Inilah 4 Strategi Berkomunikasi dengan Anak

0
Inilah 4 Strategi Berkomunikasi dengan Anak
Inilah 4 Strategi Berkomunikasi dengan Anak

Senyuperawat.com – Berkomunikasi dengan anak memerlukan cara yang efisien. Buah hati selalu menjadi pengharapan setiap orang tua agar ia tumbuh dan berkembang dengan baik dan lebih baik. Tak ayal orang tua selalu memperhatikan pola asuh yang benar agar sukes mendidik anak. Penting bagi anda para orang tua mengetahui cara mendidik anak melalui komunikasi yang benar. Inilah beberapa uraian tentang strategi mendidik anak dengan membangun komunikasi yang baik.

Perintah dan larangan dalam berkomunikasi dengan anak

Orang tua sebagai guru tentu memiliki amanah untuk mengajarkan nilai-nilai kebaikan pada sang buah hati. Nilai-nilai kebaikan bisa ditanamkan kepada anak dengan jalan perintah-larangan. Orang tua bisa ‘berkomunikasi’ dengan anak dengan mengenalkan hal-hal yang positif dan mengajari agar dapat diamalkan, serta mengenalkan hal-hal negatif dengan tujuan agar anak dapat menjauhinya. Ayah dan Bunda, jangan salah ya, kebaikan dan keburukan sama-sama penting untuk diketahui para buah hati. Bedanya, mengenalkan kebaikan agar sang anak mengamalkan, dan mengetahui keburukan agar anak paham dan tidak mendekati keburukan tersebut. Begitulah maksud sebuah syair tentang pentingnya mengetahui kebaikan dan keburukan.

Aku mengenal kejelekan bukan untuk kejelekan, akan tetapi untuk menghindarinya. Dan barang siapa yang tidak mengenal dan membedakan antara kebaikan dari kejelekan maka dia akan jatuh ke dalam kejelekan itu. (bait syair)

Para shohabiyah saat bertanya kepada Rosuulullaah pun tak sekedar bertanya tentang kebaikan, namun juga keburukan agar terhindar dari keburukan tersebut. Mari kita simak penggalan hadist dari Hudzaifah bin Yaman dalam shohih Bukhori berikut ini:

“Orang-orang bertanya kepada Rosuulullaah shollallaahu ‘alayhi wa sallam tentang kebaikan sementara aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan aku terkena keburukan itu….” (HR. Al-Bukhori no. 7084 dan Muslim no. 1847)

Orang tua bisa membiasakan komunikasi yang baik melalui perintah dan larangan pada saat buah hati masih berusia anak-anak. Perintah dan larangan merupakan komunikasi yang efektif untuk anak-anak karena di usia kanak-kanak akal dan emosi belum berkembang secara dominan.

Bahasa cinta kepada anak

Manusia, termasuk anak adalah makhluk yang memiliki kecenderungan pada sesuatu yang baik, indah, dan cenderung menyukai hal-hal yang dapat menyentuh hati. Maka, saat Ayah dan Bunda berkomunikasi dengan anak, gunakanlah bahasa-bahasa yang lembut penuh kasih dan cinta. Ini penting, agar anak tidak merasa kehilangan kasih dari orang tuanya. Apalagi jika anak sudah bukan lagi balita atau kanak-kanak. Dalam perkembangannya, semakin anak berkembang menjadi dewasa, yang mendominasi dalam dirinya berturut-turut adalah akal, perasaan, dan perilaku. Pada fase remaja, perasaan dan perilaku adalah hal yang dominan dalam dirinya. Sehingga orang tua perlu memperhatikan cara menyampaikan maksud dengan bahasa yang mudah masuk dalam kalbunya.

Kecenderungan manusia adalah menyukai perkataan lemah lembuh penuh hikmah. Apabila orang tua berkomunikasi dengan kata-kata yang kasar sudah barang tentu anak tidak ingin mendengarkan meskipun maksud yang disampaikan adalah kebaikan.

“Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Q.S Aali ‘Imran:159)

Orang tua yang selalu berkata-kata dengan penuh kasih sayang, bersiap-siaplah akan dibanjiri cinta dan kasih sayang kembali dari anak-anaknya. Seperti perkataan Al-Jahizh dalam Al-Bayaan wat-Tabyiin, “Barangsiapa yang ucapannya lembut, maka wajiblah baginya dicintai”.

Argumentasi dalam berkomunikasi dengan anak

Ada kalanya, anak belum puas hanya dengan di beri perintah dan larangan. Mereka akan menagih penjelasan. Sehingga anak yang memiliki keingintahuan yang tinggi akan mulai bertanya kenapa dan mengapa. Orang tua dituntut untuk cerdas di depan buah hati yang kurang puas dengan hanya disuguhi perintah dan larangan tersebut. Disinilah orang tua harus sadar bahwa belajar itu proses kehidupan yang never ending selama ruh masih terkandung dalam badan. Anak-anak yang mulai meninggalkan usia kanak-kanak umumnya yang lebih berkembang adalah akal dan perasaannya. Itulah mengapa anak dalam fase ini lebih banyak bertanya dan curiosity-nya lebih tinggi. Orang tua kudu bisa mengimbangi. Jangan mengeluh dan kesal jika anak banyak bertanya “mengapa”, karena anak-anak seperti ini sesungguhnya anak-anak yang luar biasa cerdas.Do’a kebaikan

Ayah dan Bunda, jangan salah lho bahwa komunikasi itu harus selalu dengan kata-kata verbal. Do’a juga menjadi strategi komunikasi orang tua kepada anaknya. Berdo’a, memohon kebaikan untuk buah hati tercinta kepada Allah, Dzat yang memiliki kehidupan manusia. Inilah komunikasi yang agung, karena Ayah dan Bunda menyambung hati antara anak, orang tua, dan Allah sang Penggenggam hati. Inilah strategi komunikasi yang dicontohi oleh para nabi dan rosul yang mulia. Seperti halnya baterai, anak juga memiliki ruh yang perlu di-charge. Do’a orang tua akan memberi asupan ruh yang “hidup” kepada anaknya.

Ayah dan Bunda jangan pernah ragu untuk mendoakan anak-anaknya. Allah sendiri yang menjamin terkabulnya doa yang dilantunkan orang tua.

“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizholimi.” (HR. Abu Daud no. 1536. Syaikh Al Albani katakan bahwa hadits ini hasan).

Melalui doa, Ibrohim ‘alayhis salaam menginginkan kebaikan anak cucunya agar selalu beribadah kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa.

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrohim: 40)

Tatkala Ibrohim ingin agar Allah menjaga anak cucunya dari perbuatan syirik, ia berdo’a, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrohim: 35)

Allah pun mengabadikan sifat-sifat para ‘ibadurrahman yang berdoa, “Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqon: 74)

Tangan digunakan untuk mendekap secara langsung orang-orang yang dikasihi. Maka, berdoa adalah cara orang tua mendekap anak-anaknya dari jauh. Agar Allah saja yang menjadi sumber ikatan cinta antara orang tua dan anak tercinta.
Kontributor: Mia-soltief
Editor: Khothob
Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.