Khutbah Jumat Itu Harus Bikin Makmumnya Semangat

Khutbah Jumat Itu Harus Bikin Makmumnya Semangat

Senyumperawat.com – Sholat Jum’at adalah sebuah kewajiban bagi pria muslim. Tak usah ditawar-tawar untuk beramal, cukup dengan dengan mengikuti sunnah Rosul, ikhlas dan tentunya istiqomah. Dalam rangkaian sholat Jum’at, diawali dengan khotbah sebelum melaksanakan sholat 2 roka’at. Mirisnya, tidak semua khotib menguasai cara beretorikan di depan publik. Dalam arti, pemilihan kalimat dan intonasi akan menentukan sikap dan perilaku audiens terhadap pembicara. Jika pemilihan katanya justru menjadi pengantar tidur, maka makmum pun akan sangat mudah tertidur karena seolah mendengar dongeng dari khotib.

Setidaknya dalam kita mengahadapi seseorang, ada yang namanya teknik komunikasi. Ketika yang dihadapi adalah masyarakat luas dengan berbagai karakter maka ada yang namanya ilmu public speaking. Berbagai macam hal ini harus dikuasi oleh muballigh agar senantiasa substansi yang disampaikan dapat dicerna oleh pendengar, bukan justru ditinggal tidur.

Muat Lebih

Perihal khotbah, tentunya sudah lazim kita sadari kondisi jama’ah amatlah kelelahan. Dihari yang semestinya kaum muslimin libur namun justru akibat kekuasaan adidaya kaum kuffar menjadikan hari itu melelahkan. Kondisi lelah tersebut dikaitkan dengan suasana terik pada hampir setiap Jum’at adalah momen tepat untuk beristirahat. Istirahat dalam arti sekedar melepas lelah bukanlah persoalan namun ketika waktu yang semestinya serius tapi santai dalam mendengarkan khotbah, justru dijadikan momen untuk pulas.

Pemain kunci dalam menghadapi suasana seperti ini, dipegang oleh sang khotib. Beberapa metode dakwah yang bisa dikolaborasikan untuk membentuk sebuah karakter baru dalam diri kita adalah kunci yang ampuh. Karakter yang kuat pada diri kita dengan berbagai logat dan pemilihan diksi serta kecerdasarn kinestetik merupakan serangkaian media untuk mengirimkan pesan Robbani kepada jama’ah.

Intonasi, hendaknya kita memahami kapan suara kita harus lantang dan kapan harus lembut. Cukup miris jika seorang khotib berkhotbah namun hanya membaca teks yang ada didepannya. Bahayanya adalah akibat dari tingkat fokus sang khotib pada teks yang dibacanya hingga akhirnya jama’ah sudah pulang pun tidak sadar. Tidak sedikit pula yang tidak memahami isi dari apa yang disampaikan karena minimnya materi dalam memori sehingga hanya sekedar membaca dan tidak menjiwai.

Tatapan mata, tidak jarang masih ada khotib yang sama sekali tidak melihat jama’ah. Ia fokus pada makalah yang dibaca. Tidak hanya itu, pandangannya pun terkadang kabur. Bukan melihat jama’ah namun justru melihat dinding, atap atau motor yang diparkir di luar. Padahal justru dengan menatap jama’ah, pola interaksi berupa kontak mata termasuk dalam sebuah rangkaian bina hubungan saling percaya, begitu bahasa asuhan keperawatan. 

Gerak tubuh, penggunaan gerakan-gerakan tubuh berupa tangan akan dapat memberikan nuansa semangat. Tidak banyak khotib yang memahami trik ini karena kedua tangannya beralasan sedang memegang buku panduan khutbah jum’at.

Ekspresi wajah, hendaknya ekspresi mengantuk tidaklah hadir dalam khotbah Jum’at. Jika khotib memasang wajah seorang yang mengantuk maka bahasa yang diucapkan pun akan bernuansa loyo, tidak bergairah. Ekspresi penuh semangat dan didukung dengan beberapa poin di atas, akan memberikan energi yang hebat. Energi ini akan menular kepada jama’ah dan membuat jama’ah pun fokus dan tidak mengantuk.

Pada dasarnya karakter orang berbeda-beda namun karakter sebagai seorang speaker adalah mutlak harus dimiliki oleh seorang penceramah. Metode dakwah akan menentukan capaian dakwah. (Destur/Senyumperawat.com)

Pos terkait