Kesimpulan Tentang Hukum Khitan Wanita

Para ‘ulama sepakat bahwa khitan wanita secara umum ada dalam syari’at Islam (Al Bayan min Al Azhar Asy Syarif, 2/18). Namun terjadi perbedaan pendapat tentang status hukumnya. Apakah khitan wanita itu wajib, sunnah atau hanya sekedar anjuran dan suatu kehormatan. Hal ini dikarenakan dalil yang menjelasannya hanya sedikit sehingga sulit untuk dirinci hukumnya.

1. Dalil pertama tentang khitan wanita

Hadits Abu Huroiroh rodhiyallaahu ‘anhu bahwasanya Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda,”Lima hal yang termasuk fitroh yaitu khitan, mencukur rambut kemaluan, memotong kuu, mencabut rambut ketiak dan mencukur kumis”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Pendapat yang mewajibkan khitan wanita mengatakan bahwa arti “fitroh” dalam hadits tersebut adalah perikehidupan yang dipilih oleh para nabi dan disepakati oleh semua syari’at sehingga menunjukkan kewajiban. Adapun yang berpendapat bahwa khitan wanita itu sunnah, memandang dari sisi disebutnya khitan wanita tersebut bersamaan dengan amalam-amalam yang statusnya juga sunnah seperti memotong kumis, memotong kuku dan lainnya.

2. Dalil kedua tentang khitan wanita
Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Apabila bertemu dua khitan maka wajib mandi” (Hadits shohih riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

‘Ulama yang berpandangan wajib beralasan bahwa dalam hadits tersebut dinyatakan bahwa salah satu yang membuat seseorang mandi janabah adalah bertemunya dua khitan. Dua khitan tersebut diartikan sebagai alat kelamin suami dan istri yang keduanya dikhitan. Namun bagi yang berpendapat bahwa khitan wanita itu sunnah berdalil bahwa hadits tersebut tidak tegas menyatakan kewajiban khitan bagi wanita. (Asy Syaukani. Nailul Author, 1/147)

3. Dalil ketiga tentang khitan wanita

Hadits dari Anas bin Malik rodhiyallaahu ‘anhu bahwasanya Rosulullaah shollallaahu alayhi wa sallam bersabda kepada Ummu ‘Athiyah,”Jika engkau mengkhitan wanita maka potonglah sedikit dan janganlah berlebihan karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih disenangi oleh suami”. (HR Abu Daud dan Al Baihaqi)

‘Ulama’ yang mewajibkan khitan wanita berpandangan bahwa hadist di atas derajatnya “HASAN”, sedangkan yang menyatakan sunnah atau untuk kehormatan wanita menyatakan bahwa hadits tersebut “LEMAH”.

4. Dalil keempat tentang khitan wanita
Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Khitan itu sunnah bagi laki-laki dan kehormatan bagi wanita”. (HR. Ahmad dan Al Baihaqi)

Hadits tersebut adalah dalil yang digunakan oleh ‘Ulama yang mengatakan bahwa khitan wanita bukanlah wajib dan sunnah melainkan kehormatan. Hadits ini dinyatakan “LEMAH” karena didalamnya terdapat rowi yang bernama Hajaj bin Arthoh.

Kesimpulan Tentang Hukum Khitan Wanita
Dari beberapa hadits di atas sangat wajar jika para ‘Ulama berbeda pendapat tentang hukum khitan wanita. Tapi yang jelas semuanya mengatakan bahwa khitan wanita ada dasarnya dalam Islam. Meskipn harus diakui bahwa sebagian dalilnya masih samar-samar. Perbedaan para ulama di atas dalam memandang khitan wanita harus disikapi dengan lapang dada.

Ada pun hikmah yang bisa diambil dari perbedaan pendapat di atas bisa memberikan kita gambaran. Bahwa keadaan organ wanita (khususnya klitoris) antara akhwat satu dengan yang lainnya berbeda. Bagi yang memiliki klitoris berukuran besar dan mengganggu aktivitasnya sehari-hari dan membuatnya tidak pernah tenang karena sering terangsang dan dikhawatirkan akan menjerumuskan ke dalam tindakan yang keji seperti zina maka bagi wanita tersebut hukumnya wajib dikhitan.

Sedangkan bagi wanita yang ukuran klitorisnya tidak terlalu besar dan tertutup dengan selaput kulit maka baginya sunnah melakukan khitan. Hal ini karena untuk menjadikannya lebih baik dan lebih dicintai oleh suaminya sebagaimana dijelaskan dalam hadits sebelumnya. Sekaligus akan membersihkan kotoran-kotoran yang berada di balik klitorisnya. Ada pun wanita yang memiliki klitoris yang kecil dan tidak tertutup dengan kulit maka khitan bagianya adalah kehormatan. (Ridho Abdul Hamid, Imta’ul Khilan bi Ar Roddi ‘ala man Ankara Al Khitan, hal. 21-22)

Source: An Najah MA, Dr. Ahmad Zain (2011). Halal dan Haram dalam Pengobatan, hal. 11-14. Puskafi: Jakarta.

Tags

Destur Purnama Jati

Seorang penulis blog dan juga Youtube creator. Selain itu juga berkiprah di dunia EO (Event Organizer) terutama dibidang kesehatan. Terkadang juga mengisi pelatihan seputar PPGD dan sejenisnya.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker