendala dengan kendaraan. Sebagaimana dipahami bersama bahwa kondisi angkutan umum di Indonesia tidak menjamin keterjagaan kehormatan muslimah. Muslimah dalam adalah sosok eksklusif yang amat berharga.

 

Ketika angkutan umum tak lagi menjadi andalan karena seringnya terjadi pelecehan, ojek muslimah menjadi solusi. Perluasan wilayah cabang dari Ojek Syar’i ini akan segera dilakukan. Dilansir Dream.co.id (10/8), bahwasanya wilayah yang sudah dibidik untuk didirikan cabang Ojek syar’i muslimah untuk saat ini adalah Sidoharjo, Malang, Gresik, Yogyakarta, dan Jakarta Barat.

 

Omset dari bisnis ini pun tidak sedikit. Penghasilan yang dijanjikan bagi pegawai yang bertugas di lapangan berkisar 1,2 juta. Omset dari perusahaan ini pun untuk wilayah Surabaya sendiri sudah mencapai 7 jutaan per bulan.

 

Munculnya ojek syar’i syar’i muslimah ini pun kembali menimbulkan pertanyaan bagi beberapa orang. Secara Islam hukumnya bagaimana dengan muslimah yang bekerja di luar rumah. Kondisi lain yang cukup krusial adalah ketika tukang ojek itu adalah ibu-ibu yang sudah memiliki anak, siapa yang akan mengasuh anak mereka.

 

Dalam hal ini, sudah dijelaskan secara umum rambu-rambu sebelum memutuskan bekerja di luar rumah. Beberapa poin yang harus diperhatikan diantaranya:
  1. Pekerjaannya tidak mengganggu kewajiban utamanya dalam urusan dalam rumah, karena mengurus rumah adalah pekerjaan wajibnya, sedang pekerjaan luarnya bukan kewajiban baginya, dan sesuatu yang wajib tidak boleh dikalahkan oleh sesuatu yang tidak wajib.
  2. Harus dengan izin suaminya, karena istri wajib mentaati suaminya.
  3. Menerapkan adab-adab islami, seperti: Menjaga pandangan, memakai hijab syar’i, tidak memakai wewangian, tidak melembutkan suaranya kepada pria yang bukan mahrom, dll.
  4. Pekerjaannya sesuai dengan tabi’at wanita, seperti: mengajar, dokter, perawat, penulis artikel, buku, dll.
  5. Tidak ada ikhtilat di lingkungan kerjanya. Hendaklah ia mencari lingkungan kerja yang khusus wanita, misalnya: Sekolah wanita, perkumpulan wanita, kursus wanita, dll.
  6. Hendaklah mencari dulu pekerjaan yang bisa dikerjakan di dalam rumah. Jika tidak ada, baru cari pekerjaan luar rumah yang khusus di kalangan wanita. Jika tidak ada, maka ia tidak boleh cari pekerjaan luar rumah yang campur antara pria dan wanita, kecuali jika keadaannya darurat atau keadaan sangat mendesak sekali, misalnya suami tidak mampu mencukupi kehidupan keluarganya, atau suaminya sakit, dll. (Konsultasisyariah.com)

 

Dalam Maj’mu Fatawa, Syaikh bin Baz rohimahullaah telah menjelaskan:
Wajib diperhatikan dalam pelaksanaan pekerjaan dan bisnisnya, hendaklah pelaksanaannya bebas dari hal-hal yang menyebabkan masalah dan kemungkaran. Dalam pekerjaan wanita, harusnya tidak ada ikhtilat (campur) dengan pria dan tidak menimbulkan fitnah. Begitu pula dalam bisnisnya harusnya dalam keadaan tidak mendatangkan fitnah, selalu berusaha memakai hijab syar’i, tertutup, dan menjauh dari sumber-sumber fitnah.

 

Karena itu, jual beli antara mereka bila dipisahkan dengan pria itu boleh, begitu pula dalam pekerjaan mereka. Yang wanita boleh bekerja sebagai dokter, perawat, dan pengajar khusus untuk wanita, yang pria juga boleh bekerja sebagai dokter dan pengajar khusus untuk pria. Adapun bila wanita menjadi dokter atau perawat untuk pria, sebaliknya pria menjadi dokter atau perawat untuk wanita, maka praktek seperti ini tidak dibolehkan oleh syariat, karena adanya fitnah dan kerusakan di dalamnya.

 

Bolehnya bekerja, harus dengan syarat tidak membahayakan agama dan kehormatan, baik untuk wanita maupun pria. Pekerjaan wanita harus bebas dari hal-hal yang membahayakan agama dan kehormatannya, serta tidak menyebabkan fitnah dan kerusakan moral pada pria. Begitu pula pekerjaan pria harus tidak menyebabkan fitnah dan kerusakan bagi kaum wanita.

 

Hendaklah kaum pria dan wanita itu masing-masing bekerja dengan cara yang baik, tidak saling membahayakan antara satu dengan yang lainnya, serta tidak membahayakan masyarakatnya.

 

Kecuali dalam keadaan darurat, jika situasinya mendesak seorang pria boleh mengurusi wanita, misalnya pria boleh mengobati wanita karena tidak adanya wanita yang bisa mengobatinya, begitu pula sebaliknya. Tentunya dengan tetap berusaha menjauhi sumber-sumber fitnah, seperti menyendiri, membuka aurat, dll yang bisa menimbulkan fitnah. Ini merupakan pengecualian (hanya boleh dilakukan jika keadaannya darurat). (Lihat Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz, jilid 28, hal: 103-109 dimuat dalam Konsultasisyariah.com)

 

Seorang istri juga tidak boleh keluar rumah kecuali dengan izin suami. Karena tempat asal wanita itu di rumah. Sebagaimana firman Allah, “Dan tinggal-lah kalian (para wanita) di rumah-rumah kalian.” (QS. Al Ahzab [33]: 33)

 

Ibnu Katsir berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa wanita tidak boleh keluar rumah kecuali ada kebutuhan.” (Tafsir Al Quran Al Adzim 6/408). Dengan demikian, wanita tidak boleh keluar rumah melainkan untuk urusan yang penting atau termasuk kebutuhan seperti memasak dan lain-lain. Jika bukan urusan tersebut, maka seorang istri tidak boleh keluar rumah melainkan dengan izin suaminya.

 

Syaikhul Islam berkata, “Tidak halal bagi seorang wanita keluar rumah tanpa izin suaminya, jika ia keluar rumah tanpa izin suaminya, berarti ia telah berbuat nusyuz (durhaka), bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta layak mendapat hukuman.”

 

Islam hadir dalam rangka menjadi pembimbing agar tidak keluar dari kaidah syar’i. Ketika sudah memenuhi kondisi yang dijelaskan oleh para ‘ulama, tentunya dalam bekerja akan menjadi lebih nyaman.
Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.