Penggolongan Obat-Obat Antimikotika

0
Senyumperawat.com – Obat antimikotika adalah obat yang digunakan untuk mengobati infekis jamur. Jamur merupakan tumbuhan yang tidak berklorofil sehingga tidak mampu berfotosintesis. Karena hal ini, jamur dapat hidup hanya dengan memposisikan dirinya sebagai parasit pada organisme hidup lain atau sebagai saprofit pada benda organis mati. Jamur yang dikenal secara umum adalah yang berbentuk payung atau sejenisnya, namun dalam kasus penyakit, bentuk jamurnya adalah seperti benang-benang halus (hyphen). Hyphen terdiri dari rangkaian sel-sel yang kemudian membentuk suatu jaringan yang disebut mycellium

Jamur-jamur yang berperan sebagai penyakit ini tentunya harus ditangani dengan tindakan pengobatan. Secara medis, terdapat beberapa penggolongan obat anti jamur atau antimikotika. Ada pun klasifikasi tersebut diantaranya:
1. Antibiotika (Griseofulvin) dan Antibiotika polyen (amfoterisin B, nistatin dan natamisin)
Pada umumnya obat jenis ini bekerja secara fungistatis. Mekanisme kerjanya adalah melalui pengikatan diri pada ergosterol yang mutlak dibutuhkan jamur untuk pembentukan dinding selnya. Akibatnya adalah kerusakan membran sel dan peningkatan permeabilitasnya sehinga komponen intraseluler yang penting untuk kehidupan sel merembes keluar. Akhirnya sel-sel tersebut akan mati.
2. Derivat imidazol.
Obat-obat yang tergolong dalam jenis ini diantaranya adalah mikonazol, ketokonazol, klotrimazol, bifonazol, ekonazol, isokonazol dan tiokonazol (trosyd). Mekanisme kerjanya berdasarkan pengikatan pada enzim sitokrom P450, sehingga sintesis ergosterol dihalangi dan terjadi kerusakan membran sel. Pada penggunaan sistemis, enzim manusia juga dapat dihalangi. Bekerja fungistatis dan bakteriostatis namun lemah terhadap kuman gram positif. Obat jenis derivat imidazol ini digunakan sebagai obat lokal kecuali ketokonazol yang dapat digunakan secara sistemis.
3. Derivat triazol
Obat yang tergolong jenis ini adalah flukanazol, itrakonazol dan terkonazol (gyno terazol). Pada umumnya obat ini bekerja fungistatis dengan mekanisme kerja seperti imidazol namun bersfat selektif bagi sistem enzim jamur manusia. Hal ini mengakitbatkan obat ini kurang menghambat sintesis steroida. Obat ini bekerja terhadap Dermatofit dan Candida. Itrakonazol dapat digunakan pula untuk jamur jenis Aspergillus. Flukonazol dan itrakonazol digunakan khusus secara sistemik. Terkonazol digunakan khusus secara vaginal.
4. Asam-asam organik
Obat yang tergolong jenis ini adalah asam benzoat, salisilat, propionat, kaprilat dan undesilinat.
5. Golongan lainnya
Terbinafin, tolnaftat, haloprogin, naftifin, sikopiroks, selensulfida dan piriton.
(Destur/eSPer)
Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.