Inilah Seni Menikmati Sakit

0
Inilah Seni Menikmati Sakit

Senyumperawat.com – Kita sebagai manusia semestinya selalu ingat, bahwa dunia ini adalah wahana ujian dari Allah. Allah menguji hamba-hamba-Nya dalam kondisi apa pun, baik susah atau senang, kaya atau miskin, sehat atau sakit. Setiap kondisi tersebut, masing-masing hamba akan menyikapi dengan cara yang berbeda. Dua orang yang sama-sama sedang diuji Alloh dengan kesakitan, akan berbeda nilainya di hadapan Alloh tergantung bagaimana menyikapi ujian (sakit) tersebut. Sebagai seorang muslim, tentu harus mencetak nilai lebih di hadapan Alloh ketika diuji dengan sakit. Sakit yang melanda bukan alasan untuk tidak mendulang pahala. Bagaimana menikmati dan menyikapi ujian sakit agar sakit tak datang sia-sia?

1. Ridho dan sabar

Inilah ciri mu’min sejati. Uniknya seorang mukmin terletak di sini. Dalam keadaan apa pun ia akan sabar dan ridho dengan segala ketentuan Alloh, apa pun bentuknya. Ia percaya bahwa segala sesuatu yang menimpanya hanya karena kehendak Allah saja. Dalam firmannya, Allah menyuruh kita bersabar terhadap segala sesuatu yang menimpa kita,

“… dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, ORANG-ORANG YANG SABAR TERHADAP APA YANG MENIMPA MEREKA, orang-orang yang mendirikan shalat dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka.” (Q.S Al-Hajj (22): 34-35).

Dalam ayat lain, Allah berfirman,

“… dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.” (Q.S Al-Baqarah (2): 155-156).

Jika setiap musibah termasuk sakit dihadapi dengan ridha dan sabar, maka Allah akan melebur dosa dan kesalahannya. Sebagaimana sabda Nabi,

“Tidak ada musibah yang menimpa seorang muslim kecuali Allah akan menghapus dosanya sampai-sampai duri yang mengenainya.” (H.R Bukhari dan Muslim)

2. [Tetap] Husnudzon kepada Allah

Ketika sakit melanda, seorang muslim hendaknya selalu berbaik sangka kepada Allah dan tidak berputus asa untuk senantiasa mengharap pertolongan Allah. Tentu kita sebagai muslim tahu betul bahwa Allah tergantung persangkaan kita (hamba-Nya).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah rodhiyallaahu ‘anhu. Ia berkata Nabi shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda: Allah berfirman: “Aku tergantung ‘pada persangkaan hamba-Ku”. (H.R Bukhari)

Tiga hari sebelum wafatnya Nabi shollallaahu ‘alayhi wa sallam, shabahat Jabir rodhiyallaahu ‘anhu mendengar beliau shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Janganlah sekali-kali salah seorang kalian meninggal kecuali ia berbaik sangka kepada Allah Subhaanahu wa ta’aala.” (H.R Muslim dan Abu Dawud)

3. Mengucapkan perkataan baik

Perkataan yang baik akan menimbulkan perasaan optimis. Optimisme akan membuat sistem kekebalan tubuh menjadi lebih kuat. Sebuah hasil penelitian menyebutkan bahwa seseorang yang lebih optimis memiliki sistem daya tahan tubuh yang lebih baik. Tahukah kita? Ketika berkata sesuatu itu sama dengan berkata dengan diri kita sendiri. Perkataan kita akan mensugesti diri kita sendiri. Sel-sel di dalam tubuh kita akan bekerja mengarah seperti apa yang ada di dalam pikiran kita. “Your words make you”, begitu kira-kira istilahnya.

Meskipun sakit, mulut seorang mukmin selalu terjaga dari perkataan-perkataan yang hina seperti melaknat hidup kita sendiri, yang merupakan pemberian Allah ‘Azza wa Jalla. Salah satu yang kurang disukai Allah adalah mengeluh yang berlebihan sehingga mengeluarkan suara karena kesakitannya. Namun, apabila sudah tidak tahan sehingga terpaksa mengeluarkan suara, hendaknya menghindari ucapan-ucapan yang tidak berguna dan mengucapkan perkataan yang dapat mengingatkan pada Allah, seperti Subhaanallaahi (Maha Suci Allah), Astaghfirullaah (Aku mohon ampun kepada Allah), Allaahu Akbar (Allah Maha Besar), dll.

4. [Tetap] Ceria

Suasana hati yang ceria dan perasaan bahagia dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Orang yang bahagia lebih baik dalam memproduksi hormon oksitosin yang dapat merangsang sistem kekebalan tubuh. Sebaliknya, apabila sering mengalami stress maka tubuh akan lebih banyak memproduksi hormon kortisol yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Ceria merupakan suasana yang berseberangan dengan stres. Jika stres dapat menurunkan sistem kekebalan yang membuat orang sakit semakin lemah tubuhnya, maka logikanya, keceriaan akan menaikkan/memperbaiki sistem kekebalan yang membantu memulihkan tubuh saat sakit. Inilah hikmah mengapa ketika ada saudara kita yang sakit, maka kita dituntunkan untuk menjenguknya. Saudara kita yang sakit akan merasa terhibur dan terlupakan sejenak rasa sakit yang dideritanya. Bentuk perhatian yang sampai pada si sakit akan memotivasi si sakit untuk segera sembuh.

Muslim itu spesial dan menakjubkan karena sikapnya menghadapi setiap kondisi. Maka jadilah hamba yang menakjubkan meski sakit menggantikan sehatmu.

“Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya”. (HR. Muslim)

Wallahu a’lam.

Penulis: Mia-soltief
Blog: https://minukkusmia.blogspot.com
Editor: Destur Khothob

Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.