Hukum Membilas atau Menyetrika Pakaian dengan Pewangi bagi Muslimah

Sebelum masuk ke dalam pembahasan inti, perlu dipahami secara gamblang terkait larangan bagi muslimah memakai parfum di luar rumah. Pewangi bagi muslimah hanya boleh digunakan di rumah. Khususnya untuk suami agar suami bahagia. Tidak terbayangkan jika para muslimah lebih sibuk berhias dalam rangka kerja di luar rumah tapi ketika di dalam rumah justru tampak kucel.

“Perempuan mana pun yang memakai wewangian kemudian keluar dan melewati suatu kaum agar mereka mencium wanginya, maka ia adalah pezina.” (HR. An Nasa’i dan dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

“Jika seorang perempuan memakai wewangian lalu melewati suatu majlis, ia adalah begini dan begini (yakni pezina).” (HR Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’i dan yang lainnya)

“Janganlah kalian menghalangi hamba-hamba Allah yang perempuan dari masjid-masjid Allah. Dan hendaklah mereka keluar dalam keadaan tidak memakai wewangian.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Jika seorang perempuan pergi ke masjid sehingga wangi tercium darinya, Allah tidak menerima sholatnya sampai ia kembali ke rumahnya dan mandi.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, Al Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah)

Sebuah Atsar yang mengisahkan betapa sikap kehati-hatian sahabat ‘Umar bin Khothob untuk menyelamatkan para muslimah kala itu. Betapa mulianya para muslimah namun malangnya justru banyak dari mereka yang mencelakakan diri mereka sendiri.

Yahya bin Ja’dah berkata,”Pada masa pemerintahan ‘Umar bin Khothob ada seorang perempuan yang keluar rumah dengan memakai wewangian. Di tengah jalan, ‘Umar mencium bau harum dari perempatan tersebut maka ‘Umar pun memukulnya dengan tongkat. Setelah itu ‘Umar berkata:
“Kalian para perempuan keluar rumah dengan mamakai wewangian sehingga para laki-laki mencium bau harum kalian. Sesungguhnya hati laki-laki itu ditentukan oleh bau yang dicium oleh hidungnya. Keluarlah kalian dari rumah dengan tidak memakai wewangian.” (Diriwayatkan oleh ‘Abdurrozaq dalam Al Mushonnaf)

Kisah yang serupa pada masa ‘Umar bin Khothob rodhiyallaahu ‘anhu, betapa beliau sangat teliti untuk tidak sekali pun melanggar hukum-hukum Allah.

‘Umar bin Khothob pernah memeriksa shof sholat jama’ah perempuan. Tercium olehnya bau harum dari shof perempuan itu. Lalu ‘Umar berkata:
“Seandainya aku tahu siapa di antara kalian yang memakai wewangian niscaya aku akan melakukan tindakan demikian dan demikian. Hendaklah kalian memakai wewangian untuk suaminya. Jika keluar rumah hendaknya memakai pakaian yang biasa dipakai oleh budah perempuan (pakaian biasa yang tidak mencolok).” (Diriwayatkan oleh ‘Abdurrozaq dalam Al Mushonnaf)

Syaikh Al Albani menyatakan bahwa pemakaian wewangian atau parfum bagi perempuan hukumnya sama saja. Baik dipakai di badan atau pakaian. Sama-sama tidak boleh.

Dengan demikian, jika sabun, krim, lotion atau pewangi pakaian mengandung wewangian yang dapat tercium dari tubuh atau pakaian perempuan yang memakainya, maka hukumnya HARAM dipakai saat ia KELUAR ke tempat yang di situ ada kaum laki-laki. Ada pun jika tidak wangi atau pada mulanya wangi tetapi sudah memudar dan tidak tercium lagi maka boleh digunakan untuk keluar rumah.

Source: Majalah An Najah Hal. 46-47 Ed. 117/ Agustus2015

Destur PJ ,S. Kep

Perawat sekaligus seorang penulis dan juga suka bergabung dalam event organizer. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan seprofesi dan juga para pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker