Definisi dan Klasifikasi Vertigo

Senyumperawat.com – Vertigo merupakan gerakan atau rasa gerakan tubuh atau lingkungan dan diikuti dengan gejala dari susunan syaraf otonom dan lainnya sebagai akibat dari gangguan alat keseimbangan tubuh. Gejala yang biasa timbul dari Vertigo adalah rasa tidak nyaman pada kepala. Gejala tidak nyaman tersebut berupa pusing, sempoyongan saat berjalan, muncul keringat dingin, produksi air liur meningkat dan bahkan mual hingga muntah.
Patofisiologi secara mendasar merupakan rumusan bagaimana penyakit tersebut dapat timbul, secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut:
  1. Kelainan anatomis dan fisiologis yang mendasari timbulnya gejala.
  2. Bagaimana kelainan tersebut dapat ditimbulkan oleh berbagai macam penyakit yang merupakan etiologinya.
  3. Mekanisme farmakologis yang dapat mengatasi gejala mau pun etiologinya.
Kelainan anatomis maupun fisiologis dari Vertigo adalah pada alat keseimbangan tubuh sedangkan etiologinya bisa karena faktor internal seperti penyakit organik mau pun psikogenik. Dapat pula karena eksternal seperti Vertigo fisiologis atau mabuk gerakan (Seratfini et al, 1996).

Klasifikasi Vertigo

Vertigo secara garis besar dibagi menjadi Vertigo Fisiologik dan Patologik (Drachman, 2002). Ada pun kedua klasifikasi tersebut dibagi-bagi dalam beberapa klasifikasi vertigo:

a. Vertigo fisiologik

  1. Motion sickness, terjadi jika membaca saat naik kendaraan yang bergerak.
  2. Space sickness, disebabkan oleh weightlessness. Terjadinya gangguan keseimbangan antara canalis semicirculus dan otolith.
  3. Visual vertigo (Optokinetic Motion Sickness), dipicu oleh keadaan visual oleh sebab tidak ada signal dari alat vestibulum atau somatosensoris mengenai suatugerakan.
  4. Auditoric vertigo, suatu kondisi ilusi dimana terdapat suara yang bergerak.
  5. Alternobaric vertigo, ciri khas dari vertigo jenis adalah tertutupnya tuba eustachia. Kondisi ini biasa terjadi saat ISPA. Vertigo rotaroir dapat timbul jika pada kondisi tersebut, mendengar suara bising pada waktu udara masuk ke telinga tengah.

b. Vertigo patologik

1. Vestibulum.
  • Vestibular neuritis, pada kasus ini tidak terjadi gangguan pendengaran. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya rotational vertigo dan nistagmus spontan berlawanan arah dengan sisi gangguan pada vestibulum. Pada pemeriksaan Romberg, penderita jatuh ke arah lesi vestibulum.
  • Viral labyrinthitis. Hampir sama dengan vestibular neuritis namun hampir 50% penderita mengalami gangguan pendengaran.
  • Bacterial labyrinthitis, kebanyakan menimbulkan gangguan pendengaran maupun gangguan pada vestibulum.
  • Ramsay-Hunt syndrome, terjadi gangguan pendengaran mapun vestibulum yang disebabkan oleh herpes zoster oticus. Pada sindrom ini timbul vertigo, gangguan pendengaran, nyeri telinga dan timbul vesikel di meatus acusticus externus.
  • Meniere syndrome, dengan ciri-ciri yaitu terasa penuh di telinga, gangguan pendengaran, tinitus dan serangan vertigo.
  • Post traumatic vertigo, merupakan vertigo yang terjadi setelah cedera kepala atau kadang-kadang setelah terjadi fraktur pada os. Temporal.
  • Benign paroxysmal positional vertigo (BPPV), timbul jika penderita menggerakkan tubuh pada salah satu sisi, sering terjadi pada wanita usia 50-60 tahun.
  • Acustic neurinoma.

2. Reticulum batang otak
3. Tractus posterior
4. Imagination
5. Generalized illness
6. Ophthalmologis
Share

This website uses cookies.