Penjelasan Tentang Siklus Agresi Perilaku Kekerasan

Perilaku kekerasan sebagaimana dijelaskan sebelumnya, merupakan salah satu masalah kejiwaan yang cukup memerlukan penanganan segera. Jika pasien dibiarkan dalam gangguan perilaku kekerasan, maka dapat berakibat fatal. Dalam upaya perawatan klien dengan perilaku kekerasan ini, diperlukan wawasan yang memadai tentang siklus agresi. Siklus agresi adalah siklus perjalanan terjadinya agresi yang terdiri dari 6 fase. Siklus agresi memiliki durasi waktu dan karakter yang berbeda pada tiap fasenya.
Keenam fase siklus agresi ini diklasifikasikan oleh Bowie (1996, Cit Queensland Health 2013). Ada pun enam fase tersebut diantaranya:

  1. Triggering incidents
  2. Escalation phase
  3. Crisis point
  4. Setting phase
  5. Post crissis depression
  6. Return to normal functioning

Triggering ditandai dengan adanya pemicu sehingga muncul agresi. Pemicu yang biasa muncul berupa provokasi, respon terhadap kegagalan, komunikasi yang buruk, situasi yang menyebabkan frustasi dan lain sebagainya.
Bagan Siklus Agresi Perilaku Kekerasan
Escalation phase merupakan fase dimana suasana hati klien mulai semakin tidak karuan. Kemarahan klien meningkat dan tujuan utama petugas kesehatan pada fase ini adalah untuk menurunkan kemarahan dan kecemasan klien. Diagnosis Nanda untuk fase ini adalah risk for other violence (resiko terjadinya tindak kekerasan yang lainnya). Klien dengan gangguan psikiatrik memiliki pemicu dari perilaku agresif yang lebih variatif seperti halusinasi dan lain sebagainya.

Crisis poin terjadi jika penanganan fase 1 dan 2 gagal. Diagnosis dalam Nanda tidak dijelaskan secara rinci untuk fase ini namun ICNP menjelaskan satu diagnosis berupa violence (kekerasan) atau Aggressive behaviour actual (perilaku agresif aktual). Terkadang untuk mengurangi kerusakan, penggunaan restraint sangat diperlukan. 
Setting phase adalah fase klien telah melepaskan energi marahnya. Pada saat ini, klien masih memiliki potensi untuk kembali mengulangi fase 3. Pada fase ini, restraint boleh dilepas. Diagnosis berdasarkan Nanda 2007 disebutkan risk for other directed violence (resiko terjadinya kekerasan lain)
Post crisis depression merupakan fase dimana klien mengalami kecemasan, depresi dan berfokus pada kemarahan dan kelelahan. Diagnosis Nanda 2007 yang muncul adalah knowledge deficit (kurang pengetahuan).
Return to normal functioning, klien telah kembali pada keseimbangan normal. Pasien sudah mulai tenang dan cukup baik untuk melatih kemampuan kognitif, fisik dan emosi. (Destur/Senyum Perawat)

Source: Panduan praktikum keperawatan jiwa 2, PSIK Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta
Tags

Destur Purnama Jati

Seorang penulis blog dan juga Youtube creator. Selain itu juga berkiprah di dunia EO (Event Organizer) terutama dibidang kesehatan. Terkadang juga mengisi pelatihan seputar PPGD dan sejenisnya.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker