Perlu Diadakan Pelatihan Senyum Perawat

0

Senyumperawat.com – Senyum Perawat merupakan obat tersendiri bagi pasien. Perawat yang tidak tersenyum ketika berjumpa dengan pasien seolah menjadi penawar obat. Berbanding terbalik dengan senyum, ia dapat menjadi penawar racun. Entah paradigma dari mana, namun kontroversi istilah “PERAWAT JUDES” tiba-tiba muncul dan merebak di tengah masyarakat. Terlepas dari bakat terpendam perawat tersebut, hal ini sempat menjadikan perawat lain yang murah senyum pun terkena imbasnya.

Istilah “Perawat Galak” pun tidak terelakkan sering disebut-sebut dalam obrolan pasien. Sewaktu admin senyumperawat.com praktik DIII, di sebuah RS milik negara dalam suatu propinsi, kami pernah pula menjadi korban galaknya perawat. Di suatu malam pula, admin pernah mendapati keluarga pasien sempat kena marah karena membangunkan perawat senior yang sedang tidur. Entah memang ada dalam SOP atau tidak terkait perawat jam tidur perawat ketika jaga malam. Padahal sebenarnya bisa saja dihadapi dengan bahasa yang lebih santun dan senyum perawat yang menyeringai.

Hal yang mendasari terjadinya asumsi buruk terhadap petugas medis adalah karena banyak faktor. Bisa saja karena faktor kelelahan, respon pasien atau keluarga yang terlebih dahulu menyulut masalah atau faktor lain. Setiap orang pasti punya alasan tersendiri namun alasan yang sangat mendasar dari hal ini adalah kurangnya ilmu agama yang membentengi petugas medis dari sifat-sifat buruk.

Jika boleh jujur, kampus-kampus negeri yang mencetuskan petugas medis tersebut, amatlah tidak memperhatikan betapa pentingnya aspek religius dalam pemberian pelayanan kesehatan. Kurikulum pemerintah yang hanya menyematkan mata kuliah agama pada semester pertama dan berdurasi 2 jam tiap pekan itu, menghasilkan karakter yang kurang beradab. Dalam sebuah pengajian rutin di Masjid Jogokariyan Yogyakarta, Dr. Adian Husaini mengomentari hal ini dengan menyinggung masalah adab.

Di sebuah kampus swasta yang juga mencetak calon-calon petugas kesehatan di Yogyakarta, tampak dengan jelas bagaimana para mahasiswanya kurang memiliki kontrol dalam dirinya untuk bersikap sebagaimana seorang intelektual. Mulai dari tertawa terbahak-bahak atau teriak-teriak di koridor kampus. Bahkan pernah admin dapati pula ketika adzan berkumandang pun masih ada yang asyik bercanda hingga ada yang menegur, “Kalian muslim? jika muslim segera sholat saat mendengar adzan, jika bukan maka mohon jangan berisik”.

Benar sekali jika para sahabat Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa sallam merasa sangat nyaman ketika berada di dekat Rosulullaah. Mereka senantiasa merindukan senyum beliau, nasihat-nasihat beliau dan tentunya wajah beliau yang selalu berseri-seri. Inilah akhlaq seorang perawat yang semestinya. Tidaklah ada yang patut untuk ditiru sehingga sebutan “Perawat Judes” itu hilang melainkan hanya dengan mendalami Islam dan meniru akhlaq Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa sallam dan para sahabat. (Destur/Senyumperawat.com)

Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.