Muslimedianews Gunakan Ulil Abshor Sebagai Contoh Murottal Jawa

0
Muslimedianews Gunakan Ulil Abshor Sebagai Contoh Murottal Jawa

Senyumperawat.com – Baru-baru ini media website dan media jejaring sosial cukup dihebohkan dengan munculnya video murottal dalam logat sya’ir Jawa. Video tersebut cukup heboh karena menggunakan nada yang tidak biasanya didengarkan oleh masyarakat luas. Model lagu seperti itu pun mendatangkan berbagai macam komentar. Ada yang berkomentar suka dan ada pula yang berkomentar tidak suka. Terkait persoalan suka atau tidak suka maka dikembalikan kepada selera telinga dan hati masing-masing. Namun erat kaitannya dengan nada seperti itu adalah dibenarkan atau tidak jika dipandang dari segi syari’at. Hal ini perlu pengakajian secara terperinci berdasarkan Al Quran dan Sunnah sesuai pemahaman salafush sholih agar tidak salah dalam memahami dalil.

Terlepas dari benar atau tidaknya tindakan tersebut, maka sikap kita sebagai seorang muslim adalah mengembalikan urusan ini kepada sumber utama umat Islam dalam beramal. Al Quran dan Sunnah menjadi rujukan dasar bagaimana cara melantunkan Al Quran itu dengan baik. Sebagaimana kita ketahui, sebagai orang muslim yang baik tentu kita memiliki panutan dalam beribadah yakni Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa sallam dan para sahabat. Pertanyaan mendasarnya adalah bukankah kita dituntut untuk mengikuti mereka? Jika kita menjawab dengan jawaban “ya” maka timbul pertanyaan susulan yaitu, apakah Rosulullaah dan para sahabat menggunakan lagam jawa untuk melantunkan ayat-ayat Al Quran?, silakan dijawab masing-masing.

Firman Allah:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِي

Tunjukilah kami ke jalan yang lurus. [Al-Fatihah : 6]

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضَّآلِّينَ

Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat atas mereka.[Al-Fatihah : 7]

“Maka setiap orang yang lebih mengenal al-haq serta lebih mengikutinya, berarti dialah yang lebih berhak mendapatkan jalan yang lurus. Dan tidak ragu lagi bahwa sahabat-sahabat Rasulullah Radhiyallahu ‘anhum yang paling berhak dengan status ini daripada kaum Rafidhah. Oleh karena itu Salaf menafsirkan ash-shirath al-mustaqim (jalan yang lurus) dan orang-orang yang berjalan di atasnya dengan Abu Bakar, ‘Umar, dan sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Madarijus Salikin (1/72-73))

Allah Ta’ala berfirman:

وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

Orang-orang terdahulu lagi pertama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah…[At-Taubah : 100] [6]

Jelas sekali bahwasanya kita harus mengikuti pola Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa sallam dan para sahabat untuk beribadah. Termasuk ibadah pula adalah dengan membaca Al Quran. Setiap hurufnya dihitung satu pahala dan bahkan dikalikan dengan 10 kali lipat atau mungkin saja lebih.

Anehnya adalah dalam sebuah tulisan dalam website Muslimedinews.com, Ulil Abshar Abdallah seolah menjadi trend center thilawah Al Quran dengan lagam jawa yang disebut oleh Ulil sebagai “Murattal Jawa”. Sedikit kejanggalan dimulai sejak awal paragraf tulisan tersebut yang menyebutkan bahwa Ulil adalah mantan JIL namun faktanya Ulil masih aktif sebagai aktivis JIL, terbukti dengan tulisannya terbaru dalam website Islamlib.com. (https://www.muslimedianews.com/2014/08/murattal-al-quran-versi-jawa-ala-gus.html)

Tidak hanya itu, dalam website tersebut pula, disediakan link Youtube lantunan ayat Al Quran versi Ulil. Padahal Al Quran itu selama ini bagi Ulil hanyalah tulisan biasa yang tidak sakral.

Dalam sebuah tulisannya, Ustadz Idrus Ramli, yang juga merupakan ustadz yang tulisan dan ucapannya sering dikutip oleh website Muslimedianews menyatakan,”Yang menonjol dari seorang Ulil dan teman-teman kalangan Islam liberal yang lain sebenarnya pada predikat seorang pejuang “hak asasi manusia”, tidak lebih dari itu. Hal ini sangat terlihat dengan jelas dari pemikiran-pemikiran yang dilontarkannya yang terkadang “nabrak” al-qur’an, hadits dan pandangan mayoritas ulama, ketika mereka beranggapan ada kepentingan yang “lebih tinggi” yang diabaikan, yaitu Hak Asasi Manusi (HAM).”. (https://www.idrusramli.com/2013/kritik-terhadap-pemikiran-ulil-abshar-abdallah-bagian-ke-satu/)

“Pandangan Ulil tentang : pembenaran terhadap agama-agama yang lain selain Islam ; tidak mengakui bahwa Islam adalah agama yang berfungsi sebagai agama pembatal (nasikh) terhadap agama-agama sebelumnya ; tidak sepakat terminology “kafir” disandangkan kepada kelompok non muslim; tidak mengakui adanya wacana “dar al-islam dan dar al-harbi”; Ahmadiyah masih dianggap sebagai “komunitas muslim” jarang sekali didasarkan pada argumentasi yang diakui oleh kaum muslimin, atau kalangan nahdliyin. Kalaupun menampilkan ayat al-qur’an sebagai argumentasi, biasanya hanya dipotong untuk mendukung pandangan pribadinya. Berikut ini beberapa pandangan kontroversial Ulil yang banyak ditolak karena tidak didasarkan pada dalil dan argumentasi yang kuat.”

Apakah orang sekelas itu patut dijadikan sebagai contoh. Kemudian kenapa Muslimedianews mengangkat Ulil sebagai salah satu objek yang seolah disahkan untuk ditiru dalam perilaku beribadah khususnya membaca Al Quran. (Destur/Senyumperawat.com)

Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.