Transfusi darah Berhubungan Dengan Risiko Infeksi di Rumah Sakit

0
Setiap 1 dari 20 pasien rawat inap di rumah sakit, meningkatkan taraf infeksi terkait layanan perawatan mereka. Infeksi ini berpotensi memperburuk kondisi dan memperpanjang masa perawatan. Pada beberapa pasien bahkan mengakibatkan kematian. Strategi untuk mengurangi infeksi yang berlaku selama ini adalah menggunakan daftar periksa, meningkatkan kebersihan tangan, dan menghindari penggunaan kateter urin.

Salah satu tindakan di rumah sakit yang cukup sering kita jumpai adalah transfusi darah. Di Amerika, setiap harinya ada sekitar 37.000 darah ditransfusikan kepada pasien yang membutuhkan. Baik pasien yang sudah tidak mampu lagi memproduksi sel darah merah yang mencukupi kebutuhan tubuh hingga pasien yang tidak dapat membersihkan darahnya sendiri karena kerusakan ginjal. Transfusi sering diberikan ketika pasien memiliki tingkat hemoglobin rendah dalam sel darah merah. Tingkat hemoglobin normal berkisar antara 14 hingga 17 g/dL (gram per desiliter) pada laki-laki dan 12 sampai 15 g/dL pada wanita.

Secara mendasar, resiko infeksi yang disebarkan dari donor darah amatlah rendah karena sebelum ditransfusikan, darah tersebut telah mengalami proses seleksi. Namun ketika darah itu mulai ditransfusikan, sistem kekebalan tubuh pasien terkadang bereaksi terhadap zat yang terkandung dalam darah donor. Hal ini memungkinkan terjadinya infeksi oleh sebab lain di luar tindakan transfusi.

Sebuah tim yang dipimpin oleh Drs. Mary Rogers dan Jeffrey Rohde dari University of Michigan meneliti hubungan antara strategi transfusi dan infeksi terkait perawatan kesehatan. Riset itu didanai oleh NIH National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI). Hasilnya diterbitkan April 2, 2014, dalam Journal of American Medical Association.

Para ilmuwan menganalisis data dari 18 uji klinis acak secara bersama-sama termasuk lebih dari 7.500 pasien. Percobaan ini dibandingkan antara strategi transfusi bebas (dimana pasien menerima lebih banyak darah) dengan strategi transfusi restriktif (dimana pasien menerima darah lebih sedikit, umumnya hanya ketika tingkat hemoglobin mereka turun di bawah 7 atau 8 g/dL atau mereka memiliki gejala kekurangan hemoglobin). Tim meneliti insiden infeksi terkait perawatan kesehatan, seperti pneumonia, infeksi luka, dan sepsis.

Resiko infeksi di rumah sakit amatlah serius. Dengan metode Liberal Transfusion Strategies (Strategi Transfusi Liberal), resiko infeksi pasien adalah 17%. Berbeda dengan metode Restrictive Transfusion Strategies (Strategi Transfusi Restriktif) yang terpaut 5% yaitu 12%. Para peneliti menghitung bahwa dari 1000 pasien, 26 diantaranya dapat terbebas dari infeksi dengan metode RTS.

Pada pasien yang menjalani operasi pinggul atau lutut, atau yang sudah memiliki sepsis, strategi transfusi restriktif mengurangi risiko infeksi sebesar 30% atau lebih. Namun risiko infeksi sama untuk 2 strategi transfusi pada pasien dengan penyakit jantung yang sakit kritis, memiliki perdarahan gastrointestinal akut bagian atas, atau untuk bayi dengan berat badan lahir rendah.

Rohde mengatakan,”Transfusi mungkin bermanfaat bagi pasien dengan anemia berat atau kehilangan darah. Namun, untuk pasien dengan kadar sel darah merah yang lebih tinggi, risiko dapat lebih besar daripada manfaatnya”. (Destur/Senyumperawat.com)

Source: Carol Torgan, Ph.D dalam https://www.nih.gov dipublikasikan 14 April 2014 diakses pada 9 Mei 2015
Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.