Suaraku Terlalu Indah Untuk Sekedar Bernyanyi

0
Malam ini saya kembali diingatkan dengan ajang konten menyanyi. Salah ajang pencarian bakat menyanyi yang cukup subur adalah di RCTI. Sebelumnya ada Indonesian Idol yang cukup menyita banyak perhatian hingga dapat terselenggara beberapa kali. Kini muncul ajang pencarian bakat serupa bernama X Factor.
Tidak kalah terkenal daripada kedua ajang serupa yakni AFI (Akademi Fantasi Indosiar) yang juga dulu sempat mewarnai layar Indosiar tiap malam minggu. Namun kini AFI sudah terhenti dan berganti dengan ajang pencarian bakat pedangdut.
Sekian banyak ajang pencarian bakat menyanyi yang menghasilkan para penyanyi kelas nasional mau pun internasional. Suara terbagus dan terunik dengan kemampuan mengolah tap bait nada dan intonasi merupakan modal awal untuk dapat mengikuti ajang ini.
Cukuplah itu sebagai pelajaran bagi kaum Muslimin. Miris memang ketika kaum Muslimin menghabiskan masa-masa emas suaranya disaat usianya muda hanya untuk melantunkan nyanyian. Bukan bermaksud tidak menghargai upayanya, memang benar suaranya bagus dan sangat berkarakter. Namun semua itu tidaklah akan menghadirkan peningkatan iman karena sejatinya nyanyian itu bukan konsumsi yang tepat bagi hati. 
Terkadang memang menyanyi itu menjadi pelampiasan hati yang sedang meradang. Banyak lagu yang tentunya tiap orang memiliki favoritnya. Ketika kita semakin rajin menyanyikan lagu maka kita akan cukup kesulitan untuk memaknai apa yang semestinya diresapi isinya daripada sekedar nyanyian.
Al Quran menuntut kita untuk serius dalam mempelajarinya sebagai seorang Muslim. Cukup sia-sia jika suara kita yang indah hanya diikutkan untuk perlombaan saja namun kering dari penghayatan saat membaca Al Quran. Cukup sulit memang menjauh dari musik terlebih keseharian kita lekat dengannya. Namun ketika kita sudah terbiasa dengan lisan yang basah dengan lafal Al Quran maka justru sebaliknya. Ketika kita sudah merutinkan diri membaca Al Quran minimal 1 juz tentunya dengan terjemahnya maka kesempatan kita untuk menikmati musik akan terkurangi. Memang sesekali mungkin akan kembali terngiang lantunan musik itu dari lisan namun itu tak akan berlangsung lama. Beberapa lagu yang kita dengar cukup untuk membuat kita jenuh untuk melanjutkannya dan secara otomatis akan berganti dengan thilawah Al Quran. Bukan sulap dan bukan sihir, inilah keistimewaan Al Quran. Ketika Al Quran itu kita jauhi maka kita pun akan kesulitan untuk memaknainya namun ketika kita sudah mulai jatuh cinta padanya maka sebanyak apa pun lagu yang kita hafal, perlahan justru hati kita merasa jenuh untuk melantunkannya. (Destur/eSPer)

Tinggalkan Komentar