Benarkah Berhubungan Suami Istri Malam Jum’at Adalah Sunnah Rosul?

0
Senyumperawat.com – Tentang jima’ dimalam jum’at, ini sudah sangat populer dikalangan umat Islam hari ini. Seakan telah menjadi pendapat mutawatir akan sunnahnya berjima’ dengan istri di malam jum’at. Bahkan hal ini memiliki suatu keistimewaan khusus dibanding ketika dilakukan di waktu-waktu yang lain.

Padahal tak ada hadits shohih atau bahkan dho’if sekali pun yang menyebutkan secara definitif tentangnya (berhubungan suami istri pada malam jum’at). Yang ada adalah kabar burung yang menyebarkan riwayat,”Barangsiapa melakukan hubungan suami istri dimalam jumat (kamis malam) maka pahalanya sama dengan membunuh 100 yahudi”. Ada lagi yang menyamakan dengan pahala jihad fy sabylillaah.

Dalam kitab hadits mana pun kita tak akan menemukan riwayat tersebut dan sekarnag tidak sulit untuk mengecek keabsahan suatu riwayat karena telah banyak software-sofware yang bisa digunakan. Namun riwayat di atas tak akan anda dapatkan di sana.

Riwayat shohih yang ada sedikit keterkaitan dengan masalah ini adalah riwayat dari Aus bin Abi Aus rodhiyallaahu ‘anhu, bahwa Nabi shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda,”Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at dan memandikan, ia berangkat pagi-pagi dan mendapatkan awal khotbah, ia berjalan dan tidak berkendaraan, ia mendekat ke imam, diam serta berkonsentrasi mendengarkan khotbah, maka setiap langkah kakinya dinilai sebagaimana pahala amalnya sehatun”. (HR. Tirmidzi, Ahmad, An Nasa-i, dan Ibnu Majah; hadits ini dinilai shohih oleh syaikh Al Albani)

Makna ightasala adalah mandi, sedangkan ghossala ada dua versi cara membaca dan maknanya. Ibnul Mubarok rohiimahullaah menyebutkan bahwa hadits tersebut dibaca ghosala, maksudnya membasuh kepala. Al Waki’ membacanya dengan ghossala yang artinya memandikan, yakni memandikan istri. Sedangkan istilah memandikan istri merupakan kiasan dari jima’ (bersetubuh), karena ketika seorang suami mengumpuli istinya berarti menjadikan istrinya harus mandi. Hal ini dijelaskan dalam Aunul Ma’bud, Syarah Sunan Abu Dawud.

Jika pun kita menganggap pendapat ini adalah pendapat yang kuat maka anjuran melakukan jima’ di hari Jum’at mestinya dilakukan di pagi hari sebelum berangkat sholat Jum’at di siang hari, bukan dimalam Jum’at.

Bukan berarti ada larangan untuk melakukan jima’ dengan istri dimalam Jum’at. Pembahasan ini hanya menunjukkan bahwa tidak ada fadhilah khusus melakukannya dimalam Jum’at dan kedudukannya sama dengan malam-malam yang lain.

Source: Abu Umar Abdillah, Majalah Ar Risalah, ed. 145, Hal. 34-35
Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.