Dewasa Itu Ketika Salah Maka Mengakui Lalu Berubah

0
Dewasa Itu Ketika Salah Maka Mengakui Lalu Berubah

Senyumperawat.com – Sikap dewasa erat kaitannya dengan ilmu. Semakin orang berilmu maka semakin ia bisa menerapkan sikap yang bijak pada tempatnya. Namun ilmu tidak akan bisa dikendalikan jika hati tidak dimainkan sebagai kontrol. Fakta yang cukup bisa kita lihat di permukaan bumi ini. Ada orang yang secara keilmuan telah mencapai jenjang pendidikan sarjana bahkan doktoral namun karena hati tidak dimainkan sesuai kaidah yang baik maka yang hadir adalah sosok yang benar-benar sulit untuk diberikan arahan mana yang benar dan mana yang perlu diperbaiki.

Terkait permasalahan ini, latar belakang yang menjadi batu loncatan tergelitik membahas masalah ini adalah sikap salah satu penulis ternama di Indonesia yang terlihat kurang dewasa. Sebuah hal yang patut dikoreksi ketika sikapnya terhadap seorang tokoh pemeluk agama yang memusuhi agamanya. Mati-matian ia membela hingga membuat statement resmi. Bahkan lebih mengejutkan ia mengatakan bahwa ia mencintai tokoh pemeluk agama Syi’ah tersebut.

Sebagai pengingat adalah hadits Rosuulullaah shollallaahu ‘alayhi wa sallam,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ « وَمَا أَعْدَدْتَ لِلسَّاعَةِ ». قَالَ حُبَّ اللَّهِ وَرَسُولِهِ قَالَ « فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ ». قَالَ أَنَسٌ فَمَا فَرِحْنَا بَعْدَ الإِسْلاَمِ فَرَحًا أَشَدَّ مِنْ قَوْلِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- « فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ ». قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِأَعْمَالِهِمْ.
Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita: “Pernah seorang lelaki datang menenmui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu dia bertanya: “Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?”, beliau bersabda: “Apa yang kamu telah siapkan untuk hari kiamat”, orang tersebut menjawab: “Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya”, beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai”, Anas berkata: “Kami tidak pernah gembira setelah masuk Islam lebih gembira disebabkan sabda nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam “Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai, maka aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar dan Umar, dan berharap aku bersama mereka meskipun aku tidak beramal seperti amalan mereka.” HR. Muslim.

Jika kita memahami betapa pengaruhnya amat besar bahwa mencintai berarti konsekuensinya adalah sikap loyal (wala’). Agama Syi’ah adalah agama yang baru. Mereka bukanlah Islam. Oleh karenanya mencintai Syi’ah berarti mencintai orang yang berada pada kubu di luar Islam. Terlebih Syi’ah begitu memusuhi Islam dengan berbagai fakta pembantaian kaum muslimin di negeri Suriah dan Yaman.

Setelah kejadian film yang dikelola oleh salah satu media Syi’ah Indonesia tersebut, kini ada lagi kisah yang menggambarkan bahwa arogansi penulis ternama ini begitu kuat. Tatkala salah satu bukunya kembali diterbitkan dalam bentuk film, terdapat satu aspek krusial yang menjadikan hal itu bahan kritikan.

Dalam film terbaru itu, terdapat skandal yang nyata-nyata membuat fitnah. Gambar yang dibela-bela bukanlah foto pelukan itu adalah sebuah pembelaan terhadap sebuah hal yang jelas sengaja membuat suatu yang salah seolah dibenarkan dengan dalih hasil editing gambar. Cukup menggelitik memang jika seumpama si penulis disodorkan gambar suaminya yang diedit serupa dengan foto itu. Mungkin akan dikatakan,”Ya, itukan hanya hasil editan”, dan kemudian ia tidak marah terhadap orang melakukan editing itu. Sebuah kerusakan akan timbul jika rasa cemburu itu tak lagi ada.

Mirisnya ketika ia dinasihati oleh beberapa kalangan untuk merubah tampilan cover film itu, ia justru menganggap nasihat itu sebagai bentuk permusuhan. Bentuk pandangan kasih sayang yang dianggap permusuhan ini ditulisnya langsung dalam sebuah media nasional dengan judul “‘Fikih’ Permusuhan”.

“Muhammad adalah Rasul Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir dan bersikap kasih sayang serta belas kasihan sesama mereka.” (QS al-Fath: 29).

Ayat tersebut dijadikan sebagai senjata untuk menyatakan bahwa orang yang menasihatinya adalah bentuk permusuhan. Bentuk protes dari saudaranya sesama muslim pun dianggap sebagai bentuk perlawanan namun agen Syi’ah yang jelas-jelas paham Syi’ah itu memusuhi Islam dengan nyata disematkan dalam hati sebagai orang yang dicintai.

Sikap dewasa Rosulullaah dalam membedakan antara Muslim dan kafir tercermin pada akhlaq beliau. Beliau tidaklah segan meminta pendapat dari para sahabatnya. Beliau tidak segan menerima pendapat sahabatnya tatkala perang untuk menyusun strategi, bahkan sahabat yang secara kedudukan tidaklah setara dengan 4 Khulafaur Rosyidin. Inilah bentuk kasih sayang sesama muslim. Ketika nasihat dianggap sebagai permusuhan, bukankah itu sikap congkak? Akan lebih bijak jika tulisan itu (Fikih Permusuhan) diganti dengan sebuah tulisan yang lebih bersahabat. Ku akui kekuranganku dan akan ku nanti selalu nasihat dari para sahabatku ^_^ (Destur/Senyumperawat.com)

Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.