Mereka Tak Disebut Teroris, Padahal…

0

Apa yang ada di benak Anda saat mendengar kata “teroris”? Banyak orang yang mengartikan teroris tak jauh-jauh dari definisi pelaku tindakan kriminal, kekerasan, perusak kenyamanan, ketenangan, dan ketentraman. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia teroris adalah pelaku tindak kekerasan yang menimbulkan rasa takut dan tidak aman di kalangan masyarakat. Istilah terorisme sudah lama muncul sejak masa Revolusi Perancis (1789-1794).

Makna teroris kala itu pun dikait-kaitkan dengan revolusi dan pembentukan sebuah masyarakat baru yang lebih baik. Namun, dewasa ini makna teroris memiliki konotasi negatif bahkan yang berkembang dalam pandangan masyarakat dewasa ini, teroris sering kali dikaitkan dengan suatu kelompok ajaran/agama tertentu, yaitu Islam. Penyempitan makna teroris yang selalu dikaitkan dengan kelompok agama Islam yang telah salah dipahami oleh masyarakat luas saat ini, tak lepas dari peran media barat yang “mencekoki” masyarakat dunia dengan definisi yang sempit ini. Istilah “teroris” dan “terorisme” yang disempitkan defisininya disuarakan oleh Presiden Amerika Serikat Bush pasca terjadi penyerangan di gedung WTC pada 11 September belasan tahun silam. Setelah kejadian itu, anggapan teroris tak luput dari nama Islam. Seolah-olah, label teroris sudah paten untuk kaum muslim, bukan kelompok agama lain. Tentu hal ini sangat miris.

Islam menjadi tersudutkan. Tentu ini tak adil. Jika kita mau mengembalikan defisini teroris yang sesungguhnya bahwa teroris adalah pelaku teror dengan tindak kekerasan dan mengganggu keamanan masyarakat, maka label teroris tak hanya dilekatkan khusus pada kaum muslimin. Siapapun yang melakukan tindakan teror dan mengganggu keamanan maka layak disebut teroris.

Misalnya, yang baru-baru saja menjadi hot news akhir-akhir ini. Kekejaman biksu dan masyarakat Budha Myanmar yang melakukan tindak kekerasan bahkan mengusir kelompok ras Muslim Rohingya untuk meninggalkan tanah kelahiran mereka. Namun, mereka tidak disebut teroris. Jika kita mau jujur dan mengacu pada definisi teroris yang sesungguhnya, maka biksu-biksu Budha itu adalah teroris. Lagi, Amerika yang telah banyak mencampuri urusan negara-negara dan membuat kekacauan, misalnya AS turut ikut campur dalam konflik Korea hingga Kore terbagi menjadi dua negara pada tahun 1950-1953. AS melakukan intervensi di Lebanon pada tahun 1958 dan 1982. Menghancurkan dengan mengebom kota-kota serta masih melakukan intervensi hingga sekarang. AS membombardir Afghanistan pada tahun 1998. AS menyempurnakan penghancuran Irak dengan ikut dalam persekutuan poros kejahatan yang diwakili aliansi, negara sekutu baik Zionis maupun Protestan pada tahun 2003, dan masih banyak lagi keterlibatan AS yang layak disebut teroris.

Lagi, penindasan kaum muslimin Palestina oleh Israel. Siapa yang berani menyebut mereka (Israel) sebagai teroris? Sekali lagi, jika kita mau jujur, mereka adalah teroris. Namun, hanya karena mereka bukan muslim, tak berjenggot, tak bercelana cingkrang, dan tak meneriakkan “Allahu Akbar”, lantas mereka tak disebut teroris. Maka, definisi yang salah kaprah dan sangat sempit apabila yang berhak dilabeli dengan kata “teroris” adalah kaum muslimin. Islam bukan teroris.

 

Penulis: Mia-soltief
Editor: Khothob

Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.