Macam-Macam Penyebab Gatal Pada Vagina

0
Wanita merupakan makhluk hidup yang begitu berharga. Dalam kehidupannya amat penuh dengan resiko, terlebih dalam hal kesehatan. Salah satu hal yang bagi sebagian perempuan dianggap repot adalah perihal perawatan. Padahal justru karena sebegitu istimewanya maka wanita itu harus senantiasa harus melakukan perawatan. Contoh dari akibat perawatan yang tidak baik adalah timbulnya rasa gatal pada vagina. Organ tubuh satu ini adalah organ tubuh yang sangat manja. Perlu perawatan khusus untuk vagina agar tetap bersih, harum dan disukai oleh suami. Tentu saja suami adalah satu-satu orang yang berhak untuk menikmati vagina sang wanita. Maka sebelum menikah hendaknya tidak menyerahkannya kepada siapa pun, terlebih dengan pasangan zina (pacar). Perlu diingat, dalam Islam tidak ada yang namanya pacaran. Jika suka maka segera dinikahi.

Gatal pada vagina dapat diakibatkan oleh iritasi bahan-bahan kimia yang digunakan untuk perawatan. Misalnya sabun khusus vagina, tisu, krim vagina, pembalut bahkan kondom. Selain itu, peran bakteri juga turut andil. Bakteri jahat dapat menyebabkan bau, rasa gatal, dan mengeluarkan cairan kental yang tidak normal. Jamur juga dapat menyebabkan gatal paga vagina. Jamur yang biasa muncul adalah kandidiasis. Jamur ini akan menyebabkan gatal jika tumbuh berlebihan pada vagina dan vulva. Selain rasa gatal, dapat juga diiringi dengan keputihan.

Penyakit menular seksual (PMS) juga perlu diteliti lebih lanjut dengan pemeriksaan diagnostik. Penyakit yang memiliki tanda dan gejala berupa gatal misalnya herpes, klamidia, trikomoniasis, dan gonore.

Menopause menyebabkan turunnya produksi estrogen di akhir masa reproduksi wanita dapat menyebabkan dinding vagina menipis dan mengering, sehingga menyebabkan iritasi dan gatal. Selain pada lansia, kondisi ini dapat terjadi pada wanita yang sedang menyusui.

Timbulnya bercak putih pada kulit sekitar vagina. Bercak ini disebut juga dengan Lichen Sklerosis. Untuk wanita muda sepertinya tidak akan ditemukan bercak ini karena biasanya ditemukan pada wanita pascamenopause.

Stres, meski jarang terjadi, namun kondisi emosional yang tidak stabil dapat menyebabkan sistem kekebalan menurun sehingga membuat tubuh lebih berisiko mengalami gatal dan iritasi.

Rasa gatal tersebut bisa saja akan hilang dengan sendirinya, namun jika tidak kunjung hilang hendaknya segera hubungi tenaga medis terdekat untuk dilakukan perawatan (INGAT, sesama muslimah). Waspadai jika ada gejala berikut ini:

  1. Adanya cairan tidak normal dari vagina.
  2. Adanya bisul atau luka pada vulva.
  3. Susah BAK atau perih saat BAK.
  4. Gejala-gejala tidak normal lain yang tetap ada hingga lebih dari 1 minggu.
  5. Gatal disertai pendarahan dan pembengkakan.

Beberapa penanganan yang biasa dilakukan untuk beragam jenis penyebab rasa gatal pada vagina wanita itu diantaranya:

  1. Infeksi menular seksual ditangani dengan antibiotik.
  2. Jamur pada vagina ditangani dengan obat-obatan antijamur yang dikonsumsi dengan diminum atau krim yang dioleskan pada vagina.
  3. Gatal yang disebabkan menopause ditangani dengan krim atau tablet estrogen. Krim atau losion estrogen kadang digunakan untuk mengatasi gatal dan inflamasi.
  4. Obat-obatan antihistamin digunakan untuk menangani gatal akibat alergi.
Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.