Halal Minum Susu dari Dada Istri Sendiri

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin mengatakan: “Menyusui orang dewasa tidak memberi dampak apapun, karena menyusui seseorang yang menyebabkan adanya hubungan persusuan adalah menyusui sebanyak lima kali atau lebih dan dilakukan di masa anak itu belum usia disapih. Adapun menyusui orang dewasa tidak memberikan dampak apapun. Oleh karena itu, andaikan ada suami yang minum susu istrinya, maka si suami ini tidak kemudian menjadi anak sepersusuannya,” (Fatawa Islamiyah, 3/338).

Sebagai salah satu dari 2 daerah paling sensitif, menjadikannya sebagai sarana untuk mencapai kepuasan adalah sangat dianjurkan. Selama tidak melakukan hal-hal yang dilarang, maka bagaimana pun metode untuk berhubungan suami-istri tetaplah boleh. Satu yang pasti adalah kehalalan minum susu dari payudara tersebut adalah dari payudara istri sendiri bukan istri orang lain. Perlu dipahami bahwa seorang istri akan merasakan sensasi yang berbeda tatkala menyusui bayi dengan menyusui suami. Sentuhan yang dilakukan bayi tidak lebih dari hisapan haus. Berbeda dengan hisapan suami yang juga diwarnai dengan permainan kecil seperti sentuhan lidah atau permainan jari pada puting istri. Semua ini justru dianjurkan agar keduanya mencapai kepuasan yang sama.

Setidaknya ada 3 hal yang sebaiknya dihindari dalam berhubungan badan baik secara Islam mau pun secara medis. Itulah pentingnya ilmu sebelum berkata dan bertindak.

Pertama, jangan datangi istri dari belakang. Maksudnya adalah jangan memasukkan penis ke dalam anus istri. Hal ini tidak diajarkan dalam Islam dan merupakan perbuatan orang-orang barrat yang tidak mengenal syari’at. Istilah yang biasa digunakan untuk menyebut teknik ini adalah Doggy Style (Gaya Anjing). Mana mungkin manusia yang derajatnya jauh lebih tinggi daripada hewan, justru mengikuti cara bercinta ala hewan najis, anjing. Hal ini tidak beretika.

Kedua, jangan melakukan oral sex. Metode ini pun biasa dilakukan oleh orang-orang barat yang tidak mengenal agama. Bagaiamana suami menjilati kemaluan istri dan istri diminta suami untuk mengulum kemaluan suami. Keduanya sama-sama menjijikkan. Tidak beretika secara agama karena hal itu menjijikkan. Secara medis pun hal ini dilarang karena kotor. Mana bisa dicerna dengan logika, kedua lubang yang berfungsi untuk mengeluarkan kotoran, dikulum dan dijilat dengan mulut. Sekali lagi diingatkan bahwasanya kedua lubang itu adalah lubang yang digunakan untuk mengeluarkan sisa metabolisme. Secara otomatis banyak terdapat bakteri pada di daerah itu. Tidak pantas mengulum penis atau menjilati vagina dengan mulut dimana mulut biasa digunakan untuk membaca Al Quran dan berdo’a.

Ketiga, jangan meminta istri untuk menjilat madzi dan menelan sperma. Tidak ada manfaatnya bagi istri ketika menelan sperma. Terlebih Madzi yang juga keluar saat suami-istri terangsang. Saat suami menjilati kemaluan istri, otomatis madzi yang juga istri keluarkan bisa terjilat. Begitu pun istri, saat mengulum kemaluan suami maka otomatis madzi pun ikut tertelan. Apakah bisa dicerna dengan akal, madzi yang jika terkena pakaian saja harus dicuci bersih atau dianggap terkena najis hingga dibersihkan, justru ditelan ke dalam perut. Hal ini akan mengotori tubuh kita dengan benda najis.

Ketiga hal di atas adalah metode bercinta ala barat. Mereka tidak memikirkan adab dan syari’at, itulah nafsu binatang yang hanya memikirkan kepuasan seksual.

Sebagai tambahan satu lagi. Jangan melakukan kekerasan hanya untuk mendapatkan kepuasan seksual. Ada salah satu metode yang juga dilarang dalam bercinta. Mulai dari menyakiti istri atau melakukan pukulan-pukulan pada suami. Termasuk cara barat dalam bercinta, adalah dengan mengikat istri lalu suami melakukan tugasnya. Hal ini termasuk perilaku tidak beradab.

“Sebagian besar penelitian diarahkan untuk menjaga kesehatan dada dan sedikit yang mengetahui bagaimana perempuan bisa menikmati payudaranya saat berhubungan seksual,” kata Pendidik Kesehatan Seksual di Kinsey Institute, di Indiana University, Debby Herbenick, Ph D., seperti dilansir WomensHealthMag, Selasa (10/6/2014).

Demikian pentingnya dada untuk berbagai kesempatan. Oleh karenanya jika ada para wanita terutama yang masih gadis tidak memperhatikan kecantikan dadanya maka itulah tandanya ia kurang bersyukur atas apa yang diberikan. Lakukanlah perawatan dengan cara yang dibenarkan baik secara agama mau pun medis.

Tags

Destur Purnama Jati

Seorang penulis blog dan juga Youtube creator. Selain itu juga berkiprah di dunia EO (Event Organizer) terutama dibidang kesehatan. Terkadang juga mengisi pelatihan seputar PPGD dan sejenisnya.

Related Articles

One Comment

  1. Adakah hadits shahih yang menguatkan tentang kehalalan meminum air susu dari payudara istri? Bila hanya satu keterangan saja, maka itu tidak bisa dijadikan dasar ke-halal-an. Apalagi ini menyangkut fiqh. Jangan karena atas dasar kenikmatan hubungan seksual, satu keterangan dijadikan dasar ke-lalal-an.
    Apakah ada keterangan dari ‘jumhur ulama’ yang menguatkan nya? Karena bila tidak ada, berarti masih diragukan. Dan bila meragukan, berarti lebih baik atau bahkan wajib untuk ditinggalkan.

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker