Penjelasan Seputar Hukum Khitan Laser dan Electrocauter

Khitan dengan metode terbaru kian dikembangkan. Sosialisasi yang kurang mengakibatkan masyarakat pun latah menyebutkan istilah yang tak seharusnya. Khitan laser, disebut-sebut sebagai metode mutakhir untuk melaksanakan khitan. Pertanyaan yang akan timbul adalah benarkan khitan laser yang selama ini disebut itu benar menggunakan laser?

Ternyata khitan yang selama ini disebut laser bukanlah laser!
Laser (Light Amplification by Stimulated Emission od Radiation) merupakan sinar yang disokong oleh tenaga atom. Dalam istilah lain, laser didefinisikan pula sebagai reaksi mekanika kuantum. Jika kita lihat dalam film-film superhero, biasanya efek laser ini digambarkan dengan senjata. Senjata yang memancarkan sinar dan dapat digunakan untuk memotong baja sekalipun. Kurang lebih, demikianlah laser yang sebenarnya.

Namun apakah khitan laser selama ini menggunakan laser sungguhan?
Ternyata yang beredar dimasyarakat bukanlah laser. Ada pun teknologi laser itu memang ada namun tidaklah sebebas yang biasa disebut oleh masyarakat.

Electrocauter
Inilah alat yang sebenarnya disebut-sebut oleh masyarakat sebagai laser. Electrocauter bukanlah laser namun teknologi yang persis seperti setrika yang para ibu gunakan untuk merapikan baju. Atau juga seperti soldier yang biasa digunakan para mekanik listrik untuk melelehkan kabel.

Khitan dengan menggunakan Electrocauter menurut penuturan para bapak yang anaknya dikhitan, khitan dengan model ini lukanya cepat kering. Ada pula yang mengatakan bahwa lukanya tidak keluar darah.

Memang benar karena khitan ini tidak mengeluarkan darah karena teknologi ini menggunakan besi panas. Besi panas yang digunakan untuk memotong ujung kulit kemaluan (Prepotium) anak tersebut akan menghasilkan luka bakar pada bekas sayatannya. Ketika disayat dengan besi panas ini, pembuluh darah yang terkena juga akan terbakar. Hal inilah yang mengakibatkan darah tidak keluar saat dikhitan.

Benarkah Electrocauter tergolong Kay?
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Terapi pengobatan itu ada tiga cara yaitu berbekam, minum madu dan kay (besi panas), sedangkan aku melarang umatku berobat dengan kay. (HR. Bukhory)

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah rodhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Apabila ada kebaikan dalam pengobatan yang kalian lakukan maka kebaikan itu ada pada berbekam, minum madu dan sengatan api panas dan saya tidak menyukai kay. (HR. Bukhori dan Muslim)

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah rodhiyallaahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata,

“Sa’ad bin Mu’adz pernah terkena bidikan panas di urat tangannya kemudian Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa sallam membedahnya dengan tombak yang dipanasi dengan api setelah itu luka-luka itu membengkak kemudian dibedahnya lagi.” (HR Muslim)

Dari Jabir bin ‘Abdullah rodhiyallaahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata:

“Bahwasanya Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa sallam pernah mengirim seorang tabib kepada Ubay bin Ka’ab. Kemudian tabib tersebut membedah uratnya dan menyundutnya dengan al kay (besi panas).” (HR. Muslim. No. 4088)

Para ‘ulama menyebutkan bahwa sebenarnya hadits-hadits tersebut tidak menunjukkan keharaman berobat dengan al kay tetapi hanya menunjukkan kemakruhan jika ada obat lain atau karena di dalam kay mengandung penyiksaan terhadap dirinya. [1]

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata,”Kesimpulan dari penggabungan (hadits-hadits di atas) bahwa perbuatan Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa sallam menunjukkan kebolehan kay, ada pun beliau meninggalkannya dan memuji siapa saja yang meninggalkannya maka tidaklah menunjukkan larangan tetapi hanya menunjukkan bahwa meninggalkan hal tersebut lebih baik daripada menggunakannya. Ada pun larangan beliau untuk menggunakan kay, kemungkinan diterapkan jika ada pilihan lain dan hanya bersifat makruh. Atau pun pada penyakit-penyakit yang memang bisa disembuhkan dengan cara lain”. [2]

Ibnul Qoyyim menuliskan dalam kitabnya,”Hadits-hadits al kay di atas mengandung empat hal. Pertama, bahwa Rosulullah shollallaahu ‘alayhi wa sallam menggunakan al kay. Kedua, Beliau tidak menyukainya. Ketiga, memuji orang yang bisa meninggalkannya. Keempat, hal tersebut tidaklah bertentangan satu dengan yang lainnya. Ada pun perbuata beliau menggunakan kay menunjukkan kebolehannya sedangkan ketidaksenangan beliau tidak menunjukkan larangan. Ada pun pujian beliau kepada orang yang meninggalkannya menunjukkan bahwa meninggalkan pengobatan dengan al kay adalah lebih baik. Sedangkan larangan belau itu berlaku jika memang ada pilihan lain atau maksudnyba makruh atau menggunakannya untuk hal-hal yang tidak diperlukan seperti takut terjadi sesuatu penyakti pada dirinya”. [3]

Kesimpulan tentang hukum khitan Electrocauter

  1. Menurut keterangan para ‘ulama berdasarkan hadits-hadits di atas bahwa operasi dengan menggunakan besi panas tidaklah dianjurkan. Jika ada pengobatan dengan alternatif lain. Padahal kita ketahui, khitan masih bisa dilakukan dengan menggunakan pisau atau gunting cara manual.
  2. Selain itu, menurut pandangan medis bahwa khitan dengan Electrocauter banyak membawa efek negatif pada kesehatan kulit sebagaimana yang telah diterangkan di atas. Walllahu a’lam bish showab. [4]
Sources:
1. Al Hilali, Salim bin ‘Id (2006). Ensiklopedi Larangan Menurut Al Quran dan As Sunnah Hal. 202-204. Pustaka Imam Syafi’i.
2. Al Asqolani, Ibnu Hajar (1987). Fathul Bari, 10/164. Dar Ar Royan: Kairo
3. Al Jauziyyah, Ibnul Qoyyim. Zaadul Ma’ad, Muassasah Ar Risalah: 4/65-66
4. An Najah, Dr. Ahmad Zain (2011). Halal dan Haram dalam Pengobatan, hal. 24. Puskafi: Jakarta.
Tags

Destur Purnama Jati

Seorang penulis blog dan juga Youtube creator. Selain itu juga berkiprah di dunia EO (Event Organizer) terutama dibidang kesehatan. Terkadang juga mengisi pelatihan seputar PPGD dan sejenisnya.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker