Sepuluh Tips Mempertahankan Cinta Ala Salman Al Audah

Mencintai dan dicintai adalah sebuah hubungan simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan satu sama lain. Uniknya, terkadang hubungan ini pun bisa menjadi komensalisme atau parasitisme. Rumit jika dijelaskan dengan sebuah teori namun pada hakikatnya cinta adalah sebuah naluri. Dominannya hati atas otak menyebabkan maknanya sulit untuk diterjemahkan dengan logika.

Pasangan suami-istri tidak menutup kemungkinan pula terkadang terjadi konflik dalam kisah cintanya. Inilah saat-saat dimana pembuktian cinta mereka diuji. Untuk mempertahankan keharmonisan hubungan, mari kita simak tips-tips dari syaikh Salman Al Audah berikut ini:

Muat Lebih

1. Gunakan komunikasi yang baik
Biasakan untuk menggunakan kata-kata positif seperti doa-doa baik atau kata-kata pujian. Salah satu kalimat romantis untuk istri misalnya, “Andai saja waktu kembali lagi, tentu aku tidak memilih istri selainmu”. Begitu pun sebaliknya kepada suami.

Kata-kata emosional menyentuh perasaan seorang wanita. Dengan kata-kata ini, pencuri mampu masuk ke benteng-benteng kemuliaan lalu mencuri segala barang berharga yang ada di sana. Kata-kata baik mampu membahagiakan hati seorang wanita. Untuk itu, ucapkan kata-kata baik pada istri sebelum istri mendengar kata-kata lain dari lelaki lain.

2. Perilaku penuh cinta
Sempatkan sedikit waktu untuk sekedar menanyakan keadaan istri. Hakikatnya istri selalu suka diperhatikan. Hubungi istri dari tempat kerja sekedar untuk mengucapkan salam dan buatlah istri merasakan hal itu (cinta). Misal perilaku yang lain, jika melihat istri sedang tidur maka tutupkanlah selimut padanya.

Begitu pun ketika melihat suami sedang tertidur, ciumlah kepalanya bahkan meskipun ia yakin suaminya tidak merasa karena suami punya perasaan selalu berfungsi bahkan saat tidur. Jangan pernah mengira kalau suami tidak tahu!

Betapa mulia Rosul shollallaahu ‘alayhi wa sallam kita yang telah mengajarkan kita betapa romantisnya beliau. Ada kisah dimana Rosulullah minum dari bekas bibir ibunda ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha.

dari ‘Aisyah rodhiyallaahu ‘anhu, ia berkata,”Suatu ketika aku minum saat sedang haid, lalu aku berikan (minuman itu) kepada Nabi shollallaahu ‘alayhi wa sallam, beliau kemudian meletakkan mulut beliau di (bekas) tempat mulutku lalu beliau minum. Aku menggigit daging saat sedang haid lalu aku berikan (daging itu) kepada Nabi shollallaahu ‘alayhi wa sallam, beliau kemudian meletakkan mulut beliau di (bekas) tempat mulutku, setelah itu beliau makan. (Shohih Muslim, no. 300)

3. Luangkanlah waktu
Membicarakan masa lalu dan memori-memori indah. Membicarakan hal-hal semacam ini akan kembali mengulang memori hingga terasa seperti baru terjadi kemarin. Membicarakna mada depan, rencana dan bagian-bagian baru. Membicarakan saat ini, apa saja sisi positif dan negatifnya, bagaimana cara mengatasi persoalan yang ada.

4. Kedekatan fisik
Kedekatan fisik bukan hanya berhubungan badan atau pergaulan, tapi kebiasaan untuk selalu dekat di tempat-tempat duduk dan kala berada dalam perjalanan. Meskipun masih ada saja yang merasa malu dilihat orang ketika berjalan bersama istri disampingnya, atau bahkan dibelakangnya.

5. Jaminan bantuan perasaan ketika diperlukan
Saat sedang hamil atau haid, wanita memerlukan dukungan moral. Langkah ini bisa ditempuh dengan memberikan penghargaan terhadap kondisi kejiwaannya. Para ahli kedokteran mengatakan bahwa sebagian besar kaum wanita saat sedang hamil, haid atau nifas mengalami ketegangan jiwa yang menyebabkan ketidakstabilan perilaku. Bisa juga ketika suami sedang kelelahan pulang kerja atau ketika sedang sakit.

6. Ungkapan cinta melalui materi
Bisa melalui hadiah, baik terkait kesempatan tertentu ataupun tidak ada kesempatan apa pun. Kejutan memberikan kesan yang indah. Nilai hadiah tidaklah penting bagi wanita, yang penting adalah kesempatan dan kesesuaian dengan cita rasa dan apa yang disukai sang istri.

7. Menebarkan spirit memaafkan dan melupakan sisi negatif
Jangan selalu menunggu untuk mendapatkan balasan baik dari istri atas kebaikan yang suami lakukan. Hendaknya bersikap adil. Ibnu Muflih berkata,

“Aku heran pada orang yang menangisi kematian orang lain dengan deraian air mata. Namun tidak menangisi kematiannya sendiri dengan air mata darah. Aku heran pada orang yang melihat aib orang lain terasa besar. Sementara ia buta untuk melihat aib sendiri”.


8. Saling pengertian
Terutama seputar permasalahan bersama seperti anak-anak, pekerjaan, perjalanan, pengeluaran dan permasalahan lain yang mengancam kehidupan keluarga.

9. Memperbarui dan mencairkan es
Memperbarui dalam arti baik diri sendiri, pasangan mau pun kehidupan keluarga.

10. Menjaga hubungan saling percaya
Tidak perlu membanding-bandingkan istri dengan wanita lain atau sebaliknya. Membanding-bandingkan semacam ini akan merusak kehidupan rumah tangga, membuat satu sama lain tidak saling memerlukan. Bunga-bunga di taman milik orang lain umumnya terlihat lebih indah karena tangan kita tidak mendekati bunga-bunga itu.

Salman Al Audah
Banaaty (Putriku), hal. 109-114
Mutiara Publishing

Pos terkait